.

Kamis, 05 Maret 2015

Keajaiban Mendengarkan Al-Quran




Dalam siroh nabawiyah (riwayat perjalanan hidup Nabi besar Muhammad) tercatat bahwa Muhammad kecil pernah diajak oleh kawan-kawannya menghadiri kenduri pernikahan salah seorang warga Arab dusun. Biasanya di dalam acara itu terdapat nyanyi-nyanyian yang dilantunkan oleh para penyanyi. Seketika Muhammad ingin mendengar nyanyian itu gelaplah dunia dan ia diselimuti rasa kantuk. Ia baru bangun setelah acara walimahan itu selesai dan orang-orang sudah pada pulang.
Di kemudian hari, kembali kawan-kawannya mengajak Muhammad menonton acara walimahan plus nyanyian seperti waktu lalu. Akan tetapi Alloh kembali menjaganya dengan mengirimkan pasukan ‘ngantuk’ yang mengalahkan matanya dan lagi-lagi ia tertidur tanpa pernah mendengarkan nyanyian walimahan itu.
Jelas sudah bahwa salah satu hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa di atas adalah keinginan Alloh menjaga pendengaran Nabi Muhammad dari hal-hal yang sia-sia dan diharamkan. Pendengaran merupakan pintu masuk utama ilmu pengetahuan. Orang bisa mengetahui suatu ilmu karena ia mendengarkan sebuah informasi yang bermanfaat. Bisikan tercipta dari mendengarkan suara-suara di luar sana. Bisikan positif yang menggerakkan hati mampu berbuat kebaikan asalnya adalah suara-suara positif yang didengarkan seseorang melalui telinganya. Anak kecil bisa bertutur kata halus dan sopan karena ia mendengar tutur kata halus nan lembut dari kedua orang tuanya di rumah. Jadi jangan pernah remehkan yang namanya mendengar.
Konon katanya, ada dua anak pelajar kelas 6 Sekolah Dasar yang selalu terlambat dalam mencapai garis finish dalam lomba lari pada pelajaran olahraga. Teman-temannya yang lain sering mencemooh dua anak ini. Yang pertama sehat pendengarannya yang kedua rada tuli. Yang kedua ini jika belajar memang menggunakan alat bantu dengar. Tetapi jika pelajaran olahraga ia selalu melepasnya. Menjelang garis finish kedua anak tadi kelihatan saling mengejar untuk mencapai garis akhir itu dan mereka melihat teman-temannya di ambang garis itu sedang mencemooh mereka. Anak yang pertama mendengarkan cemoohan itu sangat nyaring di telinganya: “Dasar lamban! Kura-kura berlari! Siput merayap!”. Sementara itu anak yang kedua mendengarkan teman-temannya sedang menyemangatinya: “Ayo, kamu bisa! Kamu cepat! Kamu gesit! Maklum ia tidak mendengar, jadi hanya menyangka saja. Apa yang terjadi selanjutnya? Anak yang kedua dengan gesitnya mencapai garis finish jauh meninggalkan anak yang pertama. Jadi jangan pernah anggap enteng yang namanya mendengar.
Alloh menjelaskan bagaimana seorang yang pintar itu mendengar:
فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ  (18)
sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (17) yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya . Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (18) (Surat Az-Zumar). Wahbah Az-Zuhaili menafsirkan ayat ini: “Yaitu, orang-orang yang mendengarkan perkataan yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah, lalu mereka melaksanakan perintah yang terbaik dan mengamalkan yang paling banyak pahalanya”[1]. Dengan kata lain, kita katakan: informasi-informasi sangat banyak beterbangan di dunia. Manusia mendengarnya dari televisi, dari radio atau dari ceramah-ceramah. Informasi yang terbaik di antara seluruh informasi itu tentunya adalah yang datangnya dari Alloh dan Rosul-Nya, itulah Al-Quran dan Sunnah. Di dalam Al-Quran dan Sunnah itu terdapat ayat-ayat yang paling banyak nilai pahalanya jika dikerjakan dibandingkan dengan ayat-ayat yang lain yang juga terdapat di dalam Al-Quran dan Sunnah itu. Contohnya adalah ayat yang menyuruh sedekah, tentu pahalanya lebih banyak jika dikerjakan ketimbang ayat yang menyuruh sholat sunnah. Sebabnya adalah sedekah itu manfaatnya lebih meluas dan merata dirasakan oleh berbagai makhluk dibandingkan sholat sunnah yang manfaatnya terbatas hanya untuk dirinya sendiri.
Ada sebuah bukti yang mungkin bisa mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa ibunya Imam Asy-Syafi’i adalah seorang wanita yang hafal Quran dan mengerti maknanya. Suatu hari, ibu Imam Syafi’i memberikan kesaksian beserta seorang wanita lain dan seorang laki-laki. Sang hakim lalu berkata kepada ibunda Syafi’i: “tunggulah di ruangan itu sebentar wahai nyonya, aku ingin bertanya kepada wanita ini dulu!”. Serta merta ibunda Syafi’i menyela: “jika tuan hakim lakukan itu, berarti tuan keliru, bukankah Alloh berfirman:
... أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى  ... (البقرة : 282)
… supaya jika seorang (wanita pemberi saksi itu) lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya … (Al-Baqoroh : 282). Maka hakim itu kembali mengumpulkan ibunda Syafi’i beserta wanita itu dalam satu ruangan. Yang ingin disampaikan di sini adalah kisah tentang Imam Syafi’i yang telah mampu mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 30 juz dengan hafalan. Prestasi seperti ini mustahil tercapai jikalau ibunya tidak memperdengarkan bacaan al-Quran sejak Syafi’i dalam kandungan. Itulah keajaiban mendengarkan bacaan al-Quran.
Sekarang ini, para ahli psikologi menganjurkan janin-janin yang berada di dalam kandungan untuk diperdengarkan lagu-lagu klasik Mozart agar perkembangan otaknya menjadi bagus. Benarkah demikian hasilnya? Sebagai seorang muslim tentu berkeyakinan diperdengarkan lantunan murattal al-Quran apakah lewat sang ibu atau bapaknya yang membaca al-Quran dengan suara keras di samping janin atau menyetel kaset tilawah jauh lebih baik dan bahkan berpahala di akhirat kelak. Bahkan bukan tidak mungkin anak yang dibiasakan seperti ini nantinya akan dengan sendirinya mencintai bacaan al-Quran dan sebagai orang tuanya kita tidak repot-repot lagi membentak-bentak si anak untuk mau sekedar membaca al-Quran.
Suara al-Quran ini, sesungguhnya memiliki energi positif yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Baru mendengar suaranya saja, orang kafir bisa tunduk dan insaf lalu dengan sepenuh hatinya menerima Islam sebagai agamanya. Di antara orang yang memeluk Islam karena mendengar bacaan al-Quran adalah sahabat besar bernama Mush’ab. Ia mendengarkan langsung bacaan al-Quran dari lisan Rosululloh –Shollallahu ‘alaihi wa Sallam- sewaktu masih berda’wah sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqom. Uniknya lagi, Mush’ab di kemudian hari menjadi da’i pertama yang Rosululloh tugaskan untuk membagi hidayah Islam kepada penduduk kota Madinah. Saat itu gelar yang Mush’ab sandang adalah ‘Muqri Al-Madinah’ yang artinya adalah pembaca al-Quran kota Madinah. Jadi hanya dengan dibacakan al-Quran, Madinah berubah menjadi kota ilmu, dimana para penduduknya menjadi penyandang akhlak yang mulia yang menjadi panutan bagi dunia. Walaupun tentu saja di zaman sekarang dimana orang tidak perhatian lagi dengan bahasa Arab, al-Quran tidak cukup dibacakan saja. Namun lebih dari itu ia harus diterjemahkan dengan bahasa yang difahami oleh zaman sekarang. Dan yang paling efektif adalah disuarakan dan divisualisasikan melalui televisi, internet dan radio, melihat minat masyarakat sekarang yang tidak begitu gandrung lagi membuka lembaran-lembaran kertas.
Sven Mann, seorang berkebangsaan Jerman, menceritakan pengalamannya masuk Islam. Dulunya ia adalah anggota gangster yang membikin resah masyarakat. Kisahnya bisa dini’mati di dalam situs youtube dengan judul: "Pseudo gangster" cries when listening to Quran - A German Convert to Islam. Seorang wartawan bertanya kepadanya: bagaimana kamu berpindah ke dalam Islam? Sebelum aku menjawabnya, aku ingin meluruskan pertanyaan saudara. Seseorang itu bukan berpindah ke dalam Islam sebab Alloh menciptakan semua manusia ini memang sudah Islam sejak mulanya. Jadi yang tepat adalah bagaimana kamu kembali menjadi muslim? Saya katakan: “Saya menjadi muslim karena mendengar bacaan al-Quran yang dilantunkan oleh seorang anak kecil di dalam sebuah masjid. Ketika itu saya sedang melewati masjid itu lalu kedengaranlah suara yang tidak saya fahami bahasanya dan tidak saya mengerti maknanya akan tetapi anehnya hati saya bergetar demi mendengarnya, seolah-olah hati saya telah mengenalnya sejak lama”. Sejak itulah ia mulai mendekati Islam dan akhirnya kembali kepada Islam. Pemuda berkulit putih berperawakan tinggi ini mengungkapkan bahwa esensi menjadi muslim adalah menjadikan seluruh perbuatan, perkataan, hati dan sikap di bawah keinginan Alloh –Subhanahu wa Ta’ala-.
Sementara dalam hal ilmu kesehatan, mendengarkan bacaan al-Quran ternyata dapat mengurangi rasa sakit wanita ketika bersalin (melahirkan anak). Inilah beritanya yang diambil dari Ika Permana dalam http://publikasi.umy.ac.id/index.php/psik/article/view/2404:               Nyeri persalinan merupakan sensasi yang tidak menyenangkan, bersifat subjektif, dan bagian normal dari proses persalinan akibat terstimulasinya saraf sensorik. Nyeri  persalinan pada kala I disebabkan oleh ditalasi dan penipisan serviks. Terapi Nonfarmakologi dapat digunakan untuk mengurangi nyeri persalinan. salah satunya dapat  menggunakan tehnik distraksi dengan mendengarkan Ayat Suci Al-Quran. Mendengarkan Ayat Suci Al-Quran dapat menstimulus gelombang  delta yang menyebabkan pendengar dalam keadaan tenang, tentram, dan nyaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mendengarkan Al-Quran terhadap tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif pada primipara. Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi-experiment dengan rancangan yang digunakan adalah  pretest-posttest with control group. Jumlah sampel adalah 30 responden yang diambil secara  purposive sampling. Sampel dibagi dalam 2 kelompok, yang terdiri dari kelompok eksperimen sebanyak 15 responden dan kelompok kontrol sebanyak 15 responden. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa mendengarkan Ayat Suci Al-Quran. Pengumpulan data didapatkan melalui data primer dengan menggunakan skala nyeri Verbal Decriptor Scale dan Wong Baker Faces Pain Rating Scale. Data  yang terkumpul kemudian diolah dengan   menganalisis data menggunkaan uji statistik Wilcoxon dan Mann-Withney.
Hasil penelitian menunjukan penurunan tingkat nyeri persalinan pada kelompok ekperimen adalah nyeri berat sebanyak 10 orang (66,70%) sebelum di perdengarkan Al-Quran (pre test) dan nyeri sedang sebanyak 7 orang (46,70%) setelah diperdengarkan Al-Quran (post test). Tingkat nyeri persalinan kelompok kontrol adalah nyeri berat sebanyak 8 orang (53.30%) pada penilaian awal (menit ke-I) dan setelah 20 menit responden mengalami nyeri berat sebanyak 10 orang (66,70%). Penurunan tingkat nyeri persalinan diuji menggunakan Wilcoxon dengan derajat kemaknaan P<0,05, didapatkan hasil kelompok ekperiment P=0,001 dan kelompok kontrol P=0,414. Kesimpulan penelitian ini menunjukan bahwa mendengarkan Al-Quran dapat menurunkan tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif pada primipara.
Suara al-Quran yang dilantunkan, ternyata mampu membuat lingkungan menjadi bersemangat dalam berlomba kebaikan. Contohnya di wilayah Jalan Bangka Jakarta Selatan. Pada tahun 1990 hanya ada satu masjid yang mengadakan sholat tarawih berjamaah membaca satu juz tiap malamnya, yaitu masjid al-Hikmah. Lalu di tahun 1999, jarak sekitar 500 meter dari masjid al-Hikmah, masjid at-Taqwa mengadakan sholat tarawih berjamaah dengan membaca satu juz juga setiap malamnya bulan Romadhon. Lalu di tahun 2010, jarak sekitar 500 meter dari masjid at-Taqwa, masjid Nurul Islam juga menyelenggarakan hal yang sama. Jarak waktunya berarti kurang lebih 10 tahun, sebaiknya labih dipercepat lagi. Dan mungkin inilah yang Alloh firmankan dalam surat an-Naml ayat 8 dan 9:
فَلَمَّا جَاءهَا نُودِيَ أَن بُورِكَ مَن فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (8) يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9)
Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". (8) (Allah berfirman): "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (9) (An-Naml). Perhatikanlah kata-kata Alloh ini: “telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya”. Tempat apakah itu? Tempat apa lagi kalau bukannya tempat turunnya firman-firman Alloh kepada Musa ‘alaihi as-Salam? Begitu juga al-Quran, sebagai firman-firman Alloh yang Dia turunkan kepada nabi Muhammad dan masih bisa kita baca 100 persen sesuai dengan yang dahulu Dia turunkan di Arab. Jika kita baca di lingkungan kita, maka lingkungan itu akan menjadi penuh kebaikan dan akan menjalar ke tempat-tempat yang di sekitarnya.

[1] Wahbah Az-Zuhaili, Al-Mausu’ah Al-Qur’aniyyah Al-Muyassaroh (diterjemahkan: Buku Pintar Al-Quran Seven in One), hlm. 461, penerbit: Al-Mahira.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts