.

Selasa, 24 Maret 2015

Selagi Belum Tutup Usia

ADA ratusan uacapan selamat ulang tahun yang saya terima, baik melalui inbox, di wall, sms dan ada yang telepon langsung. Mereka adalah teman-teman, mulai dari yang saya sama sekali tak mengenalnya sampai sahabat yang memang ucapan selamatnya saya tunggu. Khusus BBM, untuk tahun ini saya tidak bisa menerima ucapan selamat melalui media itu. Sebab satu hari sebelumnya, karena satu dan lain hal blackberry saya telah saya non aktifkan.

Itu adalah ucapan yang saya terima dari teman-teman jarak jauh. Sedang, dari orang – orang yang secara fisik sehari-hari dekat dengan saya, di antaranya adalah murid-murid saya. Saat saya memasuki setiap kelas, lantunan “Eid milad saeed ya Ustaadzanaa. Sanah helwah, sanah helwah, sanah helwah ya Jamiil,” senang. Iya saya merasa senang. Walau jujur, seperti komentar seorang teman, 6 Nopember itu adalah tanggal lahir saya yang tidak valid. Gak masalah itu bagi saya, sebab saya sendiri tidak tahu persisnya tanggal berapa saya lahir. Tapi, yang pasti tanggal itulah yang tertera di KTP saya.
Saya tidak bisa membalas semua ucapan tersebut satu persatu. Untuk itu, melalui catatan ini, saya menyampaikan “Terima kasih banyak semua!” Semoga kita kan selalu bersama mengarungi hidup ini, saling menasehati, saling mengoreksi kesalahan masing – masing. Karena itu sebenarnya pilar kehidupan, “Saling menasehati tuk menetapi kebaikan/kebenaran dan saling menasehati tuk selalu sabar.”
Sebenarnya saya adalah satu di antara orang yang tidak terlalu perhatian dengan hal yang terkait ulang tahun. Dan seumur hidup belum pernah saya merayakan ulang tahun. Baik untuk saya sendiri, istri saya dan anak-anak saya. Perayaan semacam itu kebetulan tidak membudaya di keluarga kami. Walau saya bukan juga orang yang anti terhadap orang yang suka merayakannya.
Usia adalah hitungan angka keberadaan kita di dunia. Oleh karena itu, orang yang meninggal dunia juga bisanya disebut tutup usia. Nah, karena usia adalah kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah agar kita beribadah kepada-Nya, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribada kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Maka, tiada lain pilihan kita selain mentaati-Nya. “Hidup ini adalah waktu menunggu waktu shalat yang satu ke waktu shalat berikutnya, dalam rangka menunggu kematian,”  begitu satu di antara pesan seorang guru saya. Nah, di tengah – tengah waktu menunggu shalat itu, di antara waktu menunggu kematian itu. Allah mempersilahkan kita bertebaran di muka bumi sebagai apa saja. Sebagai guru, penulis, pedagang, petani, nelayan, pegawai, buruh dan bukan penjahat, perampok, maling atau penipu.
Terkait dengan itu, seorang penyair berkata, “Dulu, saat ibumu melahirkanmu, kau menjerit menangis, sedang orang-orang di sekitarmu, tertawa, tersenyum menyambut kelahiranmu. Maka, berbuat baiklah kau sepanjang hidup, agar kelak ketika kau tutup usia, orang-orang menangis melepas kepergianmu, sedang kau sendiri tersenyum bahagia.”
Kawan, kehidupan ini -nyata dan maya- sungguh dipenuhi berbagai hal yang bisa memalingkan kita dari peribadatan kepada Allah. Beragam kesenangan semu menghampar di banyak tempat untuk mengalihkan kita dari mengingat Allah.  Semua kita berpotensi untuk tergelincir, terperosok dan terjerembab ke dalamnya -illa man rahimahu Rabbuhu-kecuali dia yang dikasihi Allah. Itu karena setan tak mengenal strata kehidupan. Iblis tak mengenal status manusia. Dan bahkan semakin manusia itu mempunyai pengenalan yang baik kepada Allah, mempunyai pemahaman agama yang baik, semakin profesional juga setan yang bertugas mengajaknya kepada maksiat.
Maka pertambahan usia, tak ada hal yang lebih cerdas untuk dilakukan manusia, melainkan mengevaluasi kembali perjalanan hidupnya. Bukan malah terbuai pada pesta-pesta percuma. Tidak juga terlalu tersanjung dengan ucapan-ucapan selamat yang hanya ditujukan sebagai pemanis semata. Untuk itu kawan, mari kita saling bantu menjadikan kualitas hidup kita masing-masing semakin baik dari hari ke hari. Menjadikan keberadaan kita di dunia bermanfaat bagi orang lain. Sebab, sebaik-baik manusia itu adalah yang paling dirasakan manfaat keberadaannya oleh orang lain.

Sumber : Islampos

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts