.

Kamis, 18 Juni 2015

Mengherankan sekali. Ada orang atau sekelompok manusia yang, bukan karena salah makan obat, tapi tingkahnya mirip…, hingga pontang-panting membela dan memperjuangkan agama kafir, agar resmi diakui.
Tidak peduli urusan yang seharusnya dia urusi. Misalnya, begitu wilayah DKI Jakarta dipimpin oleh orang kafir, atau wilayah-wilayah lain yang penguasanya orang kafir, sudah berapa masjid (rumah Allah) yang digusur dan dirobohkan.
Berapa masjid yang seharusnya dibangun namun tetap dihalangi oleh penguasa kafir seperti di Bali. Berapa pekuburan Muslim yang seharusnya diadakan namun tetap tidak dibolehkan oleh penguasa kafir seperti di Bali.

Berapa kepala sekolah Muslim yang dipelorot, jabatannya diganti dengan yang lain. Berapa punggawa tingkat kampung dan seterusnya yang telah digeser hanya gara-gara tampak rajin mengamalkan Islamnya. Berapa wakaf tanah untuk kepentingan Islam yang telah diserobot orang. Sudah berapa jumlahnya, tidak dipedulikan. Padahal itu menjadi urusan utamanya. Namun justru yang bukan jadi urusannya diurusi. Hingga dia pontang-panting demi mengupayakan agar agama kafir diakui untuk urutan ke sekian di negeri ini.
Bertungkus lumus (berpayah-payah) seperti itu masih pula ditambah untuk cari muka kepada orang kafir dalam membela aliran sesat syiah yang memusuhi dan membunuhi umat Islam di dunia ini dari dulu sampai sekarang. Hingga berani melabrak tokoh-tokoh Islam Madura yang telah disakiti dan dikhianati syiah. Tidak peduli syiah itu merusak akidah Islam dan menyakiti umat Islam atau tidak. Pokoknya aliran sesat syiah harus diperjuangkan.
Benarlah firman Allah Ta’ala:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [الصف : 5]
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik,” (QS Asshaf: 5).
Maksudnya karena mereka berpaling dari kebenaran, maka Allah membiarkan mereka sesat dan bertambah jauh dari kebenaran.
Para pembela kafir sadarlah
Wahai para pembela kafir, yang kini mengaku Muslim, sadarlah. Sejarah telah membuktikan, tokoh pejuang yang namanya Ahmad Lussy Pattimura dan dibunuh oleh penjajah kafir Belanda di tiang gantungan pada 16 Desember 1817  saja kemudian diganti namanya dengan pakai Thomas segala, dan dianggap beragama Kristen. (Masa’ sih, orang Kristen memberontak penjajah Belanda hingga digantung oleh Penjajah Belanda yang Kristen itu).
Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.
Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya de-Islamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di China. Pemerintah nasionalis-komunis China berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat.
Tokoh Muslim ini (Pattimura) sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi di zaman ini dia lebih dikenal dengan nama Thomas Mattulessy yang identik dengan Kristen.
Asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).
Sekali lagi, menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya de-Islamisasi dalam penulisan sejarah. (lihat Artikel Pattimura Dikristenkan Paksa, agung pribadi http://islamthis.wordpress.com/2011/09/15/pattimura-dikristenkan-paksa-oleh-ambon/)
Setelah kita renungkan upaya pengkristenan pahlawan yang sudah meninggal, coba kita pikirkan. Lebih layak mana untuk dianggp bukan Islam, nantinya. Apakah kalian yang jadi pembela kafir penjajah masa kini dan senantiasa berupaya menyakiti Umat Islam untuk cari muka kepada bos dan cukong kalian yang kafir, baik di dalam negeri maupun luar negeri, ataukah pejuang yang namanya saja Ahmad dan mati digantung oleh penjajah kafir Belanda?
Rugi sekali. Hidup satu kali saja kini menjadi pembela kafir bahkan berupaya untuk diakui sebagai benar-benar pembela kafir, hingga pontang-panting untuk berusaha meresmikan agama kafir dengan berbagai cara agar diakui. Kasihan!
Ingatlah ancaman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا   [النساء : 140]
Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam (neraka) Jahannam, (QS An-Nisaa’: 140).

Sumber : salam-online

Rabu, 17 Juni 2015

ayangan televisi dinilai gagal memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan tayangan yang sehat dan bermanfaat. Banyak tayangan bermuatan kekerasan, pelecehan terhadap kelompok tertentu, ghibah dan acara tidak bermanfaat lainnya yang mendominasi siaran televisi di Indonesia.
Praktisi pertelevisian Maman Suherman mengatakan, untuk bisa sampai ke rumah warga, stasiun televisi menggunakan gelombang frekuensi. Pengelolaan frekuensi selama ini dibiayai melalui pajak yang dibayar oleh publik. Karena itu, kata dia, frekuensi merupakan milik publik dan penggunanya harus memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Karena sudah meminjam frekuensi dan mengambil untung dari siaran iklan, stasiun TV wajib menyediakan tayangan yang sehat dan bermanfaat kepada masyarakat,” katanya, Sabtu (21/2) seperti dikutip Republika Online.

Menurutnya, saat ini pertelevisian di Indonesia tidak memberikan banyak manfaat terhadap masyarakat. Konten yang diberikan banyak yang justru merugikan masyarakat karena tidak mengandung unsur edukasi maupun informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Industri pertelevisian tidak sedikit yang hanya mengejar rating untuk mendapatkan banyak iklan. Berita pun sudah diproduksi sesuai kepentingan pemilik media, sehingga berita bohong, fitnah dan tidak berimbang kerap menjadi suguhan yang disajikan televisi.
Dia menyarankan, Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berkoordinasi untuk menyelesaikan persoalan ini. Sebab, hal ini tidak bisa terus dibiarkan karena publik banyak dirugikan. Maman mengusulkan agar dibuat perbedaan kode etik antara jurnalisme televisi dan tulis.
“Dan yang penting kode etik antara jurnalisme televisi dan tulis harusnya dibedakan, selama ini kan sama dengan kode etik jurnalistik itu,” ujarnya. (ROL)

Sumber : salam-online.com
Tahun 1938 atau 76 tahun yang lalu, organisasi-organisasi perempuan Indonesia mengadakan Kongres Perempuan di Bandung. Kongres tersebut memutuskan agar setiap tanggal 22 Desember dijadikan sebagai Hari Ibu dengan semboyan “Merdeka Melaksanakan Dharma”.
Maka, tulis Sujatin Kartowijono dalam bukunya Perkembangan Pergerakan Wanita Indonesia, kaum wanita mulai menghayati cita-cita Ibu Keluarga, Ibu Masyarakat, dan Ibu Bangsa[1].
Adanya Hari Ibu, fungsi dan peran perempuan, oleh organisasi-organisai perempuan Indonesia, dikembalikan pada tempatnya semula karena pada tahun-tahun tersebut telah lahir gerakan-gerakan feminisme yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan, seperti Poetri Merdika yang didirikan pada tahun 1912 di Jakarta dengan bantuan Budi Utomo dan mempropagandakan gagasan-gagasannya mengenai emansipasi melalui koran mereka, Poetri Merdika[2], kemudian Istri Sedar, didirikan di Bandung pada tahun 1930, yang akhirnya berganti nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) setelah sembilan tahun Indonesia merdeka[3].
Corak feminis yang melekat pada Istri Sedar terlihat dari berbagai tulisan para anggotanya yang dimuat dalam koran mereka bernama Sedar, salah satunya dalam tulisan berjudul “Persamaan Hak dan Persamaan Kewadjiban”, September-Oktober 1931, “Apakah kewadjiban dari perempoean Indonesia sekarang? Ialah bekerdja soepaja sebagai manoesia sepenoeh-penoehnja sebagai manoesia, jaitu soepaya diakui bahwa haknja haroes sama dengan lelaki.”
Kemudian seiring dengan pergantian rezim dan semakin berkembangnya pergerakan perempuan Indonesia yang ditandai dengan munculnya organisasi, lembaga-lembaga maupun pusat studi wanita yang beraliran feminisme, Hari Ibu seakan-akan telah tergantikan dengan Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Hari perempuan lebih patut diperingati daripada Hari Ibu, karena kata “Ibu” sendiri mencerminkan penindasan bagi perempuan dan dianggap mempersempit ruang gerak perempuan.
Penolakan feminis terhadap domestikasi perempuan atau peran perempuan sebagai Ibu  Rumah Tangga menuai dukungan dari seorang feminis Indonesia dengan melahirkan istilah “Ibuisme Negara”. Istilah ini juga disebut-sebut sebagai respon atas Pancadharma yang dibuat pada era pemerintahan Soeharto.
Pemerintahaan pada era Soeharto saat itu, sebagaimana ditulis Dewi Candraningrum, dalam makalahnya Negara, Seksualitas dan Pembajakan Narasi Ibu, merumuskan peran kaum wanita ke dalam lima kewajiban (Pancadharma, pen), yaitu: Pertama, wanita sebagai istri pendamping suami. Kedua, wanita sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda. Ketiga, wanita sebagai pengatur ekonomi rumah tangga. Keempat, wanita sebagai pencari nafkah tambahan. Kelima, wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita, badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada masyarakat[4].
Hari Ibu-Komite Kongres Perempuan Indonesia 1928. Sumber foto thisisgender.com-jpeg.image
Komite Kongres Perempuan Indonesia 1928. (Sumber foto: thisisgender.com)
Ibuisme Negara dalam perspektif feminis merupakan Weltanschauung (pandangan dunia, pen) yang memangkas identitas eksistensial perempuan sebagai manusia seutuhnya. Darinya perempuan dibonsai, dipangkas, dikerdilkan, direduksi, pada arena domestik—sebagai istri, sebagai ibu, sebagai pendidik dan penanggungjawab terhadap anak, dan penyokong negara. Memenjara Ibu hanya pada fungsi-fungsi di atas juga dianggap feminis bersifat sangat Freudian, eksklusif, tidak egaliter, subordinatif dan represif terhadap perempuan[5].
Padahal, faktanya, gerakan-gerakan perempuan Indonesia dulu menolak persamaan hak berbungkus emansipasi, di sisi lain mereka tidak merasa disubordinasi, di eksklusifkan, diperlakukan represif, direndahkan maupun ditindas karena peran mereka sebagai Ibu Rumah Tangga ataupun sebagai Ibu Pendidik.
Penolakan ini tercermin dalam koran-koran yang mereka tulis, seperti Soenting Melajoe pada edisi 31 Desember 1914, koran yang didirikan oleh Ruhana Kudus—Jurnalis Muslimah pertama di Indonesia asal Sumatera Barat. Intinya tertulis bahwa memuliakan perempuan tidak boleh melebihi martabat laki-laki:
“Maka dari sebab itoe haroeslah pada pikiran saja yang hina lagi bodoh ini soepaja kita bersama-sama memoeliakan perempoean kita itoe (tetapi) tidak boleh melebihi martabat laki-laki, soepaja perboeatan maasiat itoe tiada dilakoekan dengan begitoe gampang sekali dan dengan demikian ini terselamat bangsa kita dari pada kehinaan doenia dan nista bangsa-bangsa lain serta terpelihara mereka itoe daripada hoekoeman achirat jang siksa dan sengsara itoe.”
Kemudian koran Isteri edisi Desember 1929 milik Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), dimana Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIB perempuan) dan Aisiyah tergabung di dalamnya, ikut menolak feminisme, “Dari sebab orang perempoean itoe di titahkan halus badannja, lemboet pikirannja, lemah perasaannja, tidak sama dengan laki-laki, adalah kasar, koewat, keras, teristimewa perempoean itoe mengoeroes kewadjibannja sendiri seperti: mengandoeng anak, melahirkan, memberi air soesoe anak, mengasoeh, mendidik, dsb, maka tentoelah tidak dapat sempoerna akan mendjalankannja kewadjibannja sendiri. apakah baik kesehatan iboe jang sedang sedang dirinja mengandoeng anak, dengan beres bolehnja bekerdja di goedang-goedang? Apa kiranja bisa menggali goenoeng dengan berhenti melahirkan anak?? Apakah dapat berbaris dengan memberi air soesoe anaknja??? Apakah sempoerna bolehnja mengasoeh anaknja djika ia mendjadi poelitie (Polisi, red) atau resisir??? Soedahlah soedah!! Soenggoeh moestahil sekali dan tidak dapat, karena bertentangan dengan natuur.”
Selain itu, Pengurus Ibu Sibolga, Medan, melalui korannya Soeara Iboe edisi Juni 1932 juga menekankan agar pergerakan perempuan Indonesia jangan sampai seperti perempuan Barat.“Djadi semestinja bagi kita kaoem perempoean tentangan jang hendak madjoe dalam pergerakan itoe, hendaklah djangan sampai sebagai mereka (perempoean Barat).”
Lalu salah satu Panitia Peringatan Hari Lahir RA Kartini, Soekarsih, menuturkan dalam artikelnya di koran Merdeka edisi 20 April 1946, bahwa perempuan Indonesia tidak perlu mengejar emansipasi. “Kini kita tidak begitoe perloe mengedjar “emansipasi” atau “persamaan hak” karena sebagian besar dari masjarakat kita telah menghargai kedoedoekan wanita.”
Penolakan-penolakan tersebut memperlihatkan bahwa organisasi-organisasi perempuan Indonesia yang pada tahun 1938 mengadakan kongres di Bandung membawa semangat anti-feminisme, selain menyerukan semangat anti imperalisme dan kolonialisme.
Hari Ibu-Beberapa surat kabar perempuan dimasa silam. Sumber foto Dok. pribadi Sarah Mantovani-jpeg.image
Beberapa surat kabar perempuan di masa silam. (Sumber foto: Dok. pribadi Sarah Mantovani)
Kalaulah para organisasi perempuan saat itu tidak membawa semangat anti-feminisme, pastilah mereka tidak menamakan Hari Perempuan dengan Hari Ibu.

Sumber : salam-online.com
Salah seorang pengungsi Muslim Rohingya di Aceh, Nur Hassan namanya, adalah seorang hafidz Qur’an. Dalam bahasa Arab yang terbata-bata karena menahan rasa sedih dan haru, ia secara singkat menceritakan penderitaan Muslim Rohingya.
Berikut petikan percakapan singkat Hardiansyah—relawan sebuah lembaga kemanusiaan—dengan Nur Hassan (24), pekan lalu, dalam bahasa Arab yang sudah di-Indonesia-kan.
Apa benar di kampung (tanah air) Anda di Rohingya, terjadi pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan oleh ekstremis Budha terhadap Muslim?
Nur Hassan (NH): Demi Allah, mereka membunuh kami. Kami sedikit, kami tidak ada kekuatan.
Ayah Ibu Anda masih ada?
NH: Ibu masih ada, ayah saya sudah dibunuh saat sedang shalat… Kawan-kawan Muslim Rohingya yang di Aceh, (sebagian mereka) ada bapak dan ada ibu mereka, sedang saya di sini tidak ada ibu dan bapak.
Nur Hassan menjawab pertanyaan dengan bahasa Arab yang sedikit terbata-bata dan hampir meneteskan air mata.


Bagaimana ayah Anda dibunuh di sana?
NH: Ayah saya dibunuh dengan menggunakan pedang oleh kafir Budha.
Apa benar selama ini Anda dan saudara Muslim di sana tidak bisa melaksanakan ibadah dengan tenang?
NH: Kami tidak boleh adzan, tidak bisa merayakan Idul Fitri, tidak bisa Idul Adha, tidak bisa shalat di masjid. Ekstremis Budha melarang Muslim ke masjid.
Lalu, bagaimana Anda bisa menghafal Qur’an?
NH: Saya hafal Qur’an sejak umur 14 tahun. Bapak yang mengajarkan kepada saya. Dia seorang ustadz di Rohingya. Sementara Budhis melarang Muslim untuk menghafal Qur’an, juga melarang membaca Qur’an.
Kenapa Anda dan Muslim Myanmar tidak melawan mereka (ekstremis Budha yang melakukan kekerasan terhadap Muslim)?
NH: Muslim Rohingya sedikit… Kita tidak punya pedang dan senjata. Budha di sana punya pedang dan senjata. Pemerintah (Myanmar) memberi mereka senjata, memberi mereka pedang, dan Budha pakai itu (pedang dan senjata) untuk (menyerang dan membunuh) kami, membunuhi Muslim.
Kami punya masjid, dan saat kami shalat di masjid, kaum ekstremis Budha mengunci (masjid) kami dari luar saat kami shalat, sehingga kami tidak bisa keluar.
Karena Nur Hassan sudah hampir meneteskan air mata, dia kami peluk dan wawancara tidak kami lanjutkan. Selain itu, para relawan asal Qatar telah tiba. Mereka membawa cukup banyak bantuan, dan Nur Hassan harus menemui para relawan dari Qatar itu untuk menerima bantuan.

Selasa, 16 Juni 2015

Pemerintah Uzbekistan melakukan kampanye pelarangan penggunaaan jilbab bagi wanita Muslimah di kota Tasken. Aparat akan menangkap Muslimah yang tidak mau melepaskan jilbabnya.
Sumber dari radio Al Hurrah di Uzbekistan mengatakan, petugas kepolisian telah melakukan sweeping Muslimah berjilbab di salah satu pasar kota Tasken. Muslimah yang tidak mau melepas jilbabnya akan diseret ke mobil polisi dan dipenjarakan.
“Polisi memaksa untuk melepas jilbab salah seorang Muslimah, yang tidak mau melepasnya maka ditangkap, sedangkan yang menuruti kemauan polisi dibiarkan,” kata salah seorang saksi mata, seperti dilansir alukah.net, Kamis (11/6/2015).
Sumber dari Kementerian Dalam Negeri Uzbekistan membenarkan adanya tindakan tersebut. Pihak kepolisian mencari para wanita Muslimah berjilbab yang berada di pasar.
Namun, petugas kepolisian sendiri banyak yang tidak ingin melakukan tindakan itu. Bahkan banyak dari polisi yang sengaja tidak masuk kerja untuk menghindari tugas sweeping tersebut.
“Ini adalah perjuangan berat bagi umat Islam. Banyak dari aparat polisi yang sengaja tidak masuk kerja untuk menghindari tugas ini, karena tahu itu adalah sebuah pelanggaran agama,” kata salah seorang polisi.
Perlu diketahui, pelarangan penggunaan jilbab bagi Muslimah di Uzbekistan terjadi sejak tahun 2009. Pemerintah menganggap berjilbab adalah tindakan ekstrem dalam beragama.
Pemerintah memaksa wanita Muslimah untuk melepas jilbabnya. Jika tidak mau maka akan dipenjara selama 15 hari atau dikenakan denda. Selain itu, pada 2009 juga pemerintah melarang warganya untuk melakukan penjualan jilbab. Dan kini tindakan itu lebih diperketat lagi

Sumber : salam-online.com

Kamis, 30 April 2015



Prasangka Buruk, Mencari Keburukan Orang Lain dan Menggunjing (Ghibah)
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
[QS Al Hujuraat ayat 12]
Adz-dzan adalah prasangka. Hukumnya dosa jika berprasangka buruk kepada saudara kita tanpa ada alasan apapun, apalagi kepada orang yang tidak tahu menahu tentang keburukan yang kita sangka-kan kepadanya.
Dalam ayat tersebut diatas ada tiga tahapan keburukan:
1. Berprasangka buruk kepada orang lain.
2. Mencari-cari keburukannya untuk membenarkan prasangka buruk tersebut.
3. Meng-ghibah-nya atau menggunjingnya.
Definisi Ghibah
Ghibah atau menggunjing adalah menceritakan tentang orang lain yang orang tersebut tidak suka jika hal itu kita ceritakan walaupun benar adanya, demikian definisi ghibah seperti dijelaskan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Salam dalam hadits shahih.
Syarat Taubat dari Ghibah atau Fitnah..
1. Menyesali perbuatannya dan memohon ampun serta taubat kepada Allah.
2. Meminta maaf kepada orang yang telah di-ghibahnya.
3. Mengakui kesalahannya dan mencabut semua fitnahannya serta merehabilitasi nama baik orang yang telah difitnah.
4. Berdoa kebaikan dan memuji orang yang telah di-ghibahnya.
5. Tidak berbuat seperti itu lagi dan berjanji tidak akan mengulangi lagi selamanya.
Renungan Tentang Ghibah..
“Perumpamaan orang yang meng-ghibah (menggunjing) orang lain adalah seperti orang yang memasang ketepel besar, lalu ia melemparkan (membuang) kebaikan-kebaikannya dengan ketepel itu ke kanan dan ke kiri, ke timur dan ke barat (sehingga kebaikannya habis)”.
[Ibnul Jauzi dalam Bahrud Dumu’ hlm 131]
Menyikapi Orang Yang Meng-Ghibah Kita..
Seseorang datang kepada Al-Hasan Al-Basri seraya berkata: Sesungguhnya si fulan telah meng-ghibah-mu.
Maka Al-Hasan Al-Basri mengirimkan kepada orang yang telah meng-ghibah-nya tersebut satu wadah ruthob [kurma segar yang lezat] seraya berkata: “Telah sampai berita kepadaku bahwa anda menghadiahkan untukku kebaikan-kebaikan anda, maka aku ingin membalas anda atasnya, tapi mohon maaf karena aku tidak bisa membalas anda dengan sempurna”.
Orang Bangkrut dan Pailit yang Sebenarnya
Diceritakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Salam dalam hadits shahih bahwa ada umat Beliau yang bangkrut dan pailit pada hari kiamat nanti dikarenakan pahala kebaikannya diambil untuk melunasi kedzalimannya sehingga dosanya bertambah banyak dan ia dilempar ke neraka, diantara mereka adalah orang yang suka meng-ghibah orang lain.
Ya Allah, selamatkan kami dan keluarga kami serta kaum muslimin semuanya..

Sumber : kajianislam.net

Bagaimanakah Mencintai Allah..?
Mencintai Allah adalah patuh dan tunduk dengan mengagungkan, memuliakan, takut dan mengharapkan.
Termasuk cinta kepada Allah adalah:
Mencintai tempat-tempat yang dicintai Allah,
seperti: Makkah, Madinah dan masjid-masjid pada umumnya.
Juga mencintai waktu-waktu yang dicintai Allah,
seperti: Bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, penghujung malam dll.
Mencintai orang-orang yang dicintai Allah,
seperti: Para nabi dan rasul, para malaikat, shiddiqin, syuhada dan shalihin.
Mencintai perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah,
seperti: Shalat, zakat, shaum (puasa), haji,
Mencintai ucapan-ucapan, seperti: Dzikir, membaca Al-Qur’an dll.
Termasuk cinta kepada Allah pula adalah mendahulukan apa yang dicintai Allah daripada kesenangan, syahwat dan keingininan diri sendiri.
Termasuk cinta kepada Allah adalah membenci apa dan siapa yang dibenci Allah.
Sepuluh Resep / Kiat Menggapai Cinta Allah..
[Disarikan dari kitab “Madarijus Salikin” karya Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah]
1. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah sesudah menunaikan ibadah wajib.
3. Selalu dzikirullah (mengingat dan berdzikir kepada Allah ) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
5. Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan memahami maknanya.
6. Memperhatikan kebaikan, karunia dan berbagai nikmat Allah kepada kita yang lahir dan batin.
7. Menundukkan hati dan diri secara total ke haribaan Allah serta merasa hina di hadapanNya.
8. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca firmanNya serta khusyu’ sepenuh hati dengan adab seorang hamba di sepertiga malam terakhir kemudian ditutup dengan istighfar.
9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang yang cinta Allah dan jujur dalam cintanya, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.
10. Menjauhkan semua sebab yang dapat memisahkan hati dengan Allah.
Munajat Cinta..
YA ALLAH,
Hamba Mohon KepadaMU CintaMU,
Cinta Siapa Saja Yang MenCintaiMU,
Cinta Apa Saja Yang Mendekatkan Hamba Kepada CintaMU..
Jadikanlah CintaMU Lebih Berharga Bagi Hamba Daripada Air Dingin Bagi Orang Yang Kehausan..
YA ALLAH,
Jadikanlah Hamba MencintaiMU Dengan Sepenuh Hati,
Selalu Mencari RidhaMU Dengan Upaya Maksimal Hamba..
YA ALLAH,
Jadikanlah Semua Cinta Hamba Hanya UntukMU,
Semua Usaha Hamba Hanya Untuk Meraih RidhaMU,
Karena CintaMu Adalah Suci, Sejati Dan Abadi..
YA ALLAH,
Hidupkan Hamba Dengan CintaMU,
Wafatkan Hamba Dengan CintaMU,
Bangkitkan Hamba Dengan CintaMU..
Oh Rabbi,
Liputilah Hamba Selalu Dengan CintaMu,
CintaMu Lebih Hamba Cintai Dari Semua Cinta,
Keluarkan Semua Cinta Dari Hati Hamba Selain CintaMu..
Oh Rabbi,
Tiada Kata Yang Bisa Hamba Ungkapkan Untuk Menyatakan Cinta Hamba KepadaMu..
Terimalah Cinta Hamba Dan Balaslah Dengan CintaMu..

Sumber : kajianislam.net


Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Manusia saling berinteraksi dan bekerja sama demi memenuhi kebutuhan hidup, meraih kebahagiaan, membentuk sistem sosial yang harmonis, juga menggapai hidup yang lebih berkualitas. Di zaman ini, dipastikan tidak ada manusia yang dapat hidup seorang sendiri dalam keterasingan, tanpa terhubung dengan orang lain dan terlibat interaksi bersama. Agar kehidupan bersama ini dapat terbangun dengan harmonis, tentu setiap orang memiliki kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama umat manusia. Islam pun mewajibkan setiap umatnya untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana banyak diterangkan dalam ayat Al,Qur’an, hadis, dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW serta para sahabat. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan hablumminannas dengan sebaik-baiknya, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad SAW. Perbuatan baik kepada manusia yang perintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah sangat banyak, antara lain sebagai berikut. a. Berbuat baik kepada kedua orang tua. b. Mengajarkan atau menyebarkan ilmu. c. Menyambung silaturahmi. d. Memberikan nasihat. e. Mengajak untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan. f. Berbuat adil. g. Mendamaikan pihak-pihak yang bermusuhan atau berseteru. h. Membantu mereka yang membutuhkan bantuan. i. Menjenguk orang sakit. j. Mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi. k. Berdagang dengan jujur. l. Berinfak dan bersedekah. m. Bersikap dan bertutur yang kata lemah lembut serta santun. n. Tidak menganggu dan menyakiti hati orang lain. o. Tidak mengambil hak orang lain. Itulah beberapa bentuk perbuatan baik kepada sesama yang diperintahkan oleh ajaran agama Islam. Sesungguhnya, berbuat baik pada sesama umat manusia bukan sekadar dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis dan saling mengasihi. Akan tetapi, perbuatan baik kepada sesama juga bernilai ibadah yang jika dilakukan akan berbalas pahala dan surga. Sebaliknya, jika perbuatan-perbuatan baik kepada sesama umat manusia ditinggalkan, pelakunya akan menuai dosa. Dosa karena telah lalai terhadap perintah Allah, yang berakibat pada timbulnya berbagai masalah dan kerusakan dalam kehidupan sosial. Satu hal yang harus senantiasa kita ingat adalah dalam berbuat baik pada sesama umat manusia, kita tidak boleh pilih kasih. Kita harus berbuat kebaikan kepada siapa saja, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, atau status sosial. Hal lain yang tidak boleh kita lupakan ketika berbuat baik adalah kita harus tulus dan ikhlas. Melakukannya karena mengharapkan ridho Allah semata. Ketika kita berbuat kebaikan pada sesama umat manusia, tetapi tidak ikhlas, misalnya mengharapkan imbalan atau ingin pujian, sejatinya kebaikan tersebut tidak akan ada nilainya di sisi Allah. Kebaikan tersebut justru dapat dikategorikan sebagai perbuatan riya atau perbuatan merugikan orang lain. Keduanya adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT. Dengan perintah yang sangat jelas untuk berbuat kebaikan pada sesama umat manusia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Justru kita harus berlomba-lomba untuk berbuat baik. Sebab, sesungguhnya setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain akan berbalas kebaikan pula. Selain berbalas kebaikan, penghormatan, dan kasih sayang dari manusia, perbuatan baik kita juga akan membuahkan kedekatan dan kasih sayang dari Allah SWT. Dan, jika kita mendapatkan kasih sayang Allah, sungguh itulah nikmat yang tiada bandingnya. Dengan kasih sayang Allah tersebut, kita akan mendapatkan kemuliaan hidup, baik di dunia maupun akhirat.

sumber : renunganislami.net


Anak adalah asset orangtua, sehingga harus diperlakukan dan dipersiapkan masa depannya dengan sebaik mungkin. Orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, termasuk mendoakan anak supaya sukses. Tak dapat dipungkiri, kesuksesan yang diraih oleh seseorang tak lepas dari doa orang tua. Ya, doa orang tua adalah doa yang paling manjur, karena doa orang tua untuk anaknya adalah yang paling didengar oleh Allah dan akan selalu diijabah oleh Allah SWT, entah itu doa yang baik maupun yang buruk. Maka dari itu, sebagai orang tua haruslah mendoakan anaknya dengan doa yang baik, seperti doa supaya anak sukses, doa agar menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orangtua dan berguna bagi orang lain, dan masih banyak lagi. Adakah doa-doa khusus supaya anak sukses? Sebelum membahas tentang doa supaya anak sukses, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sukses. Sukses merupakan dambaan setiap orang, karena dengan kesuksesan kita dapat melakukan apapun yang diinginkan. Siapa yang tidak ingin sukses? Hampir tidak ada. Sebagai orangtua tentunya akan bahagia apabila mampu mengantarkan anak meraih kesuksesan, bukan? Lantas, kesuksesan seperti apa yang diinginkan dan didoakan oleh orangtua? Kesuksesan tidak akan datang sendiri tanpa melakukan apa-apa. Namun, kesuksesan tidak hanya dapat diraih dengan usaha saja melainkan juga dengan doa agar Allah SWT memudahkan kita untuk meraih kesuksesan seperti yang didambakan. Kadang kala, orang tua sudah mengajari, membimbing dan mengarahkan anak dengan berbagai upaya, tapi anak tetap bandel dan keras kepala. Orangtua pun kelimpungan memikirkan cara apa lagi yang harus ditempuh dan semua jalan terasa buntu. Memang, untuk mencetak seorang anak yang saleh dan sukses tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua perlu usaha dan doa yang tak pernah putus. Dengan kekuatan doa orang tua, hati anak akan dapat terbuka untuk menerima pengarahan dan bimbingan orang tua untuk dapat meraih kesuksesan. Doa apa saja yang dapat dimunajatkan oleh orang tua supaya anak sukses? Orang tua dapat mendoakan anaknya agar meraih kesuksesan dunia akhirat, sukses dalam suatu usaha, sukses dalam mendapatkan rizki, sukses dalam menghadapi ujian, sukses dalam menuntut ilmu, dan masih banyak lagi. Salah satu doa supaya anak sukses sebagai berikut: “Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaama” Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa Doa lainnya agar anak menjadi anak yang saleh dan taat beribadah yaitu dengan doa berikut: “Rabbij’alni muqiimash-shalaati wa min dzurriyyattii rabbanaa wa taqabbal du’aa” Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Hendaklah orangtua selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya. Waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa adalah di pertengahan malam terakhir dan setiap selesai shalat fardhu. Mendoakan anak dengan doa yang baik adalah sangat penting, karena mendoakan anak dengan segala kebaikan adalah hadiah terbaik untuk anak kita, mengingat anak adalah titipan dari Allah SWT sehingga orangtua harus menjaga, merawat, serta mengarahkannya untuk dapat meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Demikian doa supaya anak sukses semoga bermanfaat.

Sumber : renunganislami.net

Rabu, 29 April 2015




Sebagai seorang yang beragama, tentunya berdoa sudah menjadi sebuah hal yang sangat umum dilakukan. Agama Islam mengajarkan kaum muslimin untuk selalu berdoa dan meminta hanya kepada Allah SWT, karena hanya Beliaulah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Namun kadang-kadang muncul pertanyakan kenapa doa tidak dikabulkan? Kurangnya usaha adalah salah satu sebab mengapa doa seseorang tidak dikabulkan. Saat seseorang berdoa kepada Allah SWT, hendaknya doa ini juga disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh. Menggunakan pakaian serta memakan makanan yang bersumber dari uang yang haram juga menjadi salah satu penyebab tidak dikabulkannya doa. Sebuah hadis dari Abu Hurairah menyebutkan bahwa pada suatu waktu Rasululullah SAW pernah bercerita bahwa “Seorang lelaki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat tangan ke langit tinggi-tinggi dan berdoa ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku” padahal makanan dari barang haram, minumnya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya? (H.R. Muslim) Doa yang dipanjatkan adalah doa yang mengandung dosa dan memutus silaturahmi. Doa-doa yang mengandung niat yang jahat atau perbuatan dosa tentunya tidak akan dikabulkan. Sebuah hadis dari Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahmi dan tidak tergesa-gesa” Seorang sahabat bertanya “Ya Rasullulah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” Rasullullah SAW menjawab “Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’. Setelah itu ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi’ (H.R. Muslim). Hadits diatas juga menyebutkan salah satu penyebab lain dari tidak dikabulkannya sebuah doa, yaitu tergesa-gesa alias tidak sabaran. Allah SWT memiliki alasan sendiri mengapa Beliau tidak segera mengabulkan doa seseorang. Sebuah hadits dari Abu Said menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah dimana didalamnya tidak terkandung dosa dan memutuskan silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya antara tiga perkara: 1) Allah akan mengabulkan doanya, 2) Allah akan menyimpannya di akhirat nanti, 3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan dan malapetaka yang mirip dengan permintaannya (H.R. Ahmad). Hadits ini mengisyaratkan kepada kaum muslim bahwa Allah memiliki rencana sendiri untuk doa setiap muslim. Bisa jadi doa tersebut tidak dikabulkan karena justru akan membawa keburukan bagi si peminta. Bisa juga sebuah doa itu tidak dikabulkan karena Allah menyimpannya sebagai sebuah pahala yang akan Beliau berikan saat di akhirat nanti. Selain itu ada berbagai penyebab lain kenapa doa tidak dikabulkan. Mereka yang berdoa saat hati kosong, mereka yang merasa tidak yakin bahwa doa mereka akan dikabulkan dan mereka yang tidak sungguh-sungguh dalam berdoa adalah alasan lain mengapa doa mereka tidak dikabulkan. Dari Abu Hurairah, Rasullulah SAW bersabda “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai” (H.R. At Tirmidzi) Ada berbagai penyebab mengapa doa seseorang tidak dikabulkan. Hendaknya kita sebagai kaum muslimin mengintropeksi diri sendiri apakah ada hal-hal yang kita lakukan yang membuat doa kita tidak dikabulkan. Berbaik sangkalah kepada Allah SWT dan terus menerus berusaha adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan dan biarlah doa kita di jawab oleh Allah saat waktunya tiba.

Sumber : renunganislami.net


Apa yang mesti dilakoni agar mentalitas positif dan spirit keyakinan itu tak langsung layu ketika badai tantangan datang menghadang? Apa yang mesti diziarahi agar virus positiv itu terus menancap dalam serat otak kita bahkan ketika lautan masalah terus menggelora, menghantam biduk perjalanan kita? Beruntung, para ahli saraf (neurolog) telah menemukan jawabannya. Dan jawabannya terletak pada empat level gelombang otak kita. Melalui serangkaian eksperimen dan alat ukur yang bernama EEG (elektroensefalogram), mereka menemukan ternyata terdapat empat level getaran dalam otak kita. Mari kita simak bersama empat gelombang kesadaran itu. Beta (14 – 100 Hz). Dalam frekuensi ini kita tengah berada pada kondisi aktif terjaga, sadar penuh dan didominasi oleh logika. Inilah kondisi normal yang kita alami sehari-hari ketika sedang terjaga (tidak tidur). Kita berada pada frekuensi ini ketika kita bekerja, berkonsentrasi, berbicara, berpikir tentang masalah yang kita hadapi, dll. Dalam frekuensi ini kerja otak cenderung memantik munculnya rasa cemas, khawatir, stress, dan marah. Alpha (8 – 13.9 Hz). Dalam frekuensi ini, orang akan berada pada posisi khusyu’, relaks, meditatif, nyaman dan ikhlas. Dalam frekuensi ini kerja otak mampu menyebabkan kita merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Theta (4 – 7.9 Hz). Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan berada pada kondisi sangat khusyu’, keheningan yang mendalam, deep-meditation, dan “mampu mendengar” nurani bawah sadar. Inilah kondisi yang mungkin diraih oleh para ulama dan biksu ketika mereka melantunkan doa ditengah keheningan malam pada Sang Ilahi. Delta (0,1 – 3,9 Hz). Frekuensi terendah ini terdeteksi ketika orang tengah tertidur pulas tanpa mimpi. Dalam frekuensi ini otak memproduksi human growth hormone yang baik bagi kesehatan kita. Bila seseorang tidur dalam keadaan delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi. Meski tertidur hanya sebentar, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar. Nah, penyelidikan menunjukkan bahwa proses penumbuhan keyakinan positif dalam pikiran kita akan berlangsung dengan optimal jika otak kita tengah berada pada kondisi Alpha (atau juga kondisi Theta). Dalam frekuensi inilah, kita bisa menginjeksikan energi positif dalam setiap jejak sel saraf kita secara mulus. Apabila kita merajut keyakinan positif dan visualisasi keberhasilan dalam kondisi alpha, maka rajutan itu benar-benar akan menembus alam bawah sadar kita. Pada gilirannya, hal ini akan memberikan pengaruh yang amat dahsyat pada pola perilaku kita ketika berproses menuju puncak keberhasilan yang diimpikan. Pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana caranya agar kita bisa berada kondisi alpha? Bagi Anda yang muslim, ada satu langkah yang mujarab : sholat tahajud di tengah keheningan malam (Jika Anda beragama Kristen, mungkin medianya adalah dengan melakukan “retreat”). Begitulah, para kaum bijak bestari berkisah, dalam momen-momen kontemplatif ketika bersujud dihadapan Sang Ilahi, selalu ada perasaan keheningan yang menggetarkan, perasaan khusyu’ yang sungguh menghanyutkan. Saya berpikir perasaan ini muncul karena saat itu kondisi otak kita sedang berada pada gelombang alpha. Dan percayalah, dalam momen itu, kita dengan mudah bisa memasukkan energi positif dan spirit keyakinan dalam segenap pikiran kita. Dalam momen inilah, dalam hamparan kepasrahan total pada Sang Pencipta dan rasa syukur yang terus mengalir, kita bisa merajut butir-butir keyakinan positif itu dalam segenap raga kita. Dalam segenap jiwa dan batin kita. Maka mulai malam ini………………ditengah kesunyian malam, bentangkanlah sajadah disudut rumah kita, basuhkan air wudhu, dan tegakkan sholat tahajud dengan penuh keikhlasan. Lalu, ditengah keheningan yang menentramkan, lantunkanlah harapan positif dan doa-doa itu dengan penuh keyakinan…… Mudah-mudahan kita semua bisa melangkah menuju pintu keberhasilan dan kebahagiaan. Disini dan “Nanti”.

Sumber : renunganislami.net


Masjid adalah baitullah, Rumah Allah, tempat bagi seluruh umat Islam untuk melaksanakan ibadah dan sebagai pusat kegiatan dakwah Islam. Di dalam masjid, shalat ditegakkan, dzikir menghiasi lisan, Al-Qur’an dialunkan, ilmu agama disebarkan, dan berbagai kegiatan sosial keagamaan diselenggarakan. Di dalam masjid pula ukhuwah Islamiah dijalin. Ketika telah berada di dalam masjid dan melaksanakan shalat berjamaah atau mendengarkan ceramah, semua orang dipertautkan dalam satu ikatan, yaitu Islam. Tidak ada lagi yang memandang status sosial, jabatan, harta, atau penampilan. Masjid adalah tempat yang paling disukai Allah dan selalu didatangi oleh para malaikat. Begitu sakral dan strategis kedudukan masjid bagi penopang tetap tegaknya agama Islam. Oleh karena itu, menjadi kewajiban semua orang Islam untuk menjaga agar masjid senantiasa ramai atau makmur. Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan orang-orang saleh pun selalu memberi ketaladanan betapa meramaikan masjid merupakan kewajiban seorang muslim yang tidak boleh dilalaikan. Jangan sampai umat muslim enggan mengakrabi masjid sehingga masjid sekadar menjadi bangunan megah yang kehilangan ruh. Bangunan yang mewah, tetapi tidak memberi sumbangsih bagi kebaikan dan kemajuan umat Islam. Selain sebagai kewajiban yang semestinya dipikul, bagi seorang muslim yang senantiasa berusaha untuk memakmurkan masjid, maka ia akan memperoleh berbagai keutamaan. Keutamaan meramaikan masjid, antara lain sebagai berikut. a. Dihindarkan dari azab. b. Dianggap sebagai tetangga oleh Allah SWT. c. Dihapuskan dosanya. d. Diangkat derajatnya. Betapa mulia kedudukan orang yang senantiasa berupaya untuk memakmurkan masjid, di hadapan Allah. Tentu, kita semua ingin meraih kemuliaan tersebut. Oleh karena itu, kita pun harus selalu menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa tergerak hatinya untuk meramaikan masjid. Apa yang dapat kita lakukan untuk meramaikan masjid. Ada banyak cara yang dapat kita tempuh untuk memakmurkan masjid, antara lain sebagai berikut. a. Selalu mengerjakan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan berjamaah di masjid. Dengan cara ini, setidaknya lima kali dalam sehari kita mendatangi masjid dan bersilaturahmi dengan saudara-saudara sesama muslim. Hingga masjid akan menjadi makmur oleh kahadiran kita dan saudara-saudara kita yang juga shalat brejamaah di sana. b. Memperbanyak kegiatan syiar agama di masjid. Untuk menghindarkan masjid kurang diakrabi oleh para jamaahnya, kita dapat memperbanyak kegiatan dakwah Islam di masjid. Makin sering kegiatan dakwah dilakukan, maka akan makin sering pula para jamaah mendatangi masjid. Hingga masjid di lingkungan tempat tinggal kita pun menjadi makmur. c. Mengadakan kegiatan sosial di masjid, misalnya gotong royong membersihkan masjid. Cara ini akan membuat masjid menjadi makmur dan lingkungan masjid pun menjadi bersih sehingga nyaman untuk beribadah. d. Mengangkat imam tetap untuk memimpin shalat berjamaah sehingga tidak terjadi masyarakat enggan shalat berjamaah di masjid karena tidak adanya orang yang bersedia menjadi imam. e. Ikhlas dan selalu bersedia berkontribusi untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di masjid, baik kontribusi dalam bentuk materi, tenaga, maupun sumbangsih berupa gagasan-gagasan yang bermanfaat untuk meramaikan masjid. Masjid adalah salah satu pilar penopang tegaknya ajaran Islam di bumi ini. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menjaganya agar selalu makmur. Dengan demikian, masjid akan akan selalu menjadi pusat ibadah, ukhuwah, dan dakwah. Jangan sampai umat Islam terjauhkan dari pengalaman nilai-nilai agama karena tidak lagi mencintai dan merindukan masjid beserta seluruh aktivitas mulia yang dapat dijalankan di dalamnya.

sumber : renunganislami.net


Sodaqoh adalah memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, kecuali Ridho Allah SWT. Perbuatan mulia ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai kepedulian sosial tinggi terhadap sesama dan suka membantu terhadap orang yang membutuhkan bantuan. Sebab, jika orang tersebut memiliki sikap bakhil, kurang peduli kepada orang yang lemah, kurang tanggap terhadap perjuangan Islam, pasti ia tidak mau bersodaqoh. Rasulullah bersabda yang artinya: “Bersodaqohlah, sebab sodaqoh menjadi pelepas atau pemisah dari neraka.” Al-Faqih berkata: “Orang bersodaqoh bagaikan seorang petani, apabila ia pandai dalam profesinya, bibitnya unggul dan lahannya subur, maka hasilhnya pun akan baik, melimpah ruah. Tiada beda dengan orang bersodaqoh, apabila ia orang saleh, hartanya baik dan halal, dan diberikan tepat guna, maka pahalanya juga banyak” (Syifak Andu’iy). Mengingat besarnya pahala sodaqoh sampai Rasulullah pun sangat menganjurkan untuk mendermakan kelebihan sebagian rejeki yang kita miliki. Sedangkan jika kita menahannya untuk tidak mendermakannya, maka hal itu merupakan salah satu sifat buruk yang tidak disukai Nabi Muhammad. Memang tidak dicela atas keadaan hidup seseorang yang serba berkecukupan, namun sangat disarankan untuk bersodaqoh kepada orang yang susah. Pada dasarnya tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah. Maksudnya, orang yang bersodaqoh atau memberi itu lebih utama dibandingkan dengan orang yang meminta dan menerima bantuan. Jika kita sudah terbiasa dengan sifat pemurah, maka kita akan dicintai Allah dan segenap makhluk-Nya. Selain itu, di surga telah dibuatkan satu kampung khusus untuk para manusia yang dermawan. Bersodaqoh itu banyak hikmah dan manfaatnya. Diantara hikmah dan manfaat bersodaqoh adalah dapat menolak bencana dan penyakit, dapat memelihara harta dari orang-orang yang dengki, juga bisa mensucikan diri dari beberapa dosa. Ada banyak kejadian tidak masuk akal yang akan Anda alami berkat rajin bersodaqoh. Misalnya kebanjiran order barang yang dijual, selamat dari kecelakaan fatal maupun dijauhkan dari mara bahaya lainnya. Mari budayakan bersodaqoh sejak sekarang.

Sumber : renunganislami.net


Tak ada satu orangpun di dunia ini yang menginginkan menjalani hidup sengasara. Jika ditanya, semua pasti ingin kehidupan yang mulia. Walaupun, dengan keinginan yang besar itu, rata-rata dari tidak paham bagaimana cara mendapatkan kemuiaan hidup. Secara kodrat, manusia sebenarnya telah diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia. Coba pikirkan, sudah berapa makhluk di bumi ini yang telah punah akibat tidak bisa mempertahankan diri dari kekurangan. Manusia, selalu bisa, bahkan sampai saat inipun manusia bisa hidup karena kemuliaan yang ada pada dirinya. Dia diberi akal pikiran sehingga bisa mengatasi segala masalah yang menghadang sehingga bisa selalu bertahan dalam situasi apapun. Kurang mulia seperti apa lagi? Sayangnya, kemudian banyak orang yang lupa bahwa semua kemuliaan yang ada pada dirinya itu semata-mata dari Allah SWT. Kita manusia tidak puya sejengkal pun hak untuk menyombongkan diri. Bahkan ada juga yang lebih parah, yaitu mereka yang menganggap kemuliaan hanya dipandang dengan harta. Jadi, sepanjang hidupnya dia hanya mencari-cari harta, menumpuk-numpuknya dengan segunung harapan hidupnya akan mulia. Namun seanainya mereka tahu bahwa cara seperti itu benar-benar salah kaprah, mereka pasti akan menangis. Kemuliaan sejatinya hanya dekat dengan Allah SWT. Tak ada seorangpun di dunia ini yang akan mampu membuat kita hina sepanjang Allah SWT menjaga kia tetap mulia. Sebaliknya, meskipun seisi dunia mengagung-agungkan kita, jika Allah SWT manila kita hina, tak akan ada yang patut kita banggakan dari diri kita. Peras keringat, banting tulang setiap hari untuk memperoleh harta semata tanpa dilandasi dengan ibadah dan selalu mengingat-Nya adalah hal paling hina yang bisa dilakukan oleh manusia. Dia lupa bahwa di akhir dunia ini masih ada tempat yang siap menampung kita selama-lamanya. Kehidupan kekal yang akan kita hadapi tanpa ujung itu pantaskah hanya kita siapkan sedikit saja. Kemuliaan disana tak akan pernah berakhir, jadi cobalah berpikir lebih pilihkah kita mulia di hadapan orang-orang di dunia ini tetapi hina selama-lamanya di akherat? Yang paling indah adalah meraih kemuliaan di dunia dan akherat. Hal ini seperti yang telah dijanjikan Allah SWT, bahwa setiap yang kita niatkan untuk ibadah, maka dampaknya bukan hanya untuk akherat melainkan juga dunia. Tetapi jika segala niat kita curahkan pada dunia, maka hanya dunia lah yang akan kita dapat. Pilihlah akheratmu dan dunia aka nada di genggamanmu, tetapi pilihlah duniamu dan kamu tak akan mendapatkan apapun kecuali apa yang engkau pilih. Allah SWT Maha Tahu yang umatnya kerjakan, meskipun hanya diucapkan dalam hati, niat merupakan ibadah yag mendasar, maka berhati-hatilah dengan niatmu.
Sumber : renunganislami.net

Selasa, 28 April 2015



Jaman sekarang, tidak gaul kalau tidak punya akun di social media. Contoh yang paling populer adalah Facebook dan Twitter.
Apakah Anda memiliki salah satu atau semuanya? Selamat, apabila jawabannya adalah iya. Karena apa? Karena Anda menjadi salah satu orang yang gaul.
Social media atau jejaring sosial ternyata lebih dominan dan populer dibanding website-website berisi konten membosankan, bagi sebagian besar orang. oleh karena itu, banyak pengguna internet yang lebih suka membagi informasi melalui akun jejaring sosial mereka.
Apabila Anda memiliki ilmu agama yang mumpuni dan ingin berbagi, maka tidak ada salahnya memanfaatkan Media . Apakah akan berhasil?
Ada banyak fenomena ajaib yang terjadi di dunia berkat luasnya sosial media

Misalnya, Barack Hussein Obama yang memanfaatkan Facebook untuk berkampanye atau cerita seorang tukang sayur yang membakar diri di Mesir karena kondisi ekonominya yang menimbulkan gejolak revolusi. Mudahnya penyebaran informasi melalui jejaring sosial media adalah sebabnya. Lalu, bukankah akan lebih dahsyat lagi manfaatnya apabila dakwah juga dilakukan melalui media tersebut?
Islam itu dinamis, tidak kaku walaupun tegas. Kita juga dianjurkan untuk mengikuti perkembangan jaman dengan tetap mengambil yang baik dan menjauhi yang buruk. Mengapa memanfaatkan Social Media Strategy untuk Dakwah Islam itu perlu?
Berikut adalah beberapa alasannya:
1. Biaya tidak mahal bahkan gratis. Walaupun masih banyak orang mengatakan bahwa internet di Indonesia mahal, namun pada dasarnya hal itu jauh lebih terjangkau daripada cara menyampaikan dakwah secara konvensional.
Diperlukan orang yang bertanggung jawab sebagai penyelenggara pengajian dimana tidak hanya menyediakan tempat, tapi juga konsumsi bagi semua peserta pengajian. Melalui media sosial, seorang da’i dapat melakukan hal tersebut sendiri. Ia hanya perlu memposting atau tweet konten yang berisi ajaran atau pesan agama di akunnya dan pengguna akun lain yang terhubung serta mengikutinya akan dapat membacanya.
2. Proses penyebaran informasi cepat dan mudah. Setiap postingan akan lebih mudah terekspos oleh pengguna social media yang lain, tanpa perlu terlebih dahulu menyebar undangan.
3. Akses dimana saja dan kapan saja. Keunggulan internet dibanding alat komunikasi yang lain adalah jumlah dan waktu akses. Jaringannya luas sehingga orang dari berbagai pelosok negeri dapat lebih mudah menjelajahi dunia maya. Terlebih lagi dengan adanya social media yang menjadikan orang asing menjadi teman akrab, walaupun keberadaannya nun jauh disana.
4. Lebih mudah menggiring mindset publik. Apakah Anda punya teman-teman yang berpengaruh atau sekedar memiliki teman yang jumlahnya sangat banyak? Apabila mereka kompak dan benar-benar menyukai postingan dakwah Anda maka akan lebih mudah untuk mendapatkan respon positif dari pengguna internet umumnya dan social media khususnya.
Contohnya seperti kisah tukang sayur di Mesir yang beritanya tersebar di jejaring sosial kemudian membuat publik melakukan aksi penentangan pada militer negara tersebut yang otoriter.
Lalu, bagaimana sebaiknya pemanfaatan Social Media Strategy untuk Dakwah Islam? Tidak mudah memang untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain berbuat baik. Dibutuhkan trik agar orang tersebut tergerak hatinya, apalagi bila ia tidak terlalu mudah tersentuh oleh bacaan.
Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan saat berdakwah melalui jejaring sosial:
– Kenali segmen dan gunakan pendekatan-pendekatan yang sesuai, seperti gaya bahasa
– Hindari perdebatan
– Update informasi dalam kemasan yang menarik
– Perluas wawasan
– Gunakan bahasa yang menyentuh hati dan memotivasi. Penambahan gambar juga membuat konten jauh lebih menarik dan memperkuat pengaruh pesan yang ingin disampaikan.

Sumber : Renunganislami.net


Memasuki surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan kita mendapatkan apa yang kita perlukan dengan mudah adalah keingingan semua orang. Namun, menjadi seorang pemeluk agama Islam bukanlah jaminan bahwa kita akan masuk surga.
Ada banyak syarat yang harus dilakukan oleh manusia agar bisa kekal di dunia akhir yang nyaman sesuai dengan janji Allah S.W.T. Jika kita perhatikan Al Qur’an dengan seksama.
Yang utama adalah ketakwaan, keimanan, dan berbuat kebajikan. Disurat kedua Al Qur’an masalah ketakwaan dan keimanan itu telah disinggung langsung.Dimulai dari ayat 2 surat Al Baqarah, Allah menerangkan bahwa kisah dalam Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa dan dilanjutkan dengan ayat-ayat berikutnya yang menunjukkan seperti apakah orang yang bertakwa itu.
Allah menerangkan apa yang harus dilakukan agar kita menjadi orang bertakwa yaitu dengan beriman dan menyembah Allah, Tuhan yang telah menciptakan manusia. Allah juga menerangkan bagaimana ciri-ciri orang kafir, perumpamaan orang kafir, dan neraka sebagai tempat yang disediakan untuk orang kafir. Lalu janji Allah tentang surga terdapat pada ayat 25 yang artinya:
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan bahwa untuk mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu’.
Mereka telah diberi yang serupa. Dan di sana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”
Ketakwaan yang kita miliki haruslah menyeluruh. Seperti yang diterangkan dalam surat Al Baqarah ayat 3-4 bahwa orang bertakwa adalah orang yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, menginfakkan sebagian rezeki, beriman kepada Al Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, dan yakin terhadap akhirat. Dengan begitu kita akan mendapat petunjuk dan menjadi orang yang beruntung.
Selain surat Al Baqarah, masalah ketakwaan dan keimanan ini banyak sekali disinggung dalam surat-surat Al Qur’an lainnya. Banyak sekali ayat yang dimulai dengan “Ya ayyuhalladzina amanu” yang berarti “wahai orang-orang yang beriman”, yang berisikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman.Berbagai ayat lainnya menegaskan tempat kembali yang menyenangkan bagi orang yang bertakwa dan beriman.
Ketakwaan dan keimanan memang menjadi syarat utama karena tanpa iman, kita bukanlah muslim yang sebenarnya. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak orang mengaku muslim tetapi mereka sendiri tidak yakin bahwa Allah benar-benar ada. Mereka dengan mudahnya melakukan dosa-dosa besar yang dilarang oleh Allah.
Dengan ketakwaan dan keimanan, kita akan mengikuti perintah Allah untuk membaca Al Qur’an secara keseluruhan, mengikuti semua perintah-Nya, dan menjauhi semua larangannya. Hal yang sepertinya sulit akan mudah untuk dilakukan.
Jika kita telah meniatkan kebaikan dan sungguh-sungguh untuk melakukan hal tersebut, Allah akan membukakan jalan yang mudah pada saat yang tepat karena Allah mengetahui semua yang terbaik untuk kita.
Kita tidak akan takut untuk melakukan hal yang benar karena kita yakin bahwa Allah akan selalu melindungi setiap langkah kita. “Hasbunallah”, cukuplah Allah yang menjadi pelindung.
Dengan ketakwaan dan keimanan, hal-hal buruk yang terjadi pada kita tidak akan membuat hidup kita sulit karena kita yakin bahwa dari semuanya akan ada hikmah.
Justru kita menjadi senang karena hal itu berarti Tuhan masih mengingat kita dan memberikan kita waktu untuk mencari tahu apa kesalahan kita dan memperbaiki diri. Semoga kita bisa menjadi orang bertakwa dan beriman dengan menyeluruh.

sumber : renungan islami.net




Sholat shubuh berjama'ah di mesjid adalah salah satu amalan mulia yang disukai oleh Allah SWT. Setiap langkah kaki kita untuk datang ke mesjid pada fajar yang hening itu akan selalu dicatat oleh malaikat dengan penuh rasa sukacita.

Bagi kita yang menjalaninya, sholat subuh berjamaah di mesjid, sungguh merupakan pengalaman harian yang syahdu dan menggetarkan. Berjalan kaki atau bersepeda menuju mesjid di lingkungan kompleks perumahan kita, di tengah fajar pagi yang hening dan menentramkan, merupakan ritual yang “sesuatu banget”.

Bagi yang berangkat ke kantor setiap pagi, maka sholat subuh berjamaah di mesjid merupakan sebuah kegiatan yang dapat dilakukan dengan terus menerus. Sebab, saat itu masih ada waktu sebelum bersiap-siap peri berangkat ke kantor. Bahkan sholat subuh berjamaah di mesjid merupakan awal persiapan yang sangat baik sebelum datang ke kantor untuk mengerjakan tugas.

Lalu bagaimana agar kita bisa bangun fajar dan kemudian bisa melakukan sholat subuh berjamaah di mesjid? Kombinasi yang pas mungkin seperti ini : bangun antara jam 3 – 4 dinihari, lalu sholat tahajud. Setelah selesa, baca beberapa lembar Al Qur’an untuk menunggun datangnya adzan Subuh, dan kemudian segera datang ke mesjid ketika suara adzan berkumandang.

Kuncinya adalah membiasakan agar diri kita bisa bangun pada jam 3 – 4 pagi. Kebiasaan ini pelan-pelan harus mulai di-pupuk. Apakah bisa? Ya pasti bisa, sebab selama ini pun Anda sudah punya kebiasaan yang bersifat otomatis : seperti kebiasaan makan pagi, kebiasaan gosok gigi, kebiasaan membaca internet, dll. Jadi ritual bangun jam 3 – 4 pagi juga bisa menjadi kebiasaan yang bersifat otomatis.

Salah satu cara yang mudah untuk membuat kita bisa bangun pagi adalah dengan tidur malam lebih awal, misal paling lambat kita harus membiasakan diri agar tidur jam 9 malam. Awalnya mungkin berat, untuk membiasakan agar tidur jam 9 malam dan lalu bangun jam 3 – 4 pagi.

Namun pelan-pelan kalau kita paksakan, maka kebiasaan tidur dan bangun dinihari itu akan menjadi kebiasaan yang bersifat otomatis. Dengan ini, kita bisa dengan mudah melakukan sholat tahajud, dan kemudian sholat subuh berjama’ah di mesjid.

So, start bulding your NEW HABIT today !!

Sumber : renunganislami.net


Rasa syukur adalah salah satu tindakan yang perlu terus dipelihara. Pertama-tama ia merupakan sebuah simbolisasi paling kuat untuk menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Allah SWT yang telah melimpahkan begitu banyak kenimatan hidup kepada kita semua.
Pada sisi lain, rasa syukur yang terus mengembang ternyata juga akan membuat kita menjadi insan yang lebih bahagia. Mengucapkan rasa syukur dengan penuh ketulusan akan membuat hati kita adem dan tentram. Pada gilirannya hal ini akan membuat suasana hati kita menjadi lebih positif dan mampu mendorong level kebahagian.
Namun acapkali, kesibukan kerja kita membuat kita sering lupa dengan rasa syukur ini. Tak jarang kita juga menganggap hal-hal fundamental yang kita peroleh sebagai “sesuatu yang given”.
Belaian sinar matahari pagi yang mengembang, udara segar yang terus melimpah, mata yang bisa melihat segala keindahan, dan tangan yang bisa menggenggam, adalah segelintir kenikmatan yang kita reguk hingga hari ini. Tidakkah untuk ini semua kita layak mengucap rasa syukur dan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada yang menyediakannya.
Aplikasi praktis yang bisa kita jalani untuk meng-instal rasa syukur ini antara lain adalah dengan merenungkan semua berkah yang kita dapatkan – yang paling terkecil sekalipun. Setiap malam atau setiap pagi, atau di setiap kita ada waktu untuk merenung – saat sehabis sholat, atau saat di jalanan, atau saat mau tidur.
Hadirkan rasa syukur yang mendalam akan apapun yang bisa kita dapatkan pada hari itu, atau minggu itu : pekerjaan yang bisa memberi kita nafkah, sarapan pagi yang nikmat, anak-anak yang menggemaskan, istri atau suami yang penuh kasih, bersepeda pagi yang penuh canda, dan seterusnya.
Sungguh betapa besar karunia yang telah diberikan oleh Sang Ilahi kepada kita. Bersyukur dengan sepenuh hati adalah sesuatu yang layaknya kita rajut dengan penuh ketekunan.

Sumber : renunganislami.net

Senin, 27 April 2015



Sholat tahajud adalah salah satu amalan mulia yang disukai oleh Allah SWT. Kalau saja jika kita mampu melakukannya setiap malam – atau setidaknya beberapa malam setiap minggunya – maka sungguh kita akan mendapatkan barokah yang amat bermakna bagi kehidupan kita di sini dan disana.
Dalam keheningan malam yang syahdu, kala kita melakukan sholat tahajud dengan rasa khusyu’, kita bisa melakukan semacam perbincangan yang amat dekat dengan Sang Ilahi. Kalau kita dengan penuh ketekunan mendekatkan diri padaNya, maka niscata DIA yang akan makin dengan dekat dengan kita.
Dalam malam yang hening itulah, kita bisa melantunkan doa yang indah dengan sepenuh sukma. Menghadirkan pujian, rasa terima kaish dan rasa syukur atas karunia yang melimpah yang telah diberikan olehNYA.
Untuk bisa melakukan sholat tahajud dengan konsisten, kita mungkin harus mulai menumbuhkan kebiasaan agar bangun di tengah malam atau sepertiga malam terakhir (antara jam 3 hingga jam 4 sebelum tiba saat sholat Subuh).
Cara yang paling mudah untuk bisa bangun pada saat menjelang fajar, adalah dengan tidur di awal malam. Tidur jam 8.30 malam dan bangun jam 3.30 dinihari artinya Anda tidur dalam durasi 7 jam (inilah durasi tidur yang paling disarankan oleh para ahli kesehatan).
Pola waktu diatas jauh lebih baik dan lebih menyehatkan dibanding tidur jam 11 malam lalu bangun jam 6 pagi (durasinya sama tuju jam, namun Anda kesiangan dan gagal menjalankan sholat Subuh dengan tepat waktu).
Jika Anda bisa tidur jam 8.30 atau jam 9 malam dan lalu bangun jam 3 atau 4 dinihari, tubuh rasanya akan fresh dan sehat. Kalau kebiasaan ini mulai Anda jalankan dengan tekun, niscaya Anda akan bisa terus bangun pas dinihari, dan kemudian masih memiliki waktu untuk menjalankan sholat tahajud. Sebelum kemudian pergi ke mesjid untuk menjalankan sholat Subuh berjama’ah.
Jadi kuncinya adalah mulai hari ini Anda harus membiasakan untuk tidur paling lambat jam 9 malam. Lalu kemudian bangun antara jam 3 – jam 4 dinihari. Kuatkan tekad untuk memupuk kebiasaan baru ini. Tidur terlalu malam lantara asyik menonton TV adalah membuang waktu dengan sia-sia. Apalagi kemudian bangun kesiangan.
Kalau sudah menjadi habit, maka kebiasaan bangun jam 3 – 4 dinihari juga akan menjadi sesuatu yang menyegarkan tubuh dan otak kita. Air wudhu yang kita ambil untuk melakukan sholat tahajud dan sholat subuh berjama’ah di mesjid, terasa bagaikan air dari surga. Adem dan sungguh menentramkan.
Manfaat sholat tahajud bisa dilihat Disini

Sumber : Renunganislami.net


Ingin menjadi orang yang lebih baik? Tentunya semua orang ingin. Namun, apakah Anda sudah mengerti bagaimana caranya? Itulah kenyataan yang terjadi. Banyak orang, dalam hal ini muslim, yang mengaku ingin selalu dapat menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Mereka ingin mengubah hidup menjadi lebih baik, namun sama sekali tidak mengetahui bagaimana caranya dan harus mulai dari mana.
Jangan pernah berpikir bahwa mengubah hidup adalah hal yang mudah. Jangan pernah mengira bahwa dengan menjetikkan jari Anda, maka hidup Anda akan seketika berubah.
Perlu Anda ketahui bahwa ketika Anda memutuskan untuk mengubah hidup Anda menjadi lebih baik, maka Anda harus siap untuk melakoni setiap prosesnya. Orang – orang yang kita kenal hebat, adalah orang – orang yang telah teruji dan telah melalui setiap proses di dalam diri mereka. Untuk menjadi seperti mereka, kita memerlukan waktu, perjuangan dan melalui setiap tahap dengan gigih dan tabah.
Jadi, jangan berpikir bahwa orang hebat itu memang sudah dilahirkan hebat karena sejatinya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi hebat, tinggal bagaimana mereka menyikapi dan melalui setiap proses dan tahapan dalam hidup.
Berikut adalah langkah sistematis yang dapat Anda terapkan jika ingin merubah hidup menjadi lebih baik:
Jelas
Anda harus mengetahui ke mana arah perubahan yang Anda inginkan. Seperti halnya ketika mengendarai kendaraan, Anda akan dengan mudah mengambil arah jika telah mengetahui tempat yang hendak dituju.
Pun demikian dalam hidup, ketika Anda mengetahui ke mana arah perubahan yang ingin Anda capai, maka Anda akan dengan mudah mengetahui setiap tantangan yang harus dilalui. Contohnya, tentukan apa arti “menjadi lebih baik” bagi diri Anda. Jika Anda ingin lebih baik dari sisi ekonomi, beri target atau gambaran penghasilan yang ingin Anda raih dan kapan Anda harus meraihnya.
Bulatkan Tekad
Jangan hanya ingin tapi bulatkan tekad Anda. Keinginan tidak akan merubah apapun, karena itu hanya sekadar angan – angan semata. Ketika tekad Anda sudah bulat, maka setiap tantangan yang akan Anda hadapi nantinya, akan dengan mudah Anda hadapi. Tekad juga berarti Anda siap untuk menganggung segala resiko yang mungkin timbul dan siap mengambil semua langkah pemecahannya (tentunya cara halal). Dan, ketika tekad Anda sudah bulat, bersikaplah tawakal.
Hati
Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika baik, maka baiklah pula seluruh jasad, jika rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa (segumpal daging) itu adalah hati”.
Dari hadits tersebut, dapat dipetik hikmah bahwa untuk merubah diri Anda menjadi lebih baik, maka rubahlah hati.
Bersihkan hati dari perasaan negatif, dari dosa, kekhawatiran, prasangka buruk, takut,lemah, keragu – raguan, rasa iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Berikan hati perasaan optimis, semangat serta energi positif yang akan memberi dorongan lebih kepada diri Anda untuk menjadi lebih baik. Ketahuilah, bahwa penghalang terbesar ada di dalam hati.
Prioritas
Anda harus dapat mengatur apa saja yang menjadi prioritas. Perubahan yang terjadi tergantung kepada apa saja yang menjadi prioritas Anda. Ketika yang Anda prioritaskan adalah hal – hal yang biasa – biasa saja, maka yang akan Anda dapatkan juga tidak akan istimewa.
Namun, jika Anda sudah bertekad bulat untuk berubah maka prioritaskan hal itu, dengan sendirinya prioritas itu akan menuntun Anda.
Istiqomah
Tetaplah istiqomah. Anda harus terus menerus mencoba untuk meraih perubahan yang telah Anda tekadkan, jangan pernah putus asa. Meski untuk menjadi istiqomah tidaklah mudah, namun keberhasilan Anda akan ditentukan di sana, lewat seberapa istiqomahkah Anda untuk berubah.
Motivasi
Untuk dapat terus istiqomah, beri motivasi kepada diri Anda sendiri. Oleh karenanya, Anda harus tahu mana hal – hal yang akan memotivasi diri Anda.
Optimis
Pesimistis adalah penyakit, maka hilangkan itu di dalam benak Anda. Jangan berpikiran buruk, jangan takut untuk gagal karena dengan kegagalan yang Anda alami, Anda akan belajar untuk berhasil. Serahkan segalanya kepada Allah dan tetaplah fokus meraih target Anda. Ketahuilah bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pribadi yang hebat.

Sumber : renunganislami.net
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts