.

Sabtu, 21 Maret 2015

DARI jabir Abdillah, suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mendatangi sebuah pasar dari sebuah dataran tinggi, sahabat ada di kiri kanan beliau kemudian beliau melewati kambing yang menjadi bangkai dalam keadaan cacat telinganya, kemudian beliau mengambil bangkai tersebut dan mengangkat telinga dan bersabda:
“Siapa yang mau membeli ini seharga satu dirham?” Maka para sahabat berkata: “Gratis saja kami tidak mau ya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, apa yang bisa kami perbuat dengan bangkai tersebut” beliau kemudian berkata: “siapa yang mau mengambil bangkai ini secara cuma cuma” dan sahabat pun berkata “Jika kambing tersebut hidup pun telinganya cacat, kami tidak mau, bagaimana jika sudah menjadi bangkai ya Rasulullah”
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Demi Allah dunia ini lebih hina di sisi Allah dibanding bangkai ini di mata kalian”. (HR Muslim)

Itulah harga dunia yang selama ini menyita kehidupan kita sehari hari. Dunia yang membuat kita lalai dalam beribadah kepada Allah tak ada harganya di sisi Allah. Hal ini juga di pertegas dalam hadist lain.
“Jika dunia itu senilai sayap nyamuk di sisi Allah maka niscaya Allah tidak kan memberikan seteguk minum kepada orang kafir.”
Itulah harga dunia saking tidak berharganya di sisi Allah maka orang kafirpun di beri dunia. Musuh-musuh Allah pun diberi dunia. Dunia lebih rendah dari sayap nyamuk di sisi Allah.
Dalam hadist yang lain:

“Dunia itu dilaknat oleh Allah dan seluruh yang ada di dalamnya kecuali berdzikir kepada Allah, dan semua aktifitas yang Allah ridhai, dan orang yang berilmu serta mempelajari ilmu agama”
Kita disumpahi oleh seorang ustadz/kiyai kita saja takut, apalagi ini yang menyampaikan dan melaknat Allah. Sehingga, ketika kita mengetahui harga dari dunia apa yang harus kita lakukan?
Allah tidak pernah memuji dunia, dunia adalah fitnah
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”  (QS. Al Mulk: 2)
Dunia adalah ujian dari Allah
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al baqarah: 207)
Maka langkah kita adalah Jangan kita membeli dunia dengan seluruh jiwa raga kita, kita akan hancur. Jika kita mencari dunia jadikanlah ia sebagai sarana untuk akhirat.

Umar bin khattab berkata: “Barang siapa mempunyai ambisi dunia maka dia akan jatuh kedalam kemiskinan. Dan barang siapa yang tujuannya dunia maka Allah akan cerai beraikan urusannya dan Allah akan membuat dia dihantui kemiskinan.”

Jangan bersaing dalam mengejar dunia, dengan cara yang halal pun dilarang apalagi dengan cara yang haram. Jangan berlomba-lomba mengejar dunia, yang harus berlomba adalah mengejar akhirat bukan mengejar suatu bangkai dan suatu yang tidak lebih berharga dari sayap nyamuk.
Jika kita hanya berfikir dunia maka kita akan hancur, bukan tidak boleh kaya, lihatlah Umar, abu bakar, Usman dan sahabat lain pun kaya tapi kekayaan mereka digunakan untuk akhirat bukan untuk meraih dunia.
Kita diberi kecerdasan oleh Allah bukan untuk mengoleksi sesuatu yang lebih hina dari bangkai bangkai kambing. Dunia ini terlalu rendah.Jangan membanggakan dunia yang kita miliki, dunia tidak pantas dibanggakan dan dipamerkan( rumah, mobil, uang,investasi dsb), dia tidak lebih berharga dari sayap nyamuk.
Orang yang membanggakan dan memarkan dunia itu memalukan. Orang yang berbangga dengan barang barang ber-merk yang dipakai. Orang orang yang besar itu tidak akan bangga dengan barang yang dipakai tapi karena dianya, karena imannya, karena ilmunya. Orang besar tidak perlu atribut, karena ia besar dengan sendirinya.Orang yang bangga dengan barang yang dimiliki dia adalah orang kecil.
Umar bin khattab dia tidur di tanah, tapi beliau orang yang besar karena iman dan ketakwaannya. Dan jangan pernah meremehkan manusia karena dunia itu sombong
“Tidak akan masuk surga orang yang ada dalam hati mereka sedikit kesombongan “
Jangan meremehkan orang karena status sosial, kecerdasan kita, harta kita. Lihatlah para sahabat ketika mereka begitu menghormati Bilal meski ia mantan budak karena mereka menghormati bilal karena imannya.
“Betapa banyak orang yang rambut berantakan, tubuhnya penuh debu, ketika mengetuk pintu manusia tidak akan membukakannya tapi sekali mengangkat tangan kepada Allah mengetuk pintu langit, Allah langsung mengabulkan doanya”
“Dan tidaklah kehidupan dunia adalah sandiwara yang menipu, dan kehidupan sesungguhnya adalah akhirat”
Apa yang harus dikejar adalah akhirat
Ibn rajak berkata: “Barang siapa yang memenangkanmu dalam urusan dunia, kalahkan ia dalam masalah akhirat”

Kalahkan manusia dalam masalah akhirat. Di akhirat inilah kita harus bersaing
“Barang siapa yang menuntut ilmu dalam ilmu agama maka Allah akan pintaskan jalannya menuju surga”
Untuk mengetahui rute menuju akhirat, menuju syurga maka harus berilmu.
“Kita akan berhadapan dengan Allah di hari akhir . Allah berkata : “Iqra!” Kemudian kita akan membaca terus , maka Allah berkata: “naik lah terus naik” ,Karena sesungguhnya derajatmu akan terhenti di ayat terakhir yang kau baca”
Tidak akan ada mushaf di hari kiamat, semuanya membaca dengan hafalan masing masing, itulah yang menentukan derajat kita disisi Allah. Teruslah belajar dan belajar berapapun usia kita ,jangan pernah malu.
Iman mujahid berkata: “Tidak akan belajar dan sukses orang yang malu dan orang yang sombong”
Mari belajar dan amalkan maka kita akan mendapatkan akhirat


Sumber : Islampos

Jumat, 20 Maret 2015

NAMA adalah identitas penting bagi setiap orang. Namun, bagaimana jadinya jika sebuah negara banyak warganya yang berganti nama tiap harinya. Tentu hal ini bisa merepotkan banyak pihak, seperti yang terjadi di Saudi. Sedikitnya 10 orang Saudi dilaporkan telah mengubah nama mereka tiap harinya, harian Makkah melaporkan pada Selasa (17/3/2015).

Sebuah sumber informasi di lembaga Kementerian Dalam Negeri untuk urusan sipil mengatakan, sebagian besar penggantian nama dilakukan oleh perempuan. Sumber itu mengatakan sekitar 240 orang Saudi mengubah nama pertama mereka tiap bulannya.

“Sebagian besar pemohon ingin mengganti nama adalah wanita yang ingin memiliki nama lebih menarik. Mereka percaya bahwa nama yang bagus akan membuat mereka lebih cantik,” ungkap seorang pejabat kementerian.

Dia mengatakan meski sejumlah nama yang ingin diganti tidak tabu dalam pandangan Islam atau masyarakat, pemohon amat antusias untuk mendapatkan nama-nama yang lebih modern dan terhormat, alarabiyamelaporkan pada Kamis (19/3/2015).

Sumber itu mengatakan beberapa pria dan wanita merasa malu dengan nama yang memiliki arti buruk.

Sebelumnya, kementerian pendidikan telah meminta orang tua untuk memberikan nama yang tepat untuk anak-anak mereka. Mengingat bahwa Nabi Muhammad juga pernah mengubah nama-nama sejumlah sahabatnya karena konotasi yang kurang pantas. 

Sumber : islampos

SAYA punya seorang teman. Beliau tinggal di Bangka. Sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak, laki – laki, dilahirkan bulan September 2013 lalu.
Suatu saat beliau berkesempatan ke Jakarta, namun sendirian, tidak dengan keluarganya. Hingga akhirnya kami dipertemukan.

Kami berbincang panjang lebar, namun bukan itu yang ingin saya ceritakan di sini. Di satu malam, beliau merapikan pakaian dalam tas yang dibawanya. Kemudian mengeluarkan sebuah pakaian, kecil sekali, terlalu kecil untuknya.
“Ini baju Ichi (nama anak laki lakinya)”, katanya.
“Lah, kenapa dibawa bawa?” Tanya saya.
“biarin, biar kalo pas lagi kangen sama Ichi, saya cium wangi bajunya, langsung deh di depan kepala saya kebayang bayang terus mukanya Ichi”, jawabnya sambil meledek.

Sempat membatin,”ada ada aja”. Namun seketika itu terpikir, memang demikian besar cinta orang tua kepada anaknya. Hingga dimanapun orang tua berada, yang terpikir hanyalah anaknya. Sampai sampai membawa sehelai baju anaknya, untuk melepas rindu karena berpisah dengan anaknya, padahal beliau ke Jakarta hanya sebentar saja.
Semula saya berpikir, agak lucu sepertinya. Tapi demikianlah, begitu besar cinta orang tua kepada anaknya.
Dimanapun, kapanpun, yang terbayang dan terpikir adalah anaknya, anaknya, dan anaknya. Bagaimana membesarkan si anak dengan baik, bagaimana menjaganya tetap baik hingga besar, bagaimana membesarkannya dalam kebahagiaan. Sebesar itulah cinta orang tua kepada kita, lebih besar dari yang mampu kita gambarkan.
Hingga kini kita mendewasa dan kedua orang tua kita semakin menua, sudah seberapa besar cinta kita kepada keduanya? Menemaninya ketika sepi. Hadir ketika membutuhkan kehadiran di sisi. Menjawabnya ketika suara senjanya memanggil. Mendengarkannya ketika bercerita. Menjaga setiap kerinduannya. Sudahkah?

Sumber : Islampos
ISLAM dan Cinta bagaikan dua mata uang yang tidak bisadipisahkan. Suatu hari Thufail Ibnu ‘Amr Ad-Dausi memilih untuk masuk Islam, istrinya menghampiri dan hendak menyarangkan pelukan pada tubunya, namun karena ia sudah memilih jalan untuk masuk Islam, ia menghindari pelukan itu seraya berkata dengan penuh kelembutan: “Duhai kekasihku, kini memelukmu tidak lagi halal bagiku.” Dengan wajah bingung sang istri bertanya: “Memangnya kenapa?” Suaminya menjawab dengan penuh rasa cinta. “Duhai kekasihku, kini aku telah memilih jalan untuk ikut dalam agama Muhammad,aku telah memeluk Agama Islam, sehinggaaku tidak lagi boleh memelukmu.”
Mengetahui kesejatian cintanya kepada Islam, istrinya kemudian membalas ucapan sang suami dengan kesejatian cinta. “Duhai kekasihku, akua dalah kamu. Agamamu adalah agamaku.” Sejak itu Pelukan cinta keduanya tidak lagi bersifat fana, ikatan cinta mereka telah terbingkai dengan hiasan syurga.
Islam dan Cinta bagaikan dua mata uang yang tidak bias dipisahkan, Ikrimah anak Abu jahal itu menampakkan kesombongannya.“Tidak,” Ucapnya penuh dengan kemunafiq-kan.“Meski secuil saja, saya tidak tertarik dengan agama Muhammad, lebih bai ksaya pergi jauh meninggalkan Makkah, dari pada saya harus turut serta dalam barisan Muhammad.” Ketika penduduk Makkahb erbondong-bondong masuk Agama Islam, termasuk istriIkrimah, Anak Abu Jahal ini malah menghindar dan memilih untuk angkat kaki menuju kotaYaman.
Istrinya yang merupakan keturunan Al-Harats Ibnu Hisyam tidak membiarkan suaminya berpaling. Rasa cinta mengundanya untuk berusaha membujuk Ikrimah. Rasa cinta pula yang menggerakkan kakinya untuk melangkah dari Makkah menuju Yaman. Keduanya berjumpa, dan kembali berpeluk mesra setelah istrinya berhasil mengajak Ikrimah memeluk Islam.Ikrimah kemudian melangkahkan kaki bersama istrinya,  menuju kehadapan Rasulullah SAW serayaberikrar bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah  utusan Allah.

Islam dan Cinta bagaikan dua mata uang yang tidakbisadipisahkan, sebagaimana Ummu Sulaim menolak lamaran Abu Thalhah, Karena adanya perbedaan keyakinan, maka Ummu Sulaim menolak lamarannya dengan penuh kelembutan,. “ Duhai sahabatku, kini aku telah memeluk agama islam. Jika engkau memeluk agama Islam, dengan sukarela aku akan menerima pinanganmu. Aku berharap engkau memeluk Islam agar  aku selamanya ada dalam pelukanmu.” Setelah itu masuk Islamlah Abu Thalhah dan resmi menjadi suami UmmuSulaim, dalam ikatan cinta dan keyakinan.

Kekuatan terbesar untuk membuat perubahan adalah cinta. Bukan kekerasan, amarah, fanatisme dan bukan pula kekuasaan. Apa kiranya motivasi orang yang berpuasa sehingga mereka rela menahan rasa haus dan dahaga? Apa kiranya motivasi orang yang sedang sibukbekerja, kemudian menghentikan pekerjaannya sejenak untuk melakukan Shalat? Dan apa yang membuat para perempuan bertahan mengenakan kerudungnya, terlebih disaat terikpanas sinar matahari? Apa pula kiranya yang membuat manusia mema’afkan kesalahan saudaranya? Itulah cinta, kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulnya yang membuat semua perbuatan itu bias mereka lakukan, Meskipun mereka harus mengerahkan kesabaran ekstra.
Makadari itu Rasulullah SAW sangat memperhatikan cinta.Termasuk ketika Rasulullah hendak membangun sebuah Negara. Dua pekerjaan yang pertama kali digagas oleh Rasulullah  SAW ketika hendak mendirikan daulah, pertama ia mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Pada mulanya Rasulullah mempereratikatan cinta antara masyarakat pribumi dan pendatang, Sampai kemudian tertanam  rasa aman dan tentram pada keduabelah pihak. Setelah itu Rasulullah SAW menumbuhkan kepada kaumnya rasa cinta kepada Allah SAW dengan keterikatan yang erat terhadap Masjid yang dibangun secara berjamaah.
Setidaknya ada dua cara yang digunakan untuk mengubah tingkahlaku dan pola pikir manusia. Yang pertama dengan cintadan keduadengan memberikan harapan berikut ancaman. Pengaruh cinta terbukti memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding dengan pengaruh memberikan harapan berikut ancaman. Bahkan pengaruh cinta ini memiliki efek jauh lebih panjang

Sumber : Islampos

Kamis, 19 Maret 2015

Sebagian pemuda yang sudah mampu menikah dan sudah punya kemampuan finansial, namun sengaja menunda nikah. Padahal menikah tak melihat pada umur. Menikah tak juga menunggu sampai dapat gelar, tak mesti menunggu hingga diwisuda sarjana.
Coba perhatikan saja di kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada ‘Amr bin Al ‘Ash dan anaknya, ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash. Kalau dilihat ternyata umur keduanya –antara bapak dan anak- hanya terpaut sepuluh atau sebelas tahun. Bayangkan di usia berapa ‘Amr itu menikah? Sangat-sangat belia.
Dari situ Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menyatakan, “Untuk zaman ini, tidak mungkin seseorang menikah di bawah dua puluh tahun, biasanya di atas umur tersebut. Bahkan yang menikah dini –di bawah dua puluh tahun- malah jadi ‘aib. Ini jelas anggapan keliru. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkan menikah dengan umur. Beliau hanya mengatakan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ
Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400). Sehingga pemahaman yang ada pada kalangan muda bahwa menikah haruslah menunggu hingga selesai sekolah, keliru besar. Pemahaman ini harus diluruskan. Karena anggapan seperti itu bertentangan dengan dalil yang menyatakan bahwa siapa yang sudah punya kemampuan, maka menikahlah.
Sekali lagi, menikah tidaklah mesti menunggu hingga selesai kuliah. Pemahaman seperti itu adalah pemahaman keliru. Nikah sama sekali tidak menghalangi orang untuk kuliah. Bahkan ada yang dengan menikah, barulah ia bisa merampungkan kuliahnya.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 4: 229).

Jadi bagi Anda yang sudah mampu menikah, jangan tunda-tunda. Apalagi sudah dapat restu orang tua. Semoga Allah mudahkan. Bagi yang belum mampu dari sisi finansial, harap bersabar dan melakukan puasa sunnah


Sumber : Rumaysho.com
Ingatlah bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme, silakan mengkaji dalam Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sebenarnya terorisme tidak bisa dikatakan dimonopoli oleh Islam.

Terorisme itu Apa?

Tindakan teror dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata irhab, bentuk mashdar dari kata ‘arhaba’, ‘yurhibu’, ‘irhaban’. Maksudnya adalah meneror atau menakut-nakuti orang lain. Jadi makna ‘irhab’, bukanlah membunuh, makna asalnya adalah takut. Contoh misalnya dalam dua ayat kita dapat melihat hal ini,
وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al Baqarah: 40).
Contoh kedua pada ayat,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60).
Dalam Wikipedia disebutkan, “Teror atau terorisme selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasidan sabotaseumumnya langsung, sedangkan terorisme tidak.”
Namun kalau dalam istilah media, terorisme lebih identik pada tindakan pembantaian yang menewaskan orang banyak. Istilah ini lebih disematkan pada Islam dibanding ajaran atau agama lainnya.




Ayat yang Melarang Terorisme

Dalam hukum Islam, siapa saja yang melakukan teror dan menakut-nakuti orang lain, ia akan dikenakan hukuman yang berat. Mereka inilah yang disebut dengan orang berbuat kerusakan di muka bumi seperti halnya para penyamun atau tukang begal. Mereka akan dikenai hukuman yang berat supaya tindakan jahat tidak lagi berulang, juga untuk menjaga harta, darah dan kehormatan orang lain. Tentang orang semacam ini disebutkan dalam ayat,
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Maidah: 33).
Ingat pula bahwa Islam melarang membunuh orang lain, bahkan jika satu nyawa dibunuh tanpa alasan yang benar, berarti ia telah membunuh manusia seluruhnya. Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al Maidah: 32). Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman bahwa ayat ini juga ditujukan para para tukang begal atau penyamun yang mengancam membunuh atau merampas harta orang lain dengan cara paksa.
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa meneror atau tindakan terorisme terlarang dalam Islam.

Hadits yang Melarang Terorisme

Dalam Islam, meneror atau menakut-nakuti orang lain walau bercanda atau sekedar lelucon saja dilarang.
Dari ‘Abdullah bin As Sa’ib bin Yazid, dari bapaknya, dari kakeknya, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا
Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.” (HR. Abu Daud no. 5003 dan Tirmidzi no. 2160. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dalam riwayat lain disebutkan,
وَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا
Siapa yang mengambil tongkat saudaranya, hendaklah ia mengembalikannya” (HR. Abu Daud no. 5003)
Dalam ‘Aunul Ma’bud (13: 250-251) karya Al ‘Azhim Abadi terdapat pernyataan, “Kalau mengambil barang orang lain bukan dalam rangka bercanda jelas terlarang karena termasuk dalam kategori mencuri. Adapun jika mengambilnya sebagai candaan saja, seperti itu tidak bermanfaat. Bahkan hal itu hanya menimbulkan kemarahan dan menyakiti orang yang empunya barang.”
Dalam hadits disebutkan bahwa yang diambil dan disembunyikan adalah sebuah tongkat. Barang tersebut dianggap sebagai barang yang tafih (sepele atau bukan sesuatu yang amat berharga). Namun jika menyembunyikan yang sepele seperti ini saja tidak boleh walau bercanda, apalagi yang lebih berharga dari itu. Demikian penjelasan dalam Tuhfatul Ahwadzi, 6: 380.
Meneror atau menakut-nakuti orang lain itu termasuk berbuat dosa. Pernah di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama beliau, lalu ada seseorang di antara mereka yang tertidur dan sebagian mereka menuju tali yang dimiliki orang tersebut dan mengambilnya. Lalu orang yang punya tali tersebut khawatir (takut). Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud no. 5004 dan Ahmad 5: 362. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Al Munawi menyatakan bahwa jika dilakukan dengan bercanda tetap terlarang karena seperti itu menyakiti orang lain. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 13: 251.

Gelar Teroris itu Buatan Orang Kafir

Guru kami, Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan hafizhahullah berkata,
“Orang-orang kafir sejak dahulu telah memerangi kaum muslimin. Mereka yang selalu memberikan gelaran yang tidak baik para orang Islam, supaya orang-orang menjauh dari Islam. Sebagaimana yang Allah sebutkan,
يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah: 32).
Orang kafirlah yang menggelari orang Islam dengan teroris, segala sifat jelek disematkan pada orang Islam. Padahal sebenarnya itu bukan ajaran Islam, namun ajaran dan karakteristik orang kafir.
Adapun jika ada orang Islam yang keliru atas dasar kejahilan atau niatan yang jelek, maka perbuatan mereka tak disandarkan pada ajaran Islam karena Islam melarang tindakan tersebut.
Supaya kita terlepas dari tuduhan jelek tersebut, maka hendaklah dijelaskan bahwa tindakan teror semacam itu bukanlah bagian dari Islam. Itu hanya kelakukan perorangan. Orang muslim bisa jadi juga salah. Yang bisa kita anggap selamat dari kesalahan (alias: ma’shum) adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan 1: 416, soal no. 247).
Padahal kalau kita menilik sejarah yang melakukan pembantaian paling banyak hingga puluhan juta orang adalah non muslim. Contoh saja:
  1. Hitler membantai 6 juta orang Yahudi dan 60 juta orang pada perang dunia II. Hitler seorang Kristian.
  2. Joseph Stalin (Uncle Joe) telah membunuh 20 juta orang dan 14,5 juta telah mati kelaparan.
  3. Mao Tse Tsung dari Cina telah membunuh 14 – 20 juta orang.
Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Abu ‘Abdirrahman Saroful Haqq Muhammad Asyrof Ash Shidiqi Al ‘Azhim Abadi, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1430 H.
Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Abul ‘Ulaa Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurahim Al Mubarakfuri, terbitan Darul Faiha’, cetakan pertama, tahun 1432 H.
Presentasi Dr. Zakir Naik, Is Terrorism A Muslim Monopoly?
http://islamqa.info/ar/117724
http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_terorisme


Sumber : Rumaysho.com

Kamis, 12 Maret 2015

Innallah ha la yughaiyyiru ma bikaumin hatta yughaiyiru am bianfusihim
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’du: 11)
SIAPA yang menjamin esok aku masih akan di dunia ini? Adakah manusia di dunia ini mampu memberikan jaminan bahwa aku akan hidup beberapa tahun lagi? Aku sadar, mungkin jawaban tentu tidak akan ada. Jangankan beberapa tahun lagi satu detik pun tak akan pernah ada yang bisa menjamin tentang itu? Bukan begitu ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz
Hari ini mungkin aku masih dapat tertawa, tersenyum, berjalan, bernyanyi, dan sehat. Sehingga terkadang dengan pedenya aku berkata dan merasa bahwa diri takkan mati sekarang. Pantaskah diri berbicara begitu, ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz
Banyak yang tak sadar, seperti halnya insan sepertiku. berjalan kian angkuh dihadapan-Nya. Merasa tak ada yang perlu dicemaskan dalam keangkuhan diri ini. merasa aman dan nyaman atas rutinitas yang selalu berbalut dengan kemaksiatan. Adakah sejatinya, itu adalah ciri pribadi muslim yang baik ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz
Bukankah, saat jantung masih berdetak dan nafas masih berhembus itu adalah cinta Allah untuk manusia sepertiku? Allah izinkan aku untuk menebus dosa disisa hidupku melalui pertaubatanku terhadap-Nya, bukan karena aku baik kan ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz
Aku rindu akan kebaikan dan berbuat baik. Aku ingin Allah mendatangkan penyesalan di hatiku, sehingga aku bisa memeluk cinta-Nya. Saat itu datang kepadaku, aku tak ingin melepaskan peluang ini menuju perataubatanku yang sesungguhnya, dan tak akan ku biarkan aku memilih untuk semakin menjauh daripada-Nya walaupun tanpa kerelaan hanya kerana malu dengan manusia sekeliling? Salahkah bila itu jalan yang ku pilih ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz
Setiap orang mempunya potensi untuk menjadi baik, karena mencintai kebenaran itu adalah fitrah manusia. bukankah demikian ustadz? Tapi kenapa kadang diri masih lalai mengabaikan potensi baik itu. Sering kali  ku ucapkan bahwa, aku ingin berubah. Sudah berapa kali pula aku berazam dan beriltizam, aku ingin menjadi lebih baik. Sudah ribuan kali pula aku berkata dalam hati,  aku ingin memperbaharui iman dijiwa ini. Sudah berfikir berkali-kali, aku ingin memperindah akhlak ibadahku ku, tapi semuanya masih terbengkalai akan nafsu keduniawian yang menjalar di dada ini. adakah peluang aku menggapai semua itu ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz

Hakikatnya akhir dari perjalanan ini mengantarkan manusia ke dua tempat muara. Muara itu bernama surga atau neraka. Lalu adakah syurga diperuntukkan untuk orang lalai dalam menjalani ibadah kepada-Nya, atau adakah kelezatan di neraka sana, sebagaimana kelezatan berbuat maksiat di dunia ini? Bila peringatan itu tak mampu menyadarkan manusia sepertiku. Bukankah hamba termasuk ke dalam orang yang merugi, ustadz?
Aku ingin berubah, ustadz… Aku ingin berubah, ustadz… Aku ingin berubah, ustadz…
Sudah diambang mata, waktu berlalu begitu cepatnya sejalan dengan berkurangnya akan usia. kini tiada hal yang paling indah selain sebuah muhasabah diri sepanjang perjalanan yang pernah dilalui. Akankah aku dapati amalan diri yang masih tersimpan kebaikan atau justru hanya kudapati dosa yang menggunung tinggi. Aku yakin tiada kata terlambat untuk berubah. Selagi nafas masih Allah titipkan selagi itu pula Allah berikan kesempatan untuk memperbaharui dan menyongsong perubahan menuju kebaikan.
Bila dalam perjalan banyak kealfaan kepada insan sekalian, mohon dibukakan pintu maaf dan mencurahkan do’a agar Allah menetapkan hati, pikiran dan jiwa ini untuk terus menyusuri jalan kebaikan. Sebagaimana kebaikan yang terpancar dalam jiwa-jiwa kalian.
Dan kepada Engkau Yaa Allah, pemilik hati ini da Maha pembolak-balikan hati hamba, maka tetapkan hati ini dalam ketaatan kepada-Mu. Aamiin.
Menuju Berkurangnya Usia (Renungan usia). Semoga masih ada kebaikan di dalamnya walau hanya sedikit

Sumber : islampos
SAAT sebuah kata kau dengar dariNya, manusia. apakah engkau merindukan surga? Tak banyak yang menapik bahwa engkau teramat sering mengharapkan dan mendamba bahwa engkau ingin bersinggah di tempat yang sering kau sebut-sebut dalam setiap luahan do’amu, surga.
Surga, pesonanya memikat milyaran jiwa yang hidup. Ada jiwa yang berusaha tanpa henti dan berjuang keras, ada pula yang jatuh bangun untuk mendapatkannya. Tapi, adapula jiwa yang rapuh dan mudah putus asa, sehingga membiarkan dirinya tenggelam dalam genangan dosa. Mengapa bisa terjadi? tak jarang banyak jiwa yang memandang lemah, merasa jalan ke surga itu sulit, melelahkan serta banyak rintangan dan mustahil untuk dilalui.
Wahai jiwa yang lemah, saat kau hampir putus asa, atau telah berputus asa. Adakah gerangan jiwamu tuk membangkitkan hati nurani dalam jiwamu? dan adakah engkau perlahan mencoba tuk berusaha merubah jalan takdirmu, menuju jalan ketaqwaan. bukankah engkau merindukan surga?
Saat kau benar merindukan surga, aku hanya ingin menguntai cinta dalam secarik tulisan ini. khususmu, wahai engkau  muslimah. betapa banyak hal yang ingin ku sampaikan.
Muslimah, adakah kau ingat saat dahulu kaummu hidup dalam kesengsaraan. saat semua orang membenci kelahiran anak perempuan sepertimu. Semua ingat masa-masa itu… penuh kebencian! Kau dikubur hidup-hidup saat kau baru membuka pertama kali matamu ke dunia. Ingatkah? itulah saat masa jahiliyah itu. Namun ingatkah, saat Islam datang membawa pesonanya mengubah paradigma masa jahiliyah.
Seorang wanita dan kaum perempuan memperoleh berbagai kemuliaan, penghargaan, penghormatan dan perlindungan  secara fulltime dan sangat sempurna. Jangan kau coba menapik ini. Salah satu bukti nyata dari tingginya perhatian Islam terhadap engkau adanya perintah berjilbab. Islam memandang jauh dari sekedar pikiranmu yang terbatas terhadap dirimu sendiri. Hakikatnya, perintah itu tuk melindungimu.
Bukankah berjilbab merupakan kewajiban yang ditaklifkan (dibebankan) kepada seorang wanita muslim? Setiap muslimah
Di bawah pesona Islam yang indah ada maksud yang begitu mulia, agar wanita terjaga dari pandangan kaum pria yang fasik dan mulut kotor orang-orang yang acuh akan titah-Nya. Ingatlah hal  ini, hal yang tidak mudah bagi kaum laki-laki sepertiku untuk menguasai diri ketika berhadapan langsung dengan kecantikan mu yang memukau. Dan engkau membiarkan dengan sengaja mengumbar keelokan tubuhmu secara terbuka dihadapan pasang mata laki-laki sepertiku. Jangan engkau biarkan laki-laki seperti kami melakukan yang tak sebenarnya ingin kami lakukan. Jagalah!











Sekali lagi, ingat hakikatnya Islam ingin mengangkat kehormatan dan martabat wanita. Dalam Islam, jilbab merupakan proteksi bagi wanita, bukan merupakan suatu bentuk pengekangan. Adakah alasan lain yang menghambatmu tidak berjilbab? alasan karena khawatir aura kecantikanmu memudar? Tidak! Sesekali tidak, jilbab tak akan akan menghilangkan aura kewanitaan dan kecaatikan muslimah. Sebaliknya Justru kian memperkuat status kewanitaan mu sebagai seseorang muslimah.
Engkau tahu berjilbab adalah sebuah kewajiban seorang wanita muslim, tapi kenapa engkau masih acuh akan perintah dari-Nya? Engkau enggan untuk berjilbab dengan dalih tapi… tapi… Sampai kapan engkau akan seperti itu? atau engkau sedang menunggu sampai ada seseorang yang menutupi tubuh auratmu dengan kain putih, kafan? adakah jaminan mu hidup esok hari dan engkau masih menggu dan terus menunggu sampai engkau tua nanti?
Jangan buat dirimu menjadi diri yang sombong, seolah engkau adalah pemilik kehidupan dan engkau merasa tahu kapan engkau masih hidup. sehingga engkau lalaikan perintah dariNya. bukankah engkau merindukan surga dariNya? Saat yang lain masih acuh, engkau harus mulai berbeda dan membuka mata. Ingat, surga hanya diperuntukan bagi mereka yang taat akan perintah darinya dan salah satu pendakian menuju surgaNya adalah saat engkau berani mengambil keputusan untuk berjilbab.
Ayo mari berjilbab syar’i! []
wajib mengenakan jilbab yang menutupi anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Sumber : Islampos
SUNGGUH merugi orang yang berbuat syirik. Fenomena memang dijaman yang sudah canggih ini, masih banyak masyarakat yang masih mempercayai keyakinan dan menyembah terhadap berupa benda-benda dan hal gaib selain Allah SWT. Keluar dari konteks cara syirik, sifat riya’ ternyata termasuk ke dalam golongan syirik kecil, namun tidak berwujud penyembahan, akan tetapi dikategorikan kepada penglihatan dan keinginan untuk dipuji oleh manusia dan bukan karena Allah SWT.
Maka sifat ini sungguh fatal karena akan menjerumuskan ke dalam prilaku tercela. padahal keyakinan dan kesibukan mereka malah akan mendapatkan nilai sosial yang kurang baik dan amalan yang sia-sia dihadapan Allah, bahkan Allah pun melaknatnya.
Mereka tidak banyak memikirkan mengenai keesaan Allah dan keMaha kayaan Allah.
Seperti dalam Firman Allah, “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Lukman: 13)
Dalam pandangan islam riya’ itu adalah syirik kecil atau tersembunyi Riya’ dalam setiap amalan. Riya akan tetap menghantui diri setiap manusia, maka dari itu kita perlu meminta permohonan hanya kepada Allah SWT agar dapat terlindungi dan lebih berhati-hati akan sifat riya’. Asas amalan yang soleh yang dapat kita lakukan ialah ikhlas karena Allah SWT sama ada dalam solat, zakat, haji, puasa, sedekah atau sebagainya.
Allah SWT telah memerintahkan kita supaya ikhlas kepada-Nya sebagaimana yang telah di firmankan:
“Sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah beliau mengerjakan amal yang soleh, dan janganlah beliau mempersekutukan sesiapa pun dalam ibadatnya kepada Tuhannya,” (QS. Al-Khadi: 110)

Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan kepada kita tentang orang yang menunjuk-nunjukkan amalannya. Orang itu umpamakan seperti orang mengisi dompetnya dengan ketulan batu dan kemudian ke pasar untuk membeli sesuatu dengannya. Orang mentertawakannya dan beliau berasa malu karena ketulan batu itu tidak memberi manfaat baginya, malah menjadi buah mulut orang.
Sungguh amalan riya’ tidak ada ganjaran baginya.
Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah
dengan senantiasa mendekatkan diri dengan Allah insyaAllah Allah akan menjaga kita dari malapetakan dan bahaya. Dan InsyaAllah Allah akan melindungi kita dari perbuatan syirik.
Memahami macam-macam Syirik
Syirik yang banyak macamnya perlu dipahami sebab hal-hal seperti ini yang dapat membimbing kita dalam menakar apakah aktivitas yang kita lakukan merupakan syirik atau bukan sehingga kita dapat terselamatkan dari perbuatan syirik tersebut.
Menambah Tsaqofah Islam
Dengan membaca buku-buku islam karya ulama-ulama terdahulu, insya Allah akan memperkuat iman kita sehingga kita dapat terhindar dari perbuatan syirik. Insya Allah.

Selasa, 10 Maret 2015

“BARANG siapa yang bertakwa pada Allah niscaya akan dijadikan baginya semua perkaranya menjadi mudah,” (QS. Ath-Thalaq ayat 4).


Saudaraku, engakau salah bila beranggapan bahwa di dunia ini kebutuhanmu bisa terpenuhi seratus persen. Hal itu tidak akan terjadi kecuali hanya di syurga. Adapun di dunia, segala sesuatu adalah semu.
Semua yang engkau inginkan tidak akan tercapai semuanya tetapi pasti akan datang kepadamu ujian, musibah, dan penyakit. Maka jadilah hamba yang pandai bersyukur di saat mendapat kenikmatan dan bersabar disaat ditimpa kesengsaraan. Jangan bermimpi kalau semua cita-citamu akan tercpai, akan selalu sehat, akan selalu kaya, dan akan selalu bahagia. Selalu ingin mendapatkan teman yang tanpa aib, atau mendapatkan suami/istri yang sempurna, semua itu adalah mustahil.
Saudarku, anggaplah bahwa dirimu itu penuh dengan kekurangan dan membutuhkan koreksi orang lain. Usahakan untuk selalu memandang sisi positif pada segala sesuatu yang tejadi pada dirimu. Jangan berburuk sangka pada pencipta-Mu. Jangan jadikan manusia sebagai sandaran hidupmu. Manusia sangat tidak pantas untuk engkau jadikan sandaran dan tempat bergantung.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesunggunya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-Jatsiyaah ayat 19). [reni/islampos]
BERBAGAI upaya yang dilakukan oleh penggiat feminisme untuk mendiskreditkan syariah Islam, hingga saat ini kian gencar gaungnya. Mereka berusaha terus mengopinikan bahwa, syariah Islam tidak sejalan dan tidak adil terlebih untuk kaum perempuan. Mereka menganggap hukum-hukum yang ada dalam Islam terkait perempuan, telah memasung perempuan untuk mengeksistensikan dirinya dalam kehidupan.
Sebagai contoh yang kerap mereka gembar-gemborkan adalah tentang perwalian, hak waris, tentang kewajiban berjilbab dan menutup aurat sebagaimana yang mereka kritisi dalam perda Aceh.
Menurut mereka, aturan tersebut tidak adil dan telah memasung kebebasan kaum perempuan. Kaum perempuan menjadi tidak bisa maju dan eksis khususnya dalam ranah publik. Soal materi, mereka anggap bahwa perempuan dalam Islam tidak bebas untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri karena tersandung dengan statusnya jika dia sudah menikah dan mempunyai anak.
HAM dan Agenda Barat


Wajar saja dengan apa yang diopinikan oleh kaum feminis tersebut. Karena asas yang digunakan adalah asas liberal dan juga atas dasar HAM. Bagi paham liberal, semua hal adalah bebas dilakukan selama itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan tidak melanggar etika. Hak asasi manusia yang mengusung kebebasan juga menjadi ukuran dalam berbuat. Yaitu kebebasan dalam beragama, berpendapat dan juga kebebasan dalam bertingkah laku.
Sebagai contoh, setiap orang bebas dalam memilih agama, termasuk berpindah-pindah agama. Setiap orang juga bebas untuk berekspresi walaupun itu mengumbar aurat dan merangsang naluri seksual.
Propaganda ini bukan hanya menjadi target kaum feminis. Namun jika dirunut lebih dalam, ada agenda besar yang memang sengaja dirancang oleh asing dalam hal ini adalah AS dan juga Negara-negara sekutunya yang membenci Islam. Dalam sistem negara demokrasi yang dikokohkan oleh AS, aturan dibuat oleh manusia atas dasar dan juga ide dari manusia.
Aturan agama tidak boleh dipakai untuk kehidupan umum dan negara. Demokrasi menjadikan sekularisasi dalam setiap lini kehidupan. Agama hanya dalam ranah privat yang tak boleh digunakan untuk umum apalagi negara. Begitulah agenda asing yang tak hentinya menyerang Islam. Salah satunya adalah ide-ide kebebasan yang digemborkan oleh pegiat feminisme terhadap perempuan dalam berbagai PERDA, contohnya yang ada di Aceh.
Perempuan Mulia hanya dengan Penerapan Syariah Islam dalam naungan Khilafah
Apa yang dituduhkan oleh para feminis tentang ketidakadilan syariah Islam bagi perempuan adalah tuduhan dan kebohongan yang tak berdasar. Jelas bahwa dalam Islam, perempuan begitu dimuliakan. Hukum-hukum yang berlaku padanya sangatlah sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan. Islam juga melindungi kaum perempuan dengan perlindungan yang menyeluruh.
Sebagai contoh, tentang kewajiban menutup aurat bagi perempuan. Itu adalah untuk melindungi kaum perempuan dari bahaya dan juga hal-hal yang menjurus pada kemaksiatan. Bukan mengekang seperti yang dikatakan oleh para feminis. Demikian juga dengan perwalian yang ada pada kaum perempuan, itu semata-mata adalah karena Islam menjamin secara detail hak-hak perempuan termasuk hak akan nafkah dan sebagainya.
Islam memandang bahwa, peran perempuan dalam rumah tangga adalah mulia. Ia sebagai ummun wa rabbatul bait, sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Kewajiban mendidik anaknya hingga akan menghantarkan mereka menjadi generasi yang sholeh dan juga bertakwa. Peran perempuan ini bukanlah untuk memasung kaum perempuan justru ini adalah sejalan dengan fitrah dan naluri perempuan.
Karena aturan itu dibuat oleh Allah SWT, yang menciptakan sekaligus mengatur semua yang ada dalam kehidupan ini.
Oleh karena itu sudah seharusnyalah kita menolak dan juga menentang agenda dan opini-opini buruk terkait penerapan syariat Islam khususnya terkait perempuan. Kita harus menhghimpun kekuatan dan persatuan untuk membongkar agenda kebohongan tersebut. Perempuan mulia hanya dengan diterapkannnya syariat Islam dalam naungan khilafah yang akan melindungi kaum perempuan dari semua bahaya dan juga maksiat kepada Allah SWT. []

Sumber : islampos
MARAKNYA begal motor di berbagai daerah—selain berbagai bentuk tindakan kejahatan lainnya semisal pembunuhan, pelecehan seksual, pencurian dan lainnya—makin memperparah ancaman terhadap rasa aman masyarakat. Semua ini menunjukkan bahwa sistem yang ada gagal menjamin rasa aman bagi masyarakat. Masyarakat akhirnya jadi tumbal.

Ragam kejahatan harus diatasi melalui pencegahan dan penindakan. Penindakan dilakukan oleh aparat penegak hukum saat terjadi tindak kejahatan. Adapun pencegahan bisa dilakukan di antaranya melalui pendidikan. Namun, nyatanya sistem pendidikan saat ini juga gagal. Buktinya, banyak remaja usia sekolah menjadi pelaku kejahatan, termasuk kejahatan geng dan begal motor.
Sistem hukum dan proses peradilan yang ada sekarang juga tak begitu dipercaya oleh. Buktinya, sebagian masyarakat cenderung main hakim sendiri dalam kasus begal motor bahkan hingga membunuh pelakunya.
Pencegahan dilakukan dengan menjamin penerapan sistem Islam secara konsisten baik sistem pendidikan, pemerintahan, ekonomi, sosial dan lainnya.
Faktor utama yang bisa dengan kuat mencegah seseorang melakukan kejahatan adalah kuatnya keimanan dan ketakwaan dalam diri orang tersebut. Karena itu Islam mewajibkan negara untuk terus-menerus mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan seluruh rakyatnya.
Yang pasti, penerapan sistem Islam secara keseluruhan akan mencegah orang untuk melakukan kejahatan. Paling tidak, faktor-faktor pemicu kejahatan bisa diminimalisasi.

Sumber : Islampos

Sabtu, 07 Maret 2015

RIYA’ merupakan salah satu penyakit yang dapat merusak hati dan amal perbuatan kita. Hal yang pada awalnya kita mengharapkan pahala namun, apa boleh jadi amal kita malah menjadi boomerang bagi kita.
Riya’ bukan hanya kita melakukan kesombongan yang nampak, ternyata dengan ibadah sekalipun itu akan membawa pada riya’. Namun kategori riya’ yang menjadi pembahasan kali ini riya’ halus, yang itu pun akan berpengaruh pada hasil yang akan kita dapat.
Salah satu riya’ halus yang tanpa disadari yaitu, meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, sedangkan amal karena manusia itu syirik. Yang dinamakan ikhlas ialah bila egkau diselamatkan Allah dari dua cara tersebut.” Maksud ucapan beliau: Orang yang berniat melakukan ibadah, tetapi kemudian ditinggalkan (tidak jadi mengerjakan), sebab khawatir diketahui orang lain, maka ia adalah orang yang riya’.
Karena ia meninggalkan ibadah sebab manusia. Adapun jika ia meninggalkan ibadah, lantaran hendak dikerjakan di tempat yang sepi, itu bisa dianggap baik dan sunnat. Kecuali bila ibadah itu ibadah fardhu atau zakat wajib, atau ia termasuk menjadi orang panutan. Maka terang-terangan dalam beribadah adalah lebih utama (daripada di tempat sepi).



Selain itu riya’ halus juga dapat berupa menceritakan amal-amal shalih yang terjadi (di kerjakan) di masa lampau dan tidak seorang pun mengetahuinya, kecuali kalau memang ada tujuan yang dituntut syara’ itu dapat menjadikan amal yang telah diperbuat, merupakan amal yang bercorak riya’, pada waktu diamalkan.
Diantara riya’ yang halus menganggap manis ibadah dan menambah dalam menundukkan kepala dan khusyu’, lantaran datangnya seseorang diantara para pembesar dan sebagainya. Sayyidina Ali Al-Khawwadh ra berkata, “Apabila engkau didatangi seorang penguasa, sedangkan ditanganmu ada tasbih untuk menghitung bacaan tasbih, maka janganlah meneruskan memutar tasbih yang ada di tangan itu, kecuali bila ada niat yang baik. Dan hendaklah memelihara diri terhadap duduk-duduk dan tertawa-tawa, seraya lupa kepada Allah Ta’ala, kemudian datang seorang penguasa, lalu engkau buru-buru mengambil tasbih, kecuali kalau memang ada niat yang baik untuk lari dari terjatuh ke dalam riya’ yang bisa melebur amal-amal.”
Oleh karena itu, kajilah ilmu itu lebih dalam agar kesesuaian apa yang kita perbuat dapat menjadi ilmu yang membawa kita kepada kebenaran dan menjauh pada kemungkaran

SUMBER : ISLAMPOS
DUNIA ini memang terlihat begitu indah dan menarik bagi kita, hingga sulit untuk dilewatkan begitu saja. Gemerlap dunia telah membutakan mata hati kita. Hati kita telah tertutup oleh angan-angan yang ditawarkan dengan begitu indahnya. Kita pun tergiur akan hal itu, hingga rela melupakan tujuan hidup kita dan berlayar di dunia dengan melupakan bantuan cahaya petunjuk kehidupan (al-Qur’an dan as-Sunnah).


Sering sekali manusia tertipu oleh dunia. Dia yakin akan mendapat segala hal yang dia inginkan di dunia ini. Tapi, ternyata, tidak demikian. Bila kita mengejar dunia, kita tidak akan pernah merasa puas. Karena apa? Dunia itu bagaikan fatamorgana. Biasanya setelah kita mendapatkan sesuatu yang diinginkan, lalu kita melihat hal lain yang lebih menarik maka kita pun akan mengejarnya. Dan kita rela melakukan itu dengan berbagai cara, bahkan keimanan sekali pun rela ditaruhkan. Naudzubillah.
Gemerlap dunia telah menyilaukan mata hati kita, hingga kita lupa pada hakikat tujuan hidup kita. Kita lupa bahwa kita hanyalah hamba Allah yang sepatutnya hanya beribadah dan beribadah karena-Nya. Beribadah di sini bukan berarti ritual seperti shalat, puasa, mengaji dan lain-lainnya, tapi, segala perbuatan, tingkah laku maupun tindakan kita harus kita niatkan hanya untuk beribadah karena Allah, demi bekal di akhirat kelak.
Ya, kita ini butuh bekal untuk masa depan yang lebih kekal nantinya. Anda tahu bekal apa yang harus kita bawa? Bekal itu berupa amal, sebagai penerang dan teman kita di alam yang kekal. Nah, berarti sudah jelas kan, kita tidak perlu bersusah payah mengejar dunia, mengumpulkan segala hal yang menjadi kepentingan dunia, dengan terus menumpuknya hingga lupa bahwa ada orang lain yang lebih membutuhkannya.
Anda tahu, Rasulullah SAW itu tidak pernah tergiur dengan gemerlap dunia. Karena apa? Beliaulah pemberi cahaya di dunia. Di dunia ini ada karena cahaya darinya. Langit ini ada karena cahayanya. Tanah ini ada karena cahayanya. Begitu pula dengan kita, manusia ada karena cahayanya.
Dalam diri kita terdapat cahaya dari Rasulullah SAW. Maka, mengapa kita masih terpana oleh gemerlap dunia? Kita ini sudah mempunyai penuntun kehidupan. Kita sudah dititipkan dua pusaka yang sangat berharga, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah. Tinggal bagaimana kita mengelola keduanya dengan baik. Kita pelajari keduanya, dengan begitu kita tidak akan dibutakan lagi oleh gemerlap dunia.
Selama kita masih berpegang teguh pada keduanya, insya Allah kita tidak akan tersesat dan tidak diperbudak oleh dunia. Bahkan, dunia yang akan mengejar-ngejar kita. Wallahu ‘alam

Sumber : Islampos



Oleh: Agung Pribadi (penulis buku Gara Gara Indonesia)
DALAM tayangan Kick Andy pernah ditayangkan seorang laki-laki yang bisu dan tidak tampan melamar seorang akhwat cantik dan diterima. Ketika ditanya mengapa akhwat ini mau menerima suaminya itu.
Ia menjawab, “Saya membaca buku mbak Asma Nadia Serial Aisyah Putri. Buku ini mengubah cara pandang saya, sejak membaca buku itu saya mematok kriteria calon suami bukan fisiknya tapi keshalehannya.”
Subhanallah, beginilah hasil dakwah melalui cerita. Ada juga rumah tangga yang hampir bercerai tidak jadi bercerai setelah membaca buku Asma Nadia, Sakinah bersamamu, catatan hati seorang istri dan catatan hati yang cemburu.
Ada juga yang frustasi dan hamper bunuh diri. Ia sudah memacu motornya sekencan-kencangnya berharap untuk tabrakan. Entah kenapa tiba-tiba dia berhenti di depan sebuah toko buku.
Dia berhenti lalu membaca buku Catatan Hati di Setiap Doaku dari Asma Nadia. Mulai terbit secercah harapan. Iapun memutuskan tidak jadi bunuh diri lalu mengirim e-mail kepada Mbak Asma Nadia menceritakan kejadian ini.
Subhanallah. Tahun 2010 juga ada yang mengirim inbox ke saya. Dia berkata, “Mas Agung anak saya langganan ikutan lomba dan langganan kalah. Dia sering membaca kiriman tulisan dari Komunitas Bisa! (Grup Motivasi-pen), ketika hampir putus asa dia membaca tulisan mas Agung yang judulnya, ;Gagal: Bisa jadi Anda akan Mensyukurinya beberapa tahun mendatang’ akhirnya semangatnya bangkit lagi.
“Dia lalu mengikuti Lomba menulis essay. Sekarang Alhamdulillah anak saya berada di Jepang selama 6 bulan sebagai hadiah lomba itu. Terima kasih Mas Agung. Terus menulis ya, untuk memotivasi teman-teman!”
Subhanallah. Beginilah dakwah melalui tulisan. bisa sangat berpengaruh. Apalagi kalau tulisan ini sudah difilm-kan atau disinetronkan akan berdampak lebih luas karena di Indonesia minat menonton masih jauh lebih tinggi daripada minat baca. So, apalagi yang Anda tunggu? Mulailah menulis sejak sekarang!

Sumber : islampos
MENCARI ridha Allah adalah suatu keharusan bagi setiap umat Muslim. Mengapa? Karena jikalau kita dapat menggapai ridha Allah, insya Allah segala urusan dunia dan kehidupan di akhirat kelak akan berjalan dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan. Hanya saja, setelah mengetahui demikian, banyak orang yang masih saja terlena akan godaan dunia.
Hampir setiap insan memiliki keinginan untuk dipuji oleh orang lain. Hal itu dilakukan hanya semata-mata agar ia dapat membuktikan bahwa ia memiliki kelebihan dibandingkan yang lainnya. Ketahuilah, bahwasanya yang demikian itu tidak akan mendapatkan manfaat sama sekali. Mungkin rasa puas di hati itu ada, hanya saja itu bersifat sementara.
Jangan sampai kita salah dalam melangkah. Ketahuilah keridhaan Allah itu lebih utama dari keridhaan manusia. Maka, berusahalah untuk mencari ridha Allah walaupun harus dengan tebusan dibenci dan tidak disukai orang lain.


Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja berusaha mencari keridhaan Allah walau pun dengan kebencian manusia niscaya Allah dan manusia akan meridhoinya dan siapa saja berada dalam kemurkaan Allah dan manusia akan memurkainya,” (HR. Muslim).
Nah, ternyata mencari ridha Allah jauh lebih menguntungkan diri kita ketimbang mencari ridha manusia lainnya. Jika kita mencari ridha Allah, insya Allah, Allah akan meluluhkan hati manusia, sehingga ia juga meridhai kita. Namun sebaliknya, jika kita tidak mencari ridha Allah, hingga Allah murka kepada kita, maka manusia lain pun akan murka terhadap kita. Naudzubillah.
Ingatlah bahwa untuk mendapatkan keridhaan manusia secara keseluruhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat terwujud. Maka, hendaklah kita bersifat sopan, berakhlak yang baik dan jujur terhadap sesama. [Sumber: Adab Islam dalam Kehidupan Sehari-hari/Karya: Mahdy Saeed Reziq Krezem/Penerbit: Media Da’wah]

Sumber : Islampos
TELAH kita ketahui bahwa iman itu berarti percaya. Percaya pada siapa? Tentunya percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah SWT. Percaya akan keberadaan Allah SWT yang menciptakan langit dan bumi. Percaya bahwa Dia-lah yang menciptakan kita semua. Bahkan Dia pula yang selalu ada di sampingka di mana pun dan sampai kapan pun.
Kita sering menganggap bahwa diri kita ini telah beriman. Kita selalu melaksanakan syahadat, shalat, puasa, zakat, bahkan ada pula yang telah berhaji. Apakah benar yang telah melakukan itu dapat dikatakan orang beriman?


Inilah yang menjadi permasalahan dalam diri kita. Coba deh interopeksi diri Anda, apakah benar keimanan itu telah melekat pada diri Anda? Kuncinya ialah orang beriman itu berarti percaya kan? Percaya akan adanya Allah SWT. Tapi, masalahnya apakah benar kita sudah 100% percaya akan adanya Allah? Nah lho!
Tentu kebanyakan orang beranggapan bahwa diri-Nya telah 100% percaya akan adanya Allah, walau pun belum melihat-Nya secara langsung. Karena telah kita ketahui bahwa Allah itu termasuk dalam kategori non materi, artinya tidak dapat terlihat oleh panca indera. Tapi, itulah hebatnya kita, walau tak pernah bertemu namun selalu percaya akan adanya Allah SWT yang menciptakan alam semesta.
Kembali lagi pada keyakinan atau kepercayaan kita tersebut. Jikalau kita yakin bahwa Allah itu ada dan selalu melihat tingkah laku kita, walau itu yang tersembunyi, sudah takutkan kita melakukan maksiat? Nah, ini nih yang menjadi pertanyaan bagi diri kita masing-masing. Kita mengaku beriman, tapi tetap saja melakukan maksiat kepada Allah.
Kita akui bahwa kita melakukan hal-hal yang menjadi rukun Islam. Hanya saja, di samping itu kita pun tak pernah luput dari perbuatan yang melanggar dari aturan Allah. Kita yakin bahwa kita selalu diawasi oleh Allah, namun kita tidak merasa bahwa diri kita itu sedang diawasi.
Jika demikian, masih pantaskah kita dikatakan sebagai orang yang beriman? Orang yang beriman, ketika ia telah percaya akan adanya Allah, maka ia selalu yakin dan merasa dirinya diawasi. Maka, ketika akan melakukan maksiat, ia akan mencoba menahan dirinya karena ia tahu bahwa ia sedang diawasi. Begitu pula ketika melaksanakan kewajiban dala rukun Islam. Ia akan selalu betah atau ingin berlama-lama dalam melaksanakannnya. Karena ia merasa bahwa Allah berada di sampingnya dan ia ingin selalu menjaga itu. Orang yang beriman tidak akan pernah mau Allah SWT berpaling tidak memperhatikan-Nya, sehingga ia berusaha untuk selalu mengingat Allah dalam setiap perbuatannya.
Sekarang, tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah Anda sudah termasuk dalam kategori itu? Jika belum, yuk mari kita sama-sama hadirkan Allah SWT dalam diri kita. Artinya, rasakanlah bahwa Allah itu benar-benar sedang melihat kita. Ingatlah selalu ada pengawal di samping kiri dan kanan kita, sebagai utusan dari Allah untuk mencatat segala perbuatan yang kita lakukan. [Disarikan dari Ryan Haqi Khaerul Anwar, Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam DR. KHEZ Muttaqien Purwakarta]

Sumber : Islampos

Kamis, 05 Maret 2015



KENYATAAN yang terjadi dewasa ini, kehidupan remaja sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan yang namanya “pacaran”. Kata ini sudah tidak asing lagi di kalangan remaja bahkan setingkat anak sekolah dasarpun banyak di antara mereka yang asyik berpacaran.
Dengan gagah dan bangga mereka berperan sebagai lelaki yang tangguh di hadapan pacarnya mengungkapkan kata-kata rayuan yang membuat pasangannya melayang terbang bagaikan sang burung elang di atas awan, tidak hanya sebatas rayuan belaka. Remaja yang sedang berpacaran terkadang melakukan hal-hal yang dilarang oleh syariat, alasannya sebagai bukti cinta mereka terhadap pasangannya.
Mulai dari jalan bareng, mengobrol berduaan di tempat yang sepi, berpegangan tangan di tempat umum , bahkan lebih jauh dari apa yang kita pikirkan. Dan ironisnya ada yang sampi rela memberikan kegadisannya demi membuktikan rasa cinta kepada sang pujaan hatinya. Seperti itulah kebanyakan remaja memahami arti “pacaran” yang sudah jelas jauh dari syariat Islam.
Problem pacaran yang dihadapi remaja dewasa ini sungguh sangat menghawatirkan masa depan mereka, yang seharusnya dapat dicegah dan dihindari kini malah menjadi kebiasann yang menjamur dan disenangi remaja. Dan kesenangan yang mereka rasakan dari pacaran itu sendiri tidak sebanding dengan dampak negative yang akan mengganggu fsikologi mereka.
Contohnya banyak remaja yang mengalami depresi dan stres hanya karena putus cinta dengan pasangannya. Hubungan keluarga dan nilai akademiknya pun rusak di sebabkan pikiran dan hatinya mati terbunuh cinta semu. Pandangan mereka pun terhadap kebenaran yang hakiki (akhirat) terancam hilang oleh racun cinta yang membuat hati mereka mati.
Pada akhirnya banyak di antara remaja yang tidak tau arah pulang ke jalan yang benar sehingga terus melanjutkan pengembaraan cintanya dengan mengganti dan mencari pasangan baru tanpa mempertimbangkan akhir yang buruk dari sebuah ikatan tanpa status pernikahan itu.
Kehidupan remaja saat ini rentan dengan berbagai ancaman yang dapat merenggut pola pikir/pandangan mereka terhadap kebenaran alam akhirat sehingga di antara mereka banyak yang mengabaikan syariat Islam yang dengannya dapat mengantarkan pada kebahagiaan yang hakiki, dan mereka lebih cenderung terhadap kebahagiaan yang semu. Oleh karena itu berbagai carapun mereka tempuh demi mendapatkan kebahagiaan yang hanya bersifat fana.
Di antaranya menghalalkan pacaran untuk mengenal pasangannya, dibandingkan mengamalkan syariat Islam yang telah mengatur bagaimana seorang remaja muslim mengenal pasangan hidupnya yaitu dengan menghitbah (melamar) atas keridoan sang wali dan diteruskan dengan akad suci dalam pernikahan. Tanpa harus memerankan aktor Romeo dan Juliet dalam permainan Syaiton yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam jurang kehancuran yaitu pacaran sebelum menikah.
Namun tidak dapat dipungkiri yang namanya remaja meiliki sifat berani, kritis dan keinginan yang kuat, sehingga banyak remaja muslim yang berani memutuskan untuk berkomitmen dan menghitbah pasangan yang dipilihnya, dengan alasan agar terhindar dari pacaran yang merugikan.
Namun kurangnya ilmu dan pemahaman terhadap agama masih banyak diantara remaja muslim yang telah bertunangan, akan tetapi masih melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama seperti jalan bareng, berpegangan tangan bahkan lebih dari itu, dengan anggapan bahwa khitbah (lamaran) telah menghalkan satu sma lain diantara pasangannya.
Sebagai remaja muslim yang taat dan merasa mampu untuk menikah, sudah seyogiannya untuk mengetahui ilmu tentang pernikahan itu sendiri sebelum berkomitmen dan memutuskan untuk menikah. Mengapa? karena banyak di antara remaja muslim yang berkomitmen untuk menikah dan melangsungkan pengkhitbahan namun hanya dibekali ilmu yang minim tentang pernikahan, akhirnya menyebabkan peluang peluang maksiat muncul di antara remaja muslim sebelum akad nikah dilangsungkan.
Oleh karena itu alangkah baiknya seorang remaja muslim mempesiapkan diri dengan matang sebelum memutuskan dan berkomitmen untuk menikah. []

Sumber : Islampos
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts