.

Jumat, 26 September 2014

UPAYA MENGHILANGKAN SIFAT SOMBONG




Asalamu'alaikum wr wb

janganlah kita sombong dan angkuh  dengan sesuatu hal yang kita dapat atau kita milki,karena Allah tidak menyukai orang yang sombong sebagaiman firman-Nya;



Sombong

SOMBONG







I.         PENDAHULUAN
Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit,. Penyakit-penyakit hati yang dimaknai dengan sifat-sifat tercela yang ada pada diri manusia, apabila itu mendominasi kehidupan manusia, maka jadilah hatinya menjadi sakit. Penyakit ini berbahaya karena merupakan pengejawantah atas cinta manusia kepada dunia, yang diwujudkan dalam bentuk ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia atas perbuatannya.[1]
Tanda hati yang sakit itu adalah, pertama, tidak merasa sulit melakukan pebuatan maksiat. Kedua enggan memberikan santapan rohani yang bermanfaat bagi hatinya  dan cenderung kepada makanan rohani yang memudhatkan hatinya.[2]Adapun penyakit hati diantaranya adalah sombong, ujub, riya’, munafik dan sebagainya.
Sombong adalah kata yang cukup menyeramkan dalam pergaulan, terutama kita yang hendak menjaga kebersamaan. Keberadaannya akan mengantarkan seseorang dijauhi oleh orang lain, bahkan oleh Allah SWT. karena penyakit inilah yang membuat Allah murka dan mengusir iblis dari surga.[3] Berikut pemakalah akan membahas mengenai sikap sombong yang sangat membahayakan bagi setiap pribadi Muslim.
II.      RUMUSAN MASALAH
   A. Apa pengertian Sombong?
   B. Apa bahaya yang diakibatkan oleh kesombongan?
   C. Bagaimana menunjukkan sikap membenci kesombongan?

III.   PEMBAHASAN
A.  Pengertian Sombong
 Menurut pengertian istilah, takabbur ialah menampakkan kakaguman diri dengan cara meremehkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar dibandingkan dengan orang lain, serta tidak mau mendapat kritik dari orang lain.[4] Sombong adalah membanggakan diri sendiri, mengganggap dirinya yang lebih dari yang lain. Membuat dirinya terasa lebih berharga dan bermartabat sehingga dapat menjelekkan orang lain.[5]
Ujub adalah ta'ajub (kagum diri) terhadap kelebihan yang dimilikinya. Ianya juga bagian dari takabbur yang tersimpan di dalam hati seseorang. Misalnya muncul di dalam dirinya bahwa hanya dia sajalah yang memiliki kesempurnaan ilmu dan amal sedang orang lain tidak. Ta'ajub diri juga adalah sifat yang buruk seperti yang disampaikan Rasul.
Seseorang bisa terjebak timbulnya sifat takabbur karena merasa lebih kaya, lebih pintar, lebih bangsawan, lebih cantik, dan gagah. Kesimpulannya banyak pintu-pintu terbukanya kesombongan bagi manusia, apabila dia memiliki sikap mental yang meganggap enteng dan remeh orang lain atas kelebihan yang ada padanya.[6] Padahal Allah telah melarang kita dalam QS. Al Luqman ayat 18:
Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ
Artinya: dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.[7]
Sombong disebut juga dengan takabbur, congak, pongoh, membusungkan dada dan membanggakan diri. Sombong ini termasuk penyakit batin. Kita lihat dalam masyarakat, ada kesombongan ilmia, karena hanya dia yang paling tahu, ada kesombongan kekuasaan, karena hanya dia yang paling kuasa, ada kesombongan kekayaan, karena hanya dia yang paling kaya. Paling parah lagi penyakit ini, apabila sudah berjangkit ke dalam hati, hanya dia yang paling taat, yang paling dermawan, dan yang paling berjasa membela rakyat yang menderita, mengentaskan kemiskinan.[8]
  1. Bahaya yang diakibatkan oleh Kesombongan
Allah ta’ala menghalalkan rezeki-rezeki baik dari makanan-minuman-pakaian untuk dimanfaatkan tidak pada kedurhakaan dan penyelewengan, termasuk didalamnya adalah kesombongan dan berbangga, karena kesombongan menghapus nilai-nilai keutamaan, mendapatkan nilai-nilai kerendahan, menjauhkan dari sikap merendah (tawadhu’)-yang merupakan sumber akhlak bagi orang-orang yang bertakwa, menumbuhkan penyakit kedengkian, kemarahan, mencibir dan mempergunjing orang lain, menjauhkan dari sikap kejujuran, dari sikap menahan kejengkelan, dari sikap menerima nasihat, dari sikap yang memperhatikan kekurangan sendiri, dari sikap mencari ilmu, dan sikap tunduk kepada kebenaran.[9]
Penyakit sombong tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga dibenci oleh manusia yang jernih pikirannya dan bersih batinnya. Agar penyakit sombong itu tidak menular ke dalam hati, karena begitu benci Allah kepada orang-orang yang sombong itu, maka Allah memberikan balasan dan hukuman kepada mereka itu, sebagaimana firman Allah: (Q.S An-Nisa ayat 173)
Artinya: Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah.[10]

Masih ada lagi ayat-ayat yang menggambarkan tentang sanksi hukum yang akan diterima oleh orang-orang yang menyombongkan diri. Adakalanya azab itu langsung diterimanya di dunia (yang beragam bentuknya) dan adakalanya di akhirat kelak (yang sudah pasti terjadi).[11]
Sifat sombong sebaiknya harus selalu kita jauhi karena sifat sombong memberikan banyak bahaya untuk kita semua.  Bahaya – bahaya dari sifat sombong antara lain adalah:
1.      Orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga.
 لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر
“Tidak akan masuk al jannah (surga) barang siapa di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan.”
2.      Orang yang sombong tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga dibenci oleh manusia.
3.      Orang yang kafir dan menyombongkan diri terhadap Allah, akan ditimpa siksaan yang pedih dan tidak ada baginya seorang penolong kecuali Allah SWT.[12]
4.      Sombong adalah pintu bagi dosa – dosa lainnya. Sombong adalah dosa yang pertama kali dilakukan oleh mahluk ciptaan Allah yaitu Iblis ketika menolak peritah Allah SWT agar iblis bersujud kepada Nabi Adam AS. Akhirnya iblis pun dikeluarkan dari surga, dan dengan segala tipu dayanya  mengajak manusia untuk berbuat dosa dan maksiat sehingga pada akhirnya muncul berbagai macam dosa lainnya.[13]
  1. Menunjukkan Sikap Membenci Kesombongan
Sikap sombong lahir pada diri seseorang karena menganggap dirinya lebih dan merendahkan orang yang hidup dalam kekurangan. Rasulallah saw. bersabda yang bernama sombong adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain. Banyak kebenaran yang ditolak hanya karena kebenaran itu datangnya dari orang miskin atau umurnya lebih muda darinya. Banyak kebaikan yang sia-sia karena yang memberikan teladan kebaikan adalah orang yang strata sosialnya lebih rendah darinya. Kesombongan itu juga yang membuat penilaian terhadap orang lain menjadi subjektif dan tidak proporsional.[14] Pada dasarnya seorang Muslim bisa menunjukkan sikap benci terhadap kesombongan dengan cara menghindari sikap sombong itu sendiri, Beberapa tips untuk menghindari sifat sombong adalah:
1.    Selalu bersyukur dan berdzikir kepada Allah. Karena sikap syukur itulah yang membuat seseorang jauh dari sombong.
2.    Rajin beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3.    Hindari banyak bicara dan membanggakan diri sendiri. Titik awal dari penyakit sombong adalah berawal dari pembicaraan karena pembicaraan yang kita ucapkan sering kali hanya membicarakan mengenai kelebihan yang kita punya.
4.    Mempelihara sikap rendah hati, bukan rendah diri. Selalu rendah hati adalah kunci untuk memerangi sifat sombong. Maksud dari rendah hati yaitu senang berlaku baik terhadap semua orang. Selalu menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Sehingga kita tidak lakunya berlagak sombong.
5.    Jangan merasa paling dermawan. Jangan sampai kita mengungkit-ungkit apa pun yang kita berikan kepada orang lain.
6.    Tebarkan salam dengan sesama Muslim. Karena jika kita melakukannya berarti menunjukkan bahwa kita tidak sombong. Tidak memaling muka kita kepada orang-orang sekitar.
7.    Senantiasa bersedekah. Jangan merasa paling kaya lalu bersikap kikir dan angkuh.[15]
IV.   PENUTUP
A.  SIMPULAN
Menurut pengertian istilah, takabbur ialah menampakkan kakaguman diri dengan cara meremehkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar dibandingkan dengan orang lain, serta tidak mau mendapat kritik dari orang lain. Sifat sombong sebaiknya harus selalu kita jauhi karena sifat sombong memberikan banyak bahaya untuk kita semua.  Bahaya – bahaya dari sifat sombong antara lain adalah:
1.    Orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga. 
2.    Sombong adalah pintu bagi dosa – dosa lainnya.
3.    Orang yang sombong tidak hanya dibenci oleh Allah, tetapi juga dibenci oleh manusia.
4.    Orang yang kafir dan menyombongkan diri terhadap Allah, akan ditimpa siksaan yang pedih dan tidak ada baginya seorang penolong kecuali Allah SWT.
Pada dasarnya seorang Muslim bisa menunjukkan sikap benci terhadap kesombongan dengan cara menghindari sikap sombong itu sendiri, Beberapa tips untuk menghindari sifat sombong adalah:
1.    Selalu bersyukur dan berdzikir kepada Allah.
2.    Rajin beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3.    Hindari banyak bicara dan membanggakan diri sendiri.
4.    Mempelihara sikap rendah hati, bukan rendah diri.
5.    Jangan merasa paling dermawan.
6.    Tebarkan salam dengan sesama Muslim.
7.    Senantiasa bersedekah.
  1. SARAN
Demikian makalah yang kami sampaikan. Dengan harapan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat diperlukan demi kemaslahatan kita semua. Dan semoga kita bias mengambil hikmahnya. Amiin.


[1] Haidar Putra Daulay, Qalbun Salim Jalan Menuju Pencerahan Rohani, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 79-81
[2] Farid Ahmad, Tazkiyatun Nufuz wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruha Ulama’us Salaf, terj. M. Azhari Salim, (Surabaya: Risalah Gusti, 2002), hlm. 24
[3] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hlm. 60
[4] Sayyid Muhammad Nuh, Af’atun ‘ala Ath Thariq, teri. Darmanto, (Jakarta; PT Lentera Bastritama, 1998), hlm. 109
[6] Haidar Putra Daulay, Qalbun Salim Jalan Menuju Pencerahan Rohani,.. hlm. 82-83
[7] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid vII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 557-558
[8] Ali Hasan, Orang-Orang Yang dicintai dan dibenci Allah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 63
[9] Muhammad Abdul Aziz al-Khauli, Menuju Akhlak Nabi, (Semarang: Pustaka Nuun, 2006), hlm. 206-207
[10] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 333-334
[11] Ali Hasan, Orang-Orang Yang dicintai dan dibenci Allah,.. hlm. 64-65
[12] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan,... hlm. 61
[14] Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan,... hlm. 61

Selasa, 23 September 2014

Penegertian sabar dan perintah sabar



Telah dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa.sabar itu adalah suatu tegaknya dorongan Agama yang telah berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. 
Dengan Agama ialah Hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal-Nya, mengenal rasul-Nya, mengenal juga mengetahui serta mengamalkan ajaran-Nya dan kemaslahatan-kemaslahatan yang bertalian dengan akibat-akibatnya.Suatu sifat yang telah membedakan antara manusia dengan hewan di dalam hal menundukkan bahwa nafsu itu adalah sifat sabar. Sedangkan dorongan hawa nafsu itu ialah tuntunan syahwat dan juga keinginan yang minta untuk dilaksanakan. 
Jadi sabar di sini adalah suatu kekuatan, daya positif yang mendorong jiwa untuk menunaikan suatu kewajiban. Dan disamping itu pula bahwa sabar adalah suatu kekuatan yang menghalangi seseorang untuk, melakukan kejahatan. Di dalam Al-Qur'an kata sabar telah disebutkan di tujuh puluh tempat, menurut Ijma' Ulama' ummat, sabar ini wajib, dan juga merupakan separoh dari iman (menurut pendapat Imam Ahmad). Sebab irnan di sini dibagi menjadi dua bagian, yakni separoh .idalah sabar dan yang separohnya lagi itu adalah syukur. Di dalam Al-Qur'an kata sabar itu disebutkan dalam enam belas versi diantaranya ialah : Perintah sabar, terdapat di dalam firman Allah SWT. yang artinya ialah : 
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat". (QS. 1 : 45). 
Larangan melakukan sebaliknya, seperti firman-Nya: "Dan janganlah kalian bersifat lemah dan janganlah (pula) kalian bersedih hati". (QS. 3 : 138). 
Sifat yang paling dilarang oleh Allah adalah sifat lemah dan juga bersedih hati, oleh karena itu sifat tersebut adalah mempunyai arti tidak sabar, sebab sifat itu sangat dilarang oleh Allah SWT.
Artinya : "Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, pende¬ritaan dan dalam peperangan, mereka

JIHAD DALAM ISLAM (Oleh: Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah) [*]





Jihad merupakan tulang punggung dan kubah Islam. Kedudukan orang-orang yang berjihad amatlah tinggi di surga, begitu juga di dunia. Mereka mulia di dunia dan di akhirat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah, beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi Allah.

Allah memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus sebagai Nabi, Allah Ta'ala berfirman :

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

"Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan jihad yang besar." (Al-Furqon : 51-52).

Surat ini termasuk surat Makiyah yang di dalamnya terdapat perintah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta menyampaikan Al-Qur'an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada di bawah kekuasaan kaum muslimin, Allah Ta'ala berfirman:

"Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya." (QS. At-Taubah : 73).

Jihad melawan orang-orang munafik (dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir (dengan pedang/senjata-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia. Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi Allah.[2]

Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran meski banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran kepada orang yang dikhawatirkan gangguannya. Oleh karena inilah, para Rasul -sholawatullahi 'alaihim wa salaamuhu- termasuk yang paling sempurna.

Jihad melawan musuh-musuh Allah di luar (kaum muslimin) termasuk cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wa salam:

"Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam mentaati Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah." (HR. Ahmad dan sanadnya jayyid/baik).

Oleh sebab itu, jihad terhadap diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal tersebut merupakan pondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan orang-orang kafir.[3]  

Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir sedangkan musuh (hawa nafsu) nya yang berada disamping kiri dan kanannya masih menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]

Kedua musuh itu adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini. Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghadang, menipu dan menggoda hamba agar tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia senantiasa menggambarkan kepada seorang hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya. Oleh karenanya, jihad melawannya adalah pondasi dalam berjihad melawan keduanya. Musuh yang ketiga itu adalah setan, Allah ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu)." (Faathir : 6).

Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, karena musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa.

Jika hal di atas sudah dimengerti maka jihad terbagi menjadi empat tahapan [5]:

1. Jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbagi lagi menjadi empat tingkatan:

a. Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia akan sengsara di dunia dan di akhirat.

b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu yang dia pelajari, karena ilmu tanpa amal jika tidak memadharatkannya, minimal ilmunya tidak bermanfaat.

c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia) kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari adzab Allah.

d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah serta gangguan manusia karena Allah.

Jika seorang hamba telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin (orang-orang Robbani). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak bisa dikatakan Robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan mengajarkannya. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dikalangan para penghuni langit.

2. Jihad melawan setan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bagian :
a. Berjihad dalam menolak syubhat (kerancuan) dan keraguan dalam keimanan
b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat.

Jihad yang pertama akan melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah ta'ala berfirman:

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS.As-Sajdah : 24).

Allah ta'ala mengabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat serta keinginan jelek sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan serta kerancuan.


3. Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih dikhususkan dengan lisan.

4. Jihad melawan orang-orang dzolim, ahli bid'ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahapan. Dengan tangan bila mampu, jika tidak maka pindah dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.

Inilah tiga belas tahapan dalam jihad dan (Barangsiapa yang mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan).[6]

Dan tidak akan sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa keimanan.[7]

Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.Al-Baqoroh : 218).

Sebagaimana keimanan adalah kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di setiap saat:

1. Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, ikhlas, bertobat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.

2. Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi bersabda yang artinya:

"Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah kepada dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan". (HR. Bukhari dan Muslim).

Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah dan jihad melawan setan adalah fardhu ain yang tidak bisa diwakilkan kepada seorangpun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu kifayah.

Penterjemah: Ustadz Abdurrahman bin Thayyib, Lc.

-----------------------------------
Foot note:

* [1] Kami terjemahkan dari kitab "Zadul ma aad fii hadyi khoiril ibaad", 3/5-11, Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, tapi ada sebagian yg kami anggap tidak perlu diterjemahkan (hal 6-8) agar tidak terlalu panjang. Dan kami hadiahkan terjemahan ini kepada mereka yang selalu meneriakkan kata jihad dengan senjata (pengeboman), yang senantiasa mengajak umat untuk memberontak penguasa dengan nama jihad, yang menuduh para ulama Dakwah Salafiyah tidak berjihad dan menihilkan jihad. Insya Allah pada edisi berikutnya akan dibahas tentang kaidah-kaidah dalam berjihad agar jihadnya seorang muslim didasari ilmu bukan hawa napsu maupun kejahilan yang diiringi semangat yang terlalu menggebu hingga lebih banyak MERUSAK daripada membangun, seperti yang dikatakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah TANPA ILMU maka dia banyak MERUSAK daripada memperbaiki." (pent)

[2] Dari keterangan Ibnul Qayyim ini, masihkan ada orang yang mencela dan mencaci-maki para ulama, karena belum pernah mengangkat pedang dan hanya bisa mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah di masjid2..?? Ataukah justru mereka memvonis bahwa Ibnul Qayyim menihilkan jihad??? (pent)

[3] Di antaranya dengan berjihad menuntut ilmu agama yang benar sesuai dengan pemahaman salafush shalih serta menghilangkan KEBODOHAN DALAM DIRINYA terutama dalam masalah aqidah. (pent)

[4] Adapun hadits yang berbunyi "Kita tlh kmbli dari jihad kecil kepada jihad besar" maka hadits ini tidak shahih. Lihat "Kasyful Khofa 1/424. (pent)

[5] Dari sini terlihat jelas kesalahan sebagian orang yang hanya MENYEMPITKAN arti jihad dengan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata. (pent)

[6] HR. Muslim no. 1910

[7] Tidakkah mereka yang selalu menggembar-gemborkan jihad melawan orang-orang kafir Yahudi maupun Nashoro memahami hal ini?? Mereka menyeru umat untuk berjihad siang-malam sedangkan banyak dari umat Islam ini yang masih rusak aqidah dan keimanannya. Akankah mereka terus meneriakkan jihad di tengah kaum muslimin sedangkan kesyirikan, penyembahan terhadap wali-wali, sunan-sunan serta kyai-kyai yang telah meninggal, ada di pelupuk mata mereka???

Apakah mereka sengaja menutup mata? Mengapa mereka tidak mau dan enggan untuk memulai dan memfokuskan dakwah mereka terlebih dahulu kepada Dakwah Tauhid dan memberantas kesyirikan seperti yang dilakukan Rasulullah? Apakah mereka menganggap metode yang mereka jalankan itu lebih baik dari metode dakwahnya Rasulullah dan para rasul-rasul lain??? (pent)

MALU, AKHLAK ISLAM





Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

TAKHRÎJ HADÎTS

Hadits ini shahîh diriwayatkan oleh: Al-Bukhâri (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abû Dâwud (no. 4797), Ibnu Mâjah (no. 4183), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayâlisi (no. 655), dan Ibnu Hibbân (no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân).

PENJELASAN HADÎTS

A. Pengertian Malu
Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.[Lihat Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ' (hal. 53)]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.


Al-Junaid rahimahullâh berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’”[Madârijus Sâlikîn (II/270). Lihat juga Fathul Bâri (X/522) tentang definisi malu.]


Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.[Lihat al-Haya' fî Dhau-il Qur-ânil Karîm wal Ahâdîts ash-Shahîhah (hal. 9).]


B. Keutamaan Malu

1). Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.
“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.
“Malu itu kebaikan seluruhnya.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain]

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.


2). Malu adalah cabang keimanan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.


“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”

[Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah. Lihat Shahîhul Jâmi’ ash-Shaghîr (no. 2800).]

3). Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”
[Shahîh: HR.Abû Dawud (no. 4012), an-Nasâ-i (I/200), dan Ahmad (IV/224) dari Ya’la Radhiyallahu 'anhu]

4). Malu adalah akhlak para Malaikat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.
“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]

5). Malu adalah akhlak Islam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]

6). Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat.

Ada salah seorang Shahabat Radhiyallahu 'anhu yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.
“Biarkan dia, karena malu termasuk iman.”
[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 24, 6118), Muslim (no. 36), Ahmad (II/9), Abû Dâwud (no. 4795), at-Tirmidzî (no. 2516), an-Nasâ-i (VIII/121), Ibnu Mâjah (no. 58), dan Ibnu Hibbân (no. 610) dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu.]

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullâh berkata, “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.” [Fathul Bâri (X/522).]


7). Malu senantiasa seiring dengan iman, bila salah satunya tercabut hilanglah yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.
“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”
[Shahîh: HR.al-Hâkim (I/22), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/223), al-Mundziri dalam at-Targhîb wat Tarhîb (no. 3827), Abû Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/328, no. 5741), dan selainnya. Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3200).]

8). Malu akan mengantarkan seseorang ke Surga.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.
“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).]

C. Malu adalah warisan para Nabi terdahulu

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda , “Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia dari kalimat kenabian terdahulu…"

Maksudnya, ini sebagai hikmah kenabian yang sangat agung, yang mengajak kepada rasa malu, yang merupakan satu perkara yang diwariskan oleh para Nabi kepada manusia generasi demi generasi hingga kepada generasi awal umat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara perkara yang didakwahkan oleh para Nabi terdahulu kepada hamba Allah Azza wa Jalla adalah berakhlak malu. [Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/497) dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 179-180). Cet. I Dâr Ibni Hazm.]


Sesungguhnya sifat malu ini senantiasa terpuji, dianggap baik, dan diperintahkan serta tidak dihapus dari syari’at-syari’at para nabi terdahulu.[Lihat Syarh al-Arba’în (hal. 83) karya Ibnu Daqîq al-‘Îed.]


D. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Salllam Adalah Sosok Pribadi Yang Sangat Pemalu

Allah Azza wa Jalla berfirman :

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya)[1228], tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar" [Al-Ahzâb/ 33:53]

Abu Sa’id al-Khudri rahimahullah berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.
“Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.” [Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6119).]

Imam al-Qurthubi rahimahullâh berkata, “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharîzah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki dua jenis malu ini, akan tetapi sifat tabiat beliau lebih malu daripada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.”[Fathul Bâri (X/522).]


E. Makna Perintah "Berbuatlah Sesukamu" di Hadits Ini

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , “Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.”

Ada beberapa pendapat ulama mengenai penafsiran dari perintah dalam hadits ini, diantaranya:

1). Perintah tersebut mengandung arti peringatan dan ancaman
Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya. Seperti firman Allah Azza wa Jalla :

"Artinya : …………….. perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan" [Fushilat : 40]


2). Perintah tersebut mengandung arti penjelasan.

Maksudnya, barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka ia berbuat apa saja yang ia inginkan, karena sesuatu yang menghalangi seseorang untuk berbuat buruk adalah rasa malu. Jadi, orang yang tidak malu akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan yang dijauhi orang-orang yang mempunyai rasa malu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.
“Barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.”[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 110), Muslim (no. 30), dan selainnya dengan sanad mutawâtir dari banyak para Shahabat.]

Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas bentuknya berupa perintah, namun maknanya adalah penjelasan bahwa barangsiapa berdusta terhadapku, ia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.[Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/498) dan Qawâ’id wa Faawâid (hal. 180)]


3). Perintah tersebut mengandung arti pembolehan.

Imam an-Nawawi rahimahullâh berkata, “Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau akan mengerjakan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah Azza wa Jalla dan manusia, maka lakukanlah, jika tidak, maka tinggalkanlah.” [Fathul Bâri (X/523).]

Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat jumhur ulama.[Lihat Madârijus Sâlikîn (II/270).]


F. Malu Itu Ada Dua Jenis

1). Malu yang merupakan tabiat dan watak bawaan
Malu seperti ini adalah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إلاَّ بِخَيْرٍ.
“Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” [Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37)]

Malu seperti ini menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan buruk dan tercela serta mendorongnya agar berakhlak mulia. Dalam konteks ini, malu itu termasuk iman. Al-Jarrâh bin ‘Abdullâh al-Hakami berkata, “Aku tinggalkan dosa selama empat puluh tahun karena malu, kemudian aku mendapatkan sifat wara’ (takwa).”[Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/501).]


2). Malu yang timbul karena adanya usaha.

Yaitu malu yang didapatkan dengan ma’rifatullâh (mengenal Allah Azza wa Jalla ) dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati. Malu yang didapat dengan usaha inilah yang dijadikan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari iman. Siapa saja yang tidak memiliki malu, baik yang berasal dari tabi’at maupun yang didapat dengan usaha, maka tidak ada sama sekali yang menahannya dari terjatuh ke dalam perbuatan keji dan maksiat sehingga seorang hamba menjadi setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dengan tubuh manusia. Kita memohon keselamatan kepada Allah Azza wa Jalla.[Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 181)]

Dahulu, orang-orang Jahiliyyah –yang berada di atas kebodohannya- sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang buruk karena dicegah oleh rasa malunya, diantara contohnya ialah apa yang dialami oleh Abu Sufyan ketika bersama Heraklius ketika ia ditanya tentang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Sufyan berkata,

فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ.
Artinya :“Demi Allah Azza wa Jalla, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong kepadanya (tentang Allah Azza wa Jalla).”[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 7).]

Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta.


G. Konsekuensi Malu Menurut Syari’at Islam

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.
Artinya : “Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah k dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.” [Hasan: HR.at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hâkim (IV/323), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4033). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 935).]

H. Malu Yang Tercela

Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullâh dan yang lainnya mengatakan, “Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyari’atkan, bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan. Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu karena menyerupai malu yang disyari’atkan.”[26] Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah Azza wa Jalla sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum muslimin, adalah tercela karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. [Lihat Qawâ’id wa Fawâid (hal. 182)]

Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang Muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana Muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalanginya memperoleh kebaikan yang sangat besar.


Tentang tidak bolehnya malu dalam menuntut ilmu, Imam Mujahid rahimahullah berkata,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.
Artinya : “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri secara mu’allaq dalam Shahîh-nya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/534-535, no. 879).]

Ummul Mukminin ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anha pernah berkata tentang sifat para wanita Anshâr,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ اْلأَنْصَارِ ، لَـمْ يَمْنَعْهُنَّ الْـحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِـي الدِّيْنِ.
Artinya : “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshâr. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu Agama.” [Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya kitab al-‘Ilmu bab al-Hayâ' fil ‘Ilmi secara mu’allaq.]

Para wanita Anshâr radhiyallâhu ‘anhunna selalu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jika ada permasalahan agama yang masih rumit bagi mereka. Rasa malu tidak menghalangi mereka demi menimba ilmu yang bermanfaat.


Ummu Sulaim radhiyallâhu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ! Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak malu terhadap kebenaran, apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia mimpi (berjimâ’)?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Apabila ia melihat air.”[Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 130) dan Muslim (no. 313).]


I. Wanita Muslimah Dan Rasa Malu

Wanita Muslimah menghiasi dirinya dengan rasa malu. Di dalamnya kaum muslimin bekerjasama untuk memakmurkan bumi dan mendidik generasi dengan kesucian fithrah kewanitaan yang selamat. Al-Qur-anul Karim telah mengisyaratkan ketika Allah Ta’ala menceritakan salah satu anak perempuan dari salah seorang bapak dari suku Madyan. Allah Ta’ala berfirman,
...
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak kami)…” [Al-Qashash: 25]

Dia datang dengan mengemban tugas dari ayahnya, berjalan dengan cara berjalannya seorang gadis yang suci dan terhormat ketika menemui kaum laki-laki; tidak seronok, tidak genit, tidak angkuh, dan tidak merangsang. Namun, walau malu tampak dari cara berjalannya, dia tetap dapat menjelaskan maksudnya dengan jelas dan mendetail, tidak grogi dan tidak terbata-bata. Semua itu timbul dari fithrahnya yang selamat, bersih, dan lurus. Gadis yang lurus merasa malu dengan fithrahnya ketika bertemu dengan kaum laki-laki yang berbicara dengannya, tetapi karena kesuciannya dan keistiqamahannya, dia tidak panik karena kepanikan sering kali menimbulkan dorongan, godaan, dan rangsangan. Dia berbicara sesuai dengan yang dibutuhkan dan tidak lebih dari itu.


Adapun wanita yang disifati pada zaman dahulu sebagai wanita yang suka keluyuran adalah wanita yang pada zaman sekarang disebut sebagai wanita tomboy, membuka aurat, tabarruj (bersolek), campur baur dengan laki-laki tanpa ada kebutuhan yang dibenarkan syari’at, maka wanita tersebut adalah wanita yang tidak dididik oleh Al-Qur-an dan adab-adab Islam. Dia mengganti rasa malu dan ketaatan kepada Allah dengan sifat lancang, maksiat, dan durhaka, merasuk ke dalam dirinya apa-apa yang diinginkan musuh-musuh Allah berupa kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat. Nas-alullaah as-salaamah wal ‘aafiyah.[Lihat al-Wâfi fî Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah (hal. 153)]


Setiap suami atau kepala rumah tangga wajib berhati-hati dan wajib menjaga istri dan anak-anak perempuannya agar tidak mengikuti pergaulan dan mode-mode yang merusak dan menghilangkan rasa malu seperti terbukanya aurat, bersolek, berjalan dengan laki-laki yang bukan mahram, ngobrol dengan laki-laki yang bukan mahram, pacaran, dan lain-lain. Para suami dan orang tua wajib mendidik anak-anak perempuan mereka di atas rasa malu karena rasa malu adalah perhiasan kaum wanita. Apabila ia melepaskan rasa malu itu, maka semua keutamaan yang ada padanya pun ikut hilang.


J. Buah Dari Rasa Malu

Buah dari rasa malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Siapa saja yang memiliki rasa malu hingga mewarnai seluruh amalnya, niscaya ia akan berlaku ‘iffah. Dan dari buahnya pula adalah bersifat wafa' (setia/menepati janji).

Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api Neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain.


Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup. [Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ' (hal. 55).]


Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam kejelekannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang pikirannya tertimpa ujian, maka sebagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada obat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.” [Ibid (hal. 55).]


FAWÂÎD HADÎTS

1. Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi terdahulu.

2. Sifat malu semuanya terpuji dan senantiasa disyari’atkan oleh para Nabi terdahulu.
3. Hadits ini menunjukkan bahwa malu itu seluruhnya baik. Barangsiapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikannya dan manfaatnya lebih menyeluruh. Dan barangsiapa yang sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.
4. Malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.
5. Malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebenaran adalah malu yang tercela.
6. Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.
7. Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa' (setia).
8. Malu adalah bagian dari iman yang wajib.
9. Orang-orang Jahiliyyah dahulu memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari mengerjakan sebagian perbuatan jelek.
10. Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu.
11. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.
12. Malaikat mempunyai sifat malu.
13. Lawan dari malu adalah tidak tahu malu (muka tembok), ia adalah perangai yang membawa pemiliknya melakukan keburukan dan tenggelam di dalamnya serta tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan. Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan.” [Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abû Hurairah]
14. Para orang tua wajib menanamkan rasa malu kepada anak-anak mereka.
كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ.

Marâji’
1. Alqurân dan terjemahnya.
2. Kutubus Sab’ah.
3. Al-Adâbul Mufrad, karya Imam al-Bukhâri.
4. Shahîh Ibni Hibban dengan at-Ta’liqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân.
5. Mustadrak al-Hâkim.
6. Sunan al-Baihaqi.
7. Syarhus Sunnah, karya Imam al-Baghawi.
8. Al-Mu’jâmul Kabîr, karya Imam ath-Thabrâni.
9. Al-Mu’jâmush Shaghîr, karya Imam ath-Thabrâni.
11. Hilyatul Auliyâ', karya Imam Abu Nu’aim.
12. At-Targhîb wat Tarhîb, karya Imam al-Mundziri.
13. Fathul Bâri, karya al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni, cet. Dârul Fikr.
14. Madârijus Sâlikîn, karya Ibnul Qayyim, cet. Dârul Hadîts-Kairo.
15. Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ', karya Ibnu Hibbân al-Busti.
16. Jâmi’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bâjis.
17. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.
18. Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr.
19. Qawâ’id wa Fawâid minal ‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nâzhim Muhammad Sulthân.
20. Al-Wâfi fî Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
21. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
22. Al-Hayâ' fî Dhau-il Qurânil Karîm wal Ahâdîtsi ash-Shahîhah, karya Syaikh Sâlim bin ‘Ied al-Hilâli.
23. Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhish Shâlihîn, karya Syaikh Sâlim bin ‘Ied al-Hilâli.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Akhlak Islam





1. Definisi Akhlak
Menurut bahasa: Tabiat dan kebiasaan.
Menurut istilah: kondisi jiwa yang mantap, darinya keluar perbuatan dan perkataan dengan mudah tanpa pikir dan angan-angan.
2. Urgensi Akhlak dalam Islam
a. Perilaku manusia selalu bersesuaian dengan nilai dan sifat yang telah tetap dan melekat di dalam qalbunya. Al-Ghazali berkata: “Semua sifat yang terdapat di dalam qalbu, pasti pengaruhnya akan terlihat dalam perilaku, sehingga manusia tidak akan berperilaku kecuali pasti telah sesuai dengan apa yang ada di dalam qalbunya.” Allah berfirman: “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raaf: 58).
b. Sesungguhnya sikap manusia untuk berbuat atau tidak berbuat, selalu dia timbang dengan menggunakan akhlak sebagai ukurannya, jadi benar dan tidaknya sikap tersebut tergantung pada nilai akhlak yang ada pada qalbunya.
3. Kedudukan Akhlak dalam Islam
a. Sebagai sebab diturunkannya risalah. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya saya diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
b. Sebagai definisi dari agama. Rasulullah ditanya, apakah agama itu? Rasul menjawab: ‘Agama adalah akhlak yang baik’ (HR. Ahmad).
c. Mengantarkan pada iman yang sempurna. Rasulullah bersabda: “Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.”
d. Penyebab masuk surga. Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga? Rasulullah menjawab: ‘Akhlak yang baik.’ Rasulullah ditanya, apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka? Rasulullah menjawab: ‘Mulut dan kemaluan.’ (HR Tirmidzi)
e. Allah mensifati Rasulullah dengan “Husnul Khuluk” (an-Nisaa’: 67). Ketika ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab: akhlaknya adalah al-Qur’an.
f. Rasulullah berdoa kepada Allah agar dibaguskan akhlaknya. “Ya Allah tunjukkanlah saya kepada akhlak yang baik sesungguhnya tiada yang memberi petunjuk kepada akhlak yang baik kecuali Engkau, palingkanlah kami dari akhlak yang buruk, sesungguhnya tiada yang memalingkan kecuali Engkau.”
g. Yang paling dicintai oleh Rasulullah. “Sesungguhnya yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
4. Karakteristik Akhlak dalam Islam
1. Menyeluruh, meliputi seluruh perilaku manusia, baik hubungannya terhadap diri sendiri maupun dengan orang lain, baik personal, dengan kelompok, negara dll.
2. Komitmen, baik dalam sarana maupun tujuan. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan. (al-Anfaal: 72)
3. Mendapat balasan yang baik bagi yang melakukannya. Demikianlah diberikan pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS.65: 2).
4. Sesuai dengan fitrah yang benar. “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa itu adalah yang tidak nyaman dalam dirimu dan engkau tidak suka dilihat orang lain.” (HR. Muslim)
5. Selalu dikaitkan dengan nilai-nilai iman. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. 3: 200)
“ Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: 5: 8). Rasulullah bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Shahabat bertanya: “Siapa ya Rasulallah?” Rasulallah menjawab: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)
5. Jalan Menuju Akhlak yang Baik
1. Membekali diri dengan ilmu
a. Ilmu untuk mengetahui akhlak yang baik
b. Ilmu untuk mengetahui akhlak yang buruk
c. Menjaga ilmu
2. Mengokohkan nilai-nilai Islam
3. Berlatih (mengerjakan akhlak yang baik)
4. Menjalankan berbagai macam ibadah
5. Bergaul dengan oang-orang shalih
6. Mengambil teladan yang baik
7. Meninggalkan lingkungan yang jelek dan mencari lingkungan yang baik
8. Membiasakan diri untuk menerima nasehat

Layakkah Kita




Aku tonton sekali lagi cerekarama Runtuhnya Sebuah Dosa, kali ini dengan rakan-rakan aku setelah tamat usrah. Ada satu adegan di mana Rashidi, lakonan Remy Ishak sedang bersembang dengan adiknya. Adiknya bertanya pendapat daripada abangnya berkenaan kawannya yang mahu belajar agama daripadanya. Abangnya berpesan supaya mengajarlah kawannya itu apa yang hanya diketahui, tidak perlu tahu tentang semua perkara.

Kita mungkin sudah biasa dengan ayat itu. Ketika mana ada yang merisik kita untuk menjadi ‘kakak usrah’, antara dilema yang dihadapi ialah, “layakkah aku?”. Itu persoalan yang biasa terlintas. Mahu tunggu layak? Apa definisi layak? Sudah khatam ayat al-Quran? Pakai tudung labuh? Hafal semua hadis yang popular? Mengerjakan solat-solat sunat? Tidak pernah terlepas membaca surah al-Kahf setiap malam Jumaat atau surah al-Mulk setiap kali sebelum tidur?

Ya Allah!
Kalau itulah definisi layak, agaknya tiada langsung yang memegang tugas dai’e sekarang. Bukan mahu menyatakan bahawa dai’e sekarang tiada langsung yang mempunyai semua kriteria itu, namun bilangannya tentulah tidak seramai yang ada hanya sebilangan kriteria tersebut. Apa yang mahu disampaikan di sini ialah, kita tidak mungkin akan menjadi yang sempurna, atau bebas dosa. Jauh sekali menunggu diri ini ‘dianugerahkan’ pangkat ma’sum, barulah mahu menjadi seorang dai’e.

Kita biasanya lebih terkesan dengan seseorang yang latar belakangnya banyak persamaan dengan kita. Bukanlah mengatakan bahawa apabila mendengar sirah nabi dan para sahabat langsung tidak memberi kesan dan motivasi untuk kita berubah dan bersama-sama untuk membantu agama Allah.

“Mereka ma’sum, kita ini siapalah sangat. Banyak dosa.” Itu yang sering bermain dalam benak fikiran. Memang benar Rasulullah itu ma’sum. Cuma, apa yang cuba saya sampaikan ialah yang kita lebih senang melihat, dan mencontohi seseorang yang lebih sama dengan kita; dari segi jantina, usia, status ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Hal ini kerana melihat sesorang yang lebih banyak persamaan membuatkan kita percaya yang apa yang mampu dicapai olehnya juga mampu dicapai oleh kita. Senang cerita, saya sendiri lebih senang menjadikan kakak-kakak usrah sebagai role model untuk berubah. Kerana mereka sendiri lebih banyak persamaan dengan saya. Mereka juga pernah berada dalam kehidupan yang penuh jahiliyyah, dan masih struggle untuk menjadikan diri mereka semakin hari semakin baik. Mereka juga sama-sama berusaha untuk membentuk diri mereka menjadi insan yang hidupnya berlandaskan al-Quran dan sunnah. Kerana itu, tidak melampau jika saya katakan yang kakak-kakak usrah ini, walaupun mereka bukan ma’sum dan bebas dosa, masih layak untuk menjadi role model.

Jadi masih tidak layakkah kita?

Sambil kita berpesan kepada orang, kita sebenarnya berpesan untuk diri sendiri. Walaupun kita tidak khatam kitab-kitab agama yang dikarang oleh para ulama terkemuka, ia tidak bererti kita langsung tiada apa untuk disampaikan. Terkesan saya mendengar Irma Hasmi ketika berucap dalam Konvensyen Bidadari Dunia. Katanya yang lebih kurang begini, “Saya kongsi pengalaman, juga boleh dijadikan ilmu.” Saya setuju dengannya. Pengalaman hidup setiap daripada kita yang dicerita semula mampu untuk membuatkan yang mendengar rasa tersentuh dan mula berfikir, dengan izinNya. Kita tidak akan pernah jangka siapa yang akan bercerita kisah yang lebih kurang sama sahaja dengan kisah orang lain, yang selama ini kita dengar dan melupakannya, tiba-tiba mampu membuatkan kita terfikir panjang dan mula bermuhasabah diri. Saya pasti, jika kita menghadiri mana-mana majlis ilmu, speakers yang berucap akan bercerita kisah yang lebih kurang sama sahaja. Namun, dengan kuasaNya, kita tiba-tiba tersentuh dek kerana kisah itu diceritakan oleh seseorang yang dia sendiri tidak jangka mampu membuatkan seseorang berubah, dengan izinNya.

Saya mahu persoalkan sekali lagi. Layakkah kita? Tidak mahukah kita mengambil peluang untuk membuat kebaikan, untuk menyampaikan barang satu ayat pun kepada yang lain? Tidak mahukah kita menjadi penyebab atau pencetus kepada seseorang untuk berubah, dengan izinNya? Kita tidak akan pernah jangka, dalam banyak-banyak ayat yang kita sebut, dalam banyak-banyak perbuatan yang kita lakukan, dalam banyak-banyak perkataan yang kita tuliskan, walaupun hanyalah ulangan ayat, perbuatan dan perkataan yang sama dan berulang-kali daripada orang lain, dapat menjentik hati dan keinginan seseorang untuk berubah menjadi yang lebih baik. Sayangnya jika yang datang daripada kita semuanya hanya yang sia-sia. Artikel yang saya tulis, dan anda baca ini juga artikel yang menyentuh isu yang sudah banyak kali ditulis. Dan kenapa saya tetap mahu menulis tentang ini?

Wallahualam.

Hidayah Allah Melalui Perantaraan Insan




Bismillaah :)
Seorang
hamba Allah pernah cakap dekat saya "Beruntunglah orang yang diberikan hidayah oleh Allah, sebab bukan semua orang dapat .." Ya, saya bersyukur. bersyukur sebab saya adalah antara hamba Allah yang dapat hidayah untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dulu saya tak patuh perintah Allah, banyak sangat langgar perintah Allah. Meskipun mak dan abah selalu pesan dekat diri saya supaya patuh dengan perintah Allah, tapi saya degil.

 

Minggu, 21 September 2014

Kita Bukan Lemah





Buta lagi miskin. Jauh dia berjalan menempuh laluan berliku yang tidak dapat dilihat pun oleh matanya. Bersungguh dan gagah kakinya melangkah ke teratak ilmu Nabi Muhammad S.A.W untuk bertemu baginda. Niat dihatinya ingin menuntut ilmu tentang Islam.
Namun, baginda begitu khusyuk melayani pembesar Quraisy yang ingin mendalami Islam sehingga tidak mengendahkan kehadirannya di majlis tersebut. Malah, ketika terlihat kelibat Abdullah, Rasulullah S.A.W menarik muka masam dan berpaling daripadanya. Kecacatan Abdullah membuatkan Rasulullah S.A.W tidak yakin akan kemampuannya. Merasa dirinya tersisih, dia mundur. Sedih kerana langsung tidak diendahkan oleh Rasulullah S.A.W.

Elak Pandang Rendah

Maka turunlah firman Allah yang menegur tegas sikap Rasulullah yang tidak mengendahkan seseorang yang kurang upaya seperti Abdullah, yang disebut dalam kitab Allah yang Agung:
“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, kerana seorang buta telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (daripada dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang bermanfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan”. (‘Abasa: 1-11)
Sejak mendapat teguran ini, Rasulullah sedar akan kesilapannya dan mula melayani dan memenuhi segala keperluan Abdullah setiap kali dia bertandang.
Kekurangan yang kita miliki kadang-kala membuatkan kita tidak yakin dengan kebolehan diri sendiri dan terasa kita seolah-olah disisihkan oleh masyarakat. Tanpa mencuba kita terus membuat spekulasi bahawa kita seorang yang lemah. Pernahkah anda merasakan diri anda seorang yang lemah? Semestinya. Anda akan mengalami perasaan ini jika anda seorang manusia yang normal.

Niat Dan Pembinaan Daya Tahan



Niat mempunyai kedudukan yang khusus dalam Islam. Rasulullah s.a.w mengajar umatnya agar memulakan sesuatu amal kebajikan dengan niat. Misalnya, dalam solat kita akan mulakan dengan niat. Dengan niat, barulah sesuatu amal dikira sebagai ibadah yang paling layak diterima oleh Allah s.w.t serta diberi ganjaran.

Kehendak Manusia Atau Kehendak Allah?



Saya cuma ingin berkongsi pendapat tentang keutamaan hidup kita. Bagi saya dalam apa pun keputusan hidup kita, kita perlu membuat keutamaan berdasarkan apa yang kita fahami dalam hidup. Dan pilihan itu adalah berdasarkan apa yang kita fahami tentang tujuan hidup.
Antara dua pilihan atau lebih dari dua pilihan, pilihan yang mana lebih menguntungkan untuk membawa kita ke kehidupan yang lebih baik. Bagi kita ummat Islam tentunya berkaitan dengan hidup di akhirat kelak. Maka jika menyentuh tentang kehidupan akhirat tentunya kita mahukan syurga dan jika kita mahukan syurga, pastinya kita hanya mahukan REDHA ALLAH SWT.
Sebenarnya pilihan ini dibuat berdasarkan apa yang telah kita lalui. Pengalaman. Kemudian lihat pula sejauh mana ilmu kita boleh menilai pilihan itu. Kita perlu faham kenapa seseorang penjenayah memilih untuk membuat jenayah. Apakah mereka tidak tahu jenayah adalah satu kesalahan dan dosa? Tapi mereka tetap mahu lakukannya. Ini sangat berkait dengan cara kehidupan mereka. Siapa mereka berkawan dan apa yang mereke telah lalui? Dan semua itu adalah di luar pengetahuan saya.
tumblr_ly8v78g5lz1r3rdlao1_500
Jadi dalam pilihan kita, apa jenis pilihan pun, kita perlu utamakan pilihan yang mendapat redha dari Allah. Pilihan yang tidak melanggar apa yang ditegah-Nya. Pilihan yang menjadikan kita lebih dekat dengannya.Selain dari itu adalah pilihan yang salah.
Dalam membuat pilihan sama ada untuk menjaga hati manusia atau menjaga Allah, tentulah kita perlu menjaga Allah.. walaupun terpaksa menyakitkan hati manusia. Tentulah agama melarang kita menyakiti sesama insan, tetapi yang manakah lebih penting? Redha Allah atau kesenangan hati manusia?

Allah Bersama Orang Yang Sabar




Tuhan yang beri kita rezeki, dan hanya Dia yang berkuasa mengambilnya semula.
Duit dalam genggaman kita, dalam akaun bank, dalam poket seluar mahu pun beg duit belum tentu lagi menjadi milik kita. Bila-bila saja kita mungkin kehilangannya.
Andai ditakdirkan kita mati hari ini, kita kembali kepada-Nya dengan tangan yang kosong.  Tanpa wang, tanpa harta. Semuanya milik Allah. Dan Dia berhak atas segalanya.
Allah swt berfirman :
“Dan ketahuilah bahawasanya harta dan anak itu sebagai ujian; sesungguhnya Allah pada sisi-Nya itu adalah ganjaran yang besar.” – [Surah al-Anfal : 28]
“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” – [Al-Baqarah 2:155]
Bila diuji, bersabarlah.. dan senyumlah..
Smile
Musibah datang dalam pelbagai cara. Musibah dan ujian merupakan tarbiyah daripada Allah bagi mereka yang celik hati dan akalnya.
Bila diuji, bagaimana penerimaan kita terhadap musibah tersebut? Apakah kita menerima ujian dari-Nya dengan hati yang terbuka, berlapang dada dan kembali muhasabah diri, memperbaiki kelemahan diri dan meningkatkan lagi amalan seharian..?

Atau Bagaimana?

Jarang sekali kita bersyukur dengan ujian yang diberikan. Sedangkan mungkin juga, ujian itu merupakan salah satu peringatan kepada kita, supaya kembali dekat kepada-Nya, agar perbanyakkan amalan kepada-Nya, menadah tangan bermohon doa kepada Dia.
Moga kita dijauhi dari api neraka dan dimasukkan ke syurga.
Kerana Dia kasihkan kita. Sekali-sekala Dia ‘mengejutkan’ kita dari lena yang panjang. Menyedarkan kita dari kealpaan dan kelalaian.
Kerana semuanya milik Dia. Dia memberi kepada sesiapa yang Dia ingini sebagaimana firman-Nya;
“Sesungguhnya Rab (Tuhan)mu melapangkan rezeki kepada sesiapa yang Dia (Allah) kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia (Allah) terhadap hamba-hamba-Nya (Allah) adalah al-Khabir (Maha Mengerti), lagi al-Basir (Maha Melihat).” – [Surah Al-Israk:30]
Wang dan harta yang kononnya milik kita juga bila-bila masa sahaja jika Dia mahu menariknya kembali, dengan pelbagai cara ia ‘pergi’ dari kita.
Contohnya tiba-tiba kita kehilangan wang, tercicir atau diragut. Atau mungkin bagi sesiapa yang miliki kereta, tetiba sahaja kereta rosak, atau tayar pecah atau terlanggar pokok; semuanya perlukan wang dan secara tidak lansung, duit itu keluar dari poket kita.
Allah swt berfirman dalam surah Al-Ankabut, ayat ke-2;
“Adakah manusia mengira, bahawa mereka akan dibiarkan saja, dengan mengatakan: Kami telah beriman, padahal mereka belum lagi mendapat cubaan?”
Maka, bila Allah menguji kita dengan rezeki yang kita miliki. Buka mata. Muhasabahlah, periksa dan koreksi diri sendiri.
Peringatan buat diri saya sendiri adanya. Muhasabah diri sendiri. Mungkin ada sesuatu yang tidak kena, sesuatu yang bukan pada tempatnya yang telah kita lakukan dan Allah mahu ‘menegur’ kita dengan cara tersebut.
Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah bersabda;
“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hambaNya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” – [Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim]
Mungkinkah cara kita mendapatkan rezeki itu tidak diberkati oleh-Nya?
Atau mungkin kita lupa untuk mengeluarkan sebahagian dari harta kita ke jalan Allah?
Atau mungkin juga kita menyalahgunakan pinjaman Allah (contohnya kereta) dengan melakukan perkara-perkara yang dimungkari oleh Allah swt.
Suatu peringatan dari-Nya, agar kita tidak terus leka bergelumang dengan perkara-perkara yang dibenci oleh-Nya.
Atau mungkin Allah menguji kita kerana ingin melihat sejauh mana kita menerima ketentuan-Nya. Bersabar dengan dugaan yang telah Dia berikan kepada kita.
Bukankah Allah sayang kepada orang yang bersabar dan menerima ketentuan-Nya dengan hati yang tenang dan redha?
Firman Allah swt;
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – [At-Taghabun:11].
Bersabarlah wahai hati, sesungguhnya Allah bersama dengan mereka yang sabar dan beriman kepada-Nya.
Allah swt berfirman :
“Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat sekali kecuali bagi orang yang khusyuk.” – [Surah al-Baqarah:45]
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” – [Al-Baqarah:153]
Wahai hati, bersabarlah. Jangan berputus asa dan teruskanlah berjuang, mohonlah pertolongan dan perlindungan daripada Allah. Dan yakinlah bahawa cukuplah Allah sebagai penolong.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts