“Dunia Hanya Bernilai Bila Mana Dimanfaatkan Untuk Akhirat”
Katakanlah
pada suatu hari, datang seorang pemuda tampan yang sudah lama diminati
melamar diri anda, dalam masa yang sama dia menjadi rebutan ramai
muslimah di kolej anda, padahal anda bukanlah seorang wanita yang
dirasakan layak, jauh sekali memikirkan bahawa situasi ini akan berlaku
kepada diri?
Ketika itu anda adalah orang yang paling bertuah kerana apa yang diidamkan selama ini datang di depan mata. Hati hanya berkata: “Inilah nikmat”.
Katakanlah
pada suatu hari, seorang fakir yang hampir pengsan akibat tidak
menjamah makanan selama lima hari telah dihadiahkan dengan sebuku roti
kering dan sebotol jus buah-buahan. Ketika nyawanya hampir ke hujung
tanduk, ada nikmat berupa makanan datang kepadanya.
Jika dia seorang yang beriman, pasti hatinya akan berkata:“Ya Allah, inilah nikmat. Aku harus bersyukur.”
Pada ketika itu jejaka tampan bukan lagi menjadi nikmat kepadanya,
baginya sekeping roti lebih berharga daripada seorang lelaki idaman.
Katakanlah,
anda seorang yang berada dan layak digelar jutawan. Mempunyai aset
harta yang bernilai jutaan ringgit. Rumah dan kereta mewah bukan lagi
menjadi suatu yang dianggap besar. Apa yang ada di hadapan mata atau
yang terlintas difikiran anda pasti akan menjadi milik anda dalam
sekelip mata.
Pada ketika itu, dimanakah nilai sebuku roti kering
yang menjadi nikmat kepada si fakir yang sedang dalam kelaparan tadi
jika ia dihulurkan kepada anda?
Adakah anda pernah terfikir bahawa nilai nikmat pada setiap orang itu berbeza-beza?
Sampaikan ada manusia yang kabur menilai nikmat.
Ada
manusia, sebuku roti itu adalah nikmat baginya dan lambang kesyukuran
untuknya. Ada manusia kesenangan adalah nikmat yang paling besar baginya
kerana dia telah lama menderita. Ada manusia lain yang sudah
bertahun-tahun lamanya menderita sakit lalu merasakan nikmat sihat
adalah nikmat yang paling berharga buatnya.
Ya, nikmat yang
dikurniakan itu sangat berbeza pada setiap individu. Sehinggakan ada
manusia yang tidak tahu menilai nikmat yang datang kepadanya. Baginya,
nikmat atau laknat sama sahaja.
Lalu bagaimanakah kayu ukur sebuah nikmat itu?
Pada nikmat yang diberi atau kepada yang menerima nikmat?
Jawabnya: Nilai dan kayu ukur sebuah nikmat terletak pada erti bersyukur.
Seorang
yang kaya-raya tidak akan tahu menilai mana satu rezeki yang berupa
nikmat kepadanya kerana dia berkuasa memperolehi segala-galanya
melainkan dia tahu akan erti bersyukur. Dengan bersyukur, dia bisa
menghargai segala kurniaan yang datang kepadanya samada kecil atau
besar, sama ada diperlukan atau tidak dan sama ada sikit atau pun
banyak. Dia akan sentiasa bersyukur ketika dia menghadapi situasi senang
mahupun sukar.
Pendek kata, Allah S.W.T tidaklah memandang
sebesar mana nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada manusia, tetapi
melihat sejauh mana sikap manusia yang tahu bersyukur dalam setiap
nikmat yang dikurniakan. Apabila seorang hamba itu bersyukur, dia akan
menghargai nikmat yang datang sekaligus menghargai pemberi nikmat, iaitu
Allah S.W.T.
Random Posts
Popular Posts
Subscribe
About
Top Ad 728x90
Top Ad 728x90
Top Ad 728x90
Featured Slides Via Labels
Top Ad 728x90
Featured Posts Via Labels
More on
Archive
-
▼
2014
(44)
-
▼
September
(44)
- UPAYA MENGHILANGKAN SIFAT SOMBONG
- Sombong
- Penegertian sabar dan perintah sabar
- JIHAD DALAM ISLAM (Oleh: Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Ja...
- MALU, AKHLAK ISLAM
- Akhlak Islam
- Layakkah Kita
- Hidayah Allah Melalui Perantaraan Insan
- Kita Bukan Lemah
- Niat Dan Pembinaan Daya Tahan
- Kehendak Manusia Atau Kehendak Allah?
- Allah Bersama Orang Yang Sabar
- Jangan Berhenti Berharap
- Tips Sebelum Membuat Keputusan
- Bersabarlah Wahai Adik
- Bersedia Menerima Ujian
- Pada Sebuah Nilai
- Bersyukur Dengan Kekurangan
- kata-kata motivasi Islam pemberi inspirasi untuk s...
- Niat Shalat
- Bersemngat Untuk sholat shubuh
- Waktu
- Sabar Dan Shalat
- Ujiaan
- Sholat
- Cinta Kepada Allah
- Perjuangan Hidup
- Islam Itu bersaudara
- Rukun Shalat
- Waktu Yang Terlarang Melakukan Shalat
- Hal Yang Membatalkan Shalat
- Hakikat dan Hukum Shalat
- Hal Yang Disunatkan Ketika Mandi Besar
- Hal Yang Dimakruhkan Ketika Mandi Besar
- Larangan Bagi Yang Tidak Punya Wudhu
- FARDU MANDI BESAR
- Sunat Wudhu
- Syarat Wudhu
- Fardlu Wudhu
- Hukum Air Yang terkena Najis
- Air Untuk Bersuci
- Pembagian Air
- Bacaan Sholat Dhuha dan Doanya Serta Artinya
- Sedekah
-
▼
September
(44)

0 komentar:
Posting Komentar