.

Selasa, 24 Maret 2015

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan perkuat kesabaranmu, dantetaplah bersiap siagalah…,” [QS. Ali Imron: 200].
PENJAGA itu tetap berjaga. Sedang lainnya merasa aman karena kenyamanan. Ia tetap berdiri, meskipun harus sendiri. Ia sadar, keterjagaan bukanlah suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan. Sebab ia tak tahu kapan serangan itu datang. Apakah lusa, esok, atau bahkan dinihari ini. Ia pun tak tahu, serangan itu mengenai siapa. Apakah dirinya, atau orang-orang yang dikasihinya. Karenanya, ketidaktahuan melahirkan kewaspadaan untuk senantiasa saling menjaga. Melindungi dirinya dan mereka dari berbagai sebab masuk neraka.

Penjaga itu berjaga. Sementara lainnya terlelap oleh indah dunia. Ia berdiri tegar. Bersiap siaga di perbatasan. Ia sadar, sekali ia terlarut, ia akan terjatuh. Inilah perbatasan dirinya yang selaluia jaga: batas diri. Batas yang menguji sejauh mana kualitas iman ini. Sebabitu, ia berjaga. Menjadi orang pertama yang tergerak tatkala muncul gangguan yang mengancam iman, yang bukan hanya dari luar, tapi juga berasal dari dalam diri.
Maka sudah selayaknya ia terus berjaga. Menjaga dirinya dengan perbekalan yang matang. Perbekalan yang membuatnya mampu membentuk suatu pertahanan. Ia teringat nasihat Ibnul Jauzi, selagi baju besi berupa iman tetap menempel pada dirinya, maka anak panah musuh tidak akan sampai merobohkannya. Ia pun bersabar, menguatkan kesabarannya, dan selalu bersiap siaga.
Ialah Sang Penjaga.
Ia menjaga prinsip fikrahIslamnya, meski deraan pemikiran-pemikiran jahiliyah tumbuh merajalela. Ia menjaga keikhlasannya dalam beramal, meski motivasi dunia begitu indah menggoda. Ia menjaga amalnya tetap berkelanjutan, meski hawa malas selalu menggelayutinya. Ia menjaga semangat jihadnya terus membara, meski riak-riak nafsu sering kali melenakannya. Ia menjaga pengorbanannya tetap mulia, meski itu harus ia tempuh dengan lelahdan darah.
Ialah Sang Penjaga.
Ia menjaga ketaatannya ketikaseruan dakwah menghampirinya, meski terkadang bertentangan dengan nafsunya. Ia menjaga keteguhannya dalam berpijak di jalan kebenaran, meski rayuan dunia tak henti berusaha membelokkan langkahnya. Ia menjaga totalitasnya dalam berjuang, meski banyaknyatuntutan peran yang harus ia jalankan. Ia menjaga ikatan persaudarannya dengan sesamanya, meski dinamika ukhuwah selalu hadir menyapa. Ia menjaga integritasnya dalam mengarungi jalan panjang nan suci ini, meski hal tersebut terasa langka dewasa ini.
Ialah Sang Penjaga.
Ia menjaga kejernihan aqidahnya dari berbagai macam kemusyrikan, karenanya ia menolak takhayul, kurafat, jimat, ataupun mitos-mitos yang mampu melemahkan imannya. Ia menjaga ibadahnya untuk terus dalam keadaan terbaik, karenanya ia rajin mengevaluasi target ibadah hariannya setiap sehari. Ia menjaga keluhuran akhlaknya dari perilaku tercela,karenanya ia membiasakan diri untuk berpikir, berkata, bertindak yang mulia, dan menjauhkan diri dari segala hal yang merusak kesuciannya. Ia menjaga kesuciandan kekuatan fisiknya, karenanya ia berolah raga dan menghindari diri dari makanandan tindakan yang haram. Ia menjaga keluasan pengetahuannya, karenanya ia rajin membaca, gemar berdiskusi, dan senang bersilaturahim.
Ialah Sang Penjaga.
Ia menjaga dirinya dari nafsu amarah dan lawamah, karenanya ia mendidik dirinya untuk tidak selalu menurutisegala keinginan nafsunya. Ia menjaga keprofesionalitasannya dalam setiapurusan, karenanya ia perhatikan betul integritas dan manajemen dirinya. Ia menjagawaktu yang ia miliki dengan baik, karenanya ia atur sedemikian rupa prioritasdan menghindari kosongnya waktu dengan kebaikan. Ia menjaga hartanya, karenanyaia gemar bersedekah dan hindari pemborosan, serta menjauhi mental meminta-minta. Ia menjaga agar dirinya terus memberi.
Ialah Sang Penjaga, yang terus berjaga, yang tak pernah merasa aman atas dirinya, yang terus waspada, hingga Surga pasti dimasukinya.
Lalu, adakah di antara kita Sang Penjaga itu?
Sumber : Islampos


KONON di hari pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah. “Tidak! demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.”
“Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa,” jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yang sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, “Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu.”
“Inilah saksi-saksi itu,” ujar malaikat.  Tiba-tiba mata angkat bicara, “Saya yang memandangi.” Disusul oleh  telinga, “Saya yangmendengarkan.” Hidung pun tidak ketinggalan, “Saya yang mencium.” Bibir mengaku, “Saya yang merayu.”  Lidah menambah, “Saya yang mengisap.” Tangan meneruskan, “Saya yang meraba.” Kaki menyusul, “Saya yang dipakai lari ketika ketahuan.” “Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu”, ucap malaikat.
Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa  dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya:
“Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”
“Silakan”, kata malaikat.
“Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengh malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yg terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka  saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”
Konon, dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut  di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar  suara bergaung kepada para penghuni surga: “Lihatlah, Hamba Tuhan  ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata.”
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87).
Sumber : Islampos
Rasulullah SAW bersabda:
Man ro’a minkum munkaron falyughoyyiru biyadihi, failam yastathi fabilisanihi, failam yastathi’ fabiqolbihi wa   adh’aful iimaan”
(Barang siapa di antara kamu melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah selamah-lemahnya iman).
Hadist ini diriwayatkan oleh Al Imam Muslik rhm dalam Shohih-nya kitab Al Iman Bab tentang Nahi Munkar dari iman hadist ke-70, bersumber dari Abu Sa’id Al Khudri ra. Diriwayatkan pula oleh Al Imam Ibnu Majah rhm dalam Sunan-nya Bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar, hadisy ke 4.003 Bahkan Al Imam Ahmad rhm dalam Musnadnya meriwayatkan hadist seperti di atas sebanyak 4 kali, hadist ke-10.651, 11,034, 11,090 dan 11.443.

Apa yang menjadi pikiranku sekarang? Tak banyak, hanya membisukan lisan untuk mentafakuri semuanya. Dan menanyakan apakah benar hanya iman yang lemah yang selama ini aku punyai. Ia terdiam dalam  hal yang tiada lurusnya, hanya mengucap di dalam hati seharusnya demikian bukan demikian. Namun semua orang bukanlah paranormal yang bisa menebak semua keadaan dan isi hati dari orang lain. Dan memang doa memagang kendali yang amat kuat atas suatu usaha. Tapi di menit ini pula, sejenak ingin aku mengucapkan kekecewaan padanya, kenapa hanya sebatas mengandalkan doa tanpa mengadakan usaha dulu?
Karena aku tidak berani! Ini adalah alasan pertama yang mungkin akan terucap dengan lirihnya, khawatir dianggap sebagai orang yang ekstrim apabila aku sampaikan yang tidak semestinya. Aku takut mereka menjauhiku dan mereka mengucilkanku. Kalaupun tidak berimpact secara langsung di aku, cepat atau lambat ia akan merusak kepercayaan masyarakat pada jamaah? Dan itu sama artinya dengan memberikan tembok penghalang yang tinggi pada langkah gerak, akan memberikan pertanda bahwa dakwah kami akan tersendat.
Kawan, ayo sedikit kita membuka mata, saksikan pada realita apa yang sebenarnya terjadi? Gunakan terapi yang diusung oleh Dr. Beck. Terapi kognitif dan ubahlah pola pikir kita, tatap dengan sudut keoptimisan. Itu semua saat ini hanya berkutat di dalam pemikiranmu saja. Kamu hanya khawatir akan sesuatu yang tidak-tidak, sesuatu yang belum pasti terjadi. Kamu berada pada posisi terbelenggu yang mana pikiranmu saja yang membuat belenggu itu. Beranjaklah dan cobalah untuk realistis sampai menuju ke taraf idealis. Melangkahlah…

Sumber : Islampos
Krisis  multidimensi kini telah mengepung masyarakat kita. Mulai dari tatanan ekonomi kapitalistik yang hanya berpihak pada pengusaha dan pemilik modal, perilaku politik oportunis yang sarat kepentingan. Budaya hedonistik, sikap sosial egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, dan paradigma pendidikan yang berasas materialistik.
Kini, sesungguhnya masyarakat benar-benar di ambang kehancuran. Manusia sulit untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Mirisnya, bila kerusakan parah ini tidak segera menemukan solusi, maka sejarah peradaban manusia tinggal menghitung hari. Lalu, di mana posisi manusia sekarang?
Dalam pelajaran sosiologi SMA, dikatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan manusia lain dalam mengarungi kehidupannya. Manusia akan berinteraksi dengan sesamanya melalui media apapun dan bahasa yang beraneka ragam.
Dan melihat masa kini, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat memang membuat manusia di belahan bumi manapun bisa terhubung. Tapi selain dampak positif itu, menurut penulis juga ada semacam habit yang menjadikan manusia sibuk memerhatikan laptop, tablet atau ponselnya dan tidak peduli dengan kondisi di sekitarnya.
Iya sepertinya interaksi secara langsung menjadi berkurang. Misalnya berbelanja. Kini manusia tidak lagi harus ke pasar untuk memperoleh barang yang dibutuhkan, tapi cukup dengan membelinya lewat media online. Bahkan tidak hanya itu, mencari jodoh, berdiskusi, sampai yang serius sekalipun yaitu kampanye politik, bisa melalui media ini.
Lalu, mengapa penulis menyinggung mengenai media online dan peranannya dalam interaksi manusia masa kini? Iya, karena hal itu populer beberapa tahun terakhir dan bila dihubungkan dengan kebobrokan umat yang kini telah merajalela sebagaimana yang telah penulis singgung di atas. Ia, media online itu juga mempunyai andil di dalamnya. Ia menjadi salah satu pintu masuknya berbagai pemikiran ke benak-benak kita, manusia. Dan bila ada pertanyaan; di mana posisi manusia, dan apa yang bisa diberikan? Kita bisa mengatakan padanya; kita (manusia) punya cinta dan kata.

Definisi Kita, Kata dan Cinta
Manusia (kita) adalah mahluk yang paling sempurna. Kita dianugrahi akal oleh Sang Maha Pencipta. Sehingga karena keberadaan akallah kita (manusia) berbeda dengan mahluk lainnya. Dan dengan akal itu pula, kita seharusnya mampu memikirkan keberadaan manusia, kehidupan, alam semesta beserta isinya sebagai tanda-tanda untuk menuju yang satu yaitu kebenaran yang hakiki.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (TQS. Ali Imran [3] : 190)
Menurut KBBI, Kita adalah pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Kita juga bisa menunjukkan kesatuan perasaan antara kita: fungsi ideologi membangun sikap; dan sifat mementingkan kebersamaan dalam menanggung suka duka (saling membantu, saling menolong, dsb).
Sehingga menurut penulis dalam esai ini. Kita bukan saja sebagai pelaku yang harus saling tolong menolong dan berkasih sayang dalam melakukan perbaikan. Tapi, Kita juga sebagai objek yang harus rela untuk berubah, yaitu kita semua sebagai manusia sempurna.
Sedangkan definisi Kata, masih merujuk dari KBBI: 1 adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa; 2 ujar; bicara; 3 Ling a morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; b satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misal batu, rumah, datang) atau gabungan morfem (misal pancasila, mahakuasa). Dan Kata juga bisa berarti ujar-ujar (kata-kata kias, peribahasa, dsb).
Dengan demikian penulis berkesimpulan, Kata adalah sesuatu yang penting dan tak terpisahkan dalam kehidupan kita (manusia). Sehingga kita sebagai manusia  bisa saling berkomunikasi, berdiskusi menyampaikan berbagai pemikiran dan perasaan di berbagai waktu dan tempat. Baik secara lisan maupun tulisan.
Sementara kata Cinta, mengutip dari KBBI: 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kepada kami semua; — kepada sesama makhluk; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak — kepada lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa — nya akan kemerdekaan; 4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi — nya ditinggalkan ayahnya itu; dan masih banyak yang lainnya.
Merujuk dari KBBI itu, penulis menyimpulkan, Cinta tidak saja berarti suka, kasih, ingin antara laki-laki dan perempuan semata tapi juga kepada sesama mahluk. Dan sungguh luar biasa, bila kita bertanya ke beberapa orang arti Cinta ini, maka kita akan memperoleh jawaban yang sangat beragam.
Dengan demikian dari ketiga kata ini, Kita, Kata dan Cinta. Penulis berpikir bahwa ketiganya merupakan sesuatu yang unik yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Kita adalah manusia yang akan menebarkan cinta lewat kata.
Memaknai Cinta
Cinta memiliki beragam definisi. Setiap orang dengan kepala yang berbeda akan mendefinisikan cinta sesuai dengan apa yang telah menjadi pemahamannya. Seorang muslim yang menjadikan Islam sebagai landasan dan tujuan hidupnya akan berbeda dengan orang kafir dalam memakanai cinta.  Dalam Islam cinta tertinggi harus ditujukan kepada Allah dan RasulNya. Cinta dan bencinya seorang Muslim terhadap manusia lain pun haruslah karena Allah semata.
Sebagaimana hadis dari Anas ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” (Mutafaq’alaih).
Dalam hadis yang lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah  saw bersabda:
“Sesengguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naunganKu disaat tidak ada naungan kecuali naunganKu’. (HR. Muslim).
Menyimak dari hadis-hadis di atas. Sungguh, kita akan menemukan keteladanan yang agung yang terdapat pada diri orang-orang terdahulu. Mereka begitu mulia dalam memaknai cinta. Betapa berbedanya dengan generasi sekarang yang hidup dalam kungkungan sistem kapitalistik sekuler, sehingga memaknai cintanya pun sebatas pada kepentingan dan hawa nafsu belaka.
Bagaimana Nabi Ibrahim, demi cintanya kepada Allah rela untuk menyembelih Ismail, putra yang amat diharap dan diidam-idamkannya, yang pada akhirnya diganti Allah dengan domba.
Pun Salman Al Farisi, shahabat Rasul otak strategi perang parit. Ridha memberikan semua tabungannya kepada Abu Darda, shahabat yang saat itu mengantarnya untuk meminang seorang wanita tapi wanita pujaan Salman itu justru menolaknya dan memilih Abu Darda, pengantarnya. Juga kisah shahabiyah Ummu Imarah, demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya, begitu tulus mengantarkan anak-anaknya ke medan jihad hingga menemu syahid. Dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya.
Sungguh, sejatinya, cinta adalah fitrah. Setiap manusia akan memiliki rasa cinta, kasih sayang, ingin memiliki, lemah lembut, rindu dan sejenisnya. Cinta juga merupakan manifestasi dari penampakan gharizah nau’ (naluri untuk mempertahankan jenis).
Dalam buku Mafahim Islamiyah, Muhammad Husain Abdullah memaparkan bahwa naluri adalah potensi alami yang ada pada diri manusia untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan hidupnya, untuk menjaga spesiesnya, dan agar mendapat petunjuk mengenai adanya al-Khalik (Al Izzah: 2003). Salah satunya adalah gharizatun nau’ (naluri untuk mempertahankan jenis) yang diantara penampakannya bisa berupa rasa cinta dan kasih sayang.
Sebagaimana halnya saat penulis menanyakan ke beberapa orang dekat. Penulis menemukan beberapa jawaban mengenai cinta ini. Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah kasih sayang ibu kepada anaknya yang tak pernah putus sepanjang masa. Cinta adalah universal yang tidak hanya bermakna hubungan laki-laki perempuan, tapi cinta kepada semuanya. Bahkan, juga ada yang tidak berkenan untuk menjelaskan makna cinta. “Cinta itu subjektif dan beberapa kali orang bertanya kepadaku tak pernah sekalipun aku memberi penjelasan,” ujarnya.
Melihat kondisi masyarakat yang semakin memprihatinkan ini. Penulis berkesimpulan bahwa cinta memang bukan sebatas hubungan pria-wanita, yang bahkan dunia pun menjadi miliknya berdua sedang yang lain mengontrak. Tapi, cinta hakiki adalah cinta yang lahir karena kecintaanya kepada Allah semata dan untuk memperoleh ridhaNya.
Sehingga, saat seorang mengingatkan saudaranya untuk shalat, menutup aurat, menjauhi zina, tidak korupsi, perlunya diterapkan hukum potong tangan dan razam bagi pencuri dan pezina serta hanya berhukum pada aturan yang diturunkah Allah semata, adalah bukti cinta kita terhadap sesama.
Sungguh, kepada pemimpin negeri-negeri Muslim di manapun berada. Kemaksiatan terbesar  saat ini adalah tidak diterapkannya Al-quran dan Sunnah sebagai perundang-undangan yang mengatur kehidupan manusia. Sehingga berbagai kemaksiatan yang kini merajalela tidak pernah tuntas.
Untuk itu, bila Anda mencintai rakyat kalian sebagaimana Rasul yang begitu cinta terhadap ummatnya. Bahkan tiada kata yang terucap selain; ummati, ummati, ummati menjelang kepulangan menemu Rabbnya. Sungguh, kembalilah kepada Tuhanmu yang menciptakan. Campakkan sistem kapitalis kufur dan ganti dengan sistem Islam. Sehingga krisis multi dimensi mulai dari tatanan ekonomi kapitalistik sampai pendidikan yang berbasis materialistik yang saat ini menimpa manusia dapat teratasi. Pun kerusakan dunia beserta isinya karena ulah manusia akan terselesaikan.  Sungguh, Kita adalah manusia yang bisa menebarkan cinta lewat kata.
Sumber : Islampos
BANYAK orang mengira kalau penyebab kematian itu adalah sakit, kecelakaan, usia tua, atau sebab-sebab lain yang “pantas”menyebabkan kematian. Oleh karena itu banyak orang pula yang tertipu dan lalai akan  kematian.
Kurang lebih seperti itu yang bisa saya kutip dari sebuah CD tutorial keislaman tentang kematian, yang judulnya “Nafas Terakhir”.

Hari gini bicara tentang kematian? Serem amat. Atau gak penting amat, saking seringnya berita kematian berseliweran di telinga ini. Tapi, terimakasih pada suami yang secara spontan membeli cd itu, kematian menjadi “topik hangat” di benak saya. Apalagi hari ini, 3 Desember adalah hari lahir saya. Katanya, semakin lama kita menjalani kehidupan, semakin dekat kita dengan kematian. Membayangkannya, dengan imajinasi yang sangat baik, memerindingkan. Mulai dari sakaratul maut sampai perjalanan hidup setelahnya.
Yang biasanya menjalani hari dengan suami, mengurus anak-anak (lengkap dengan berbagai keluhan), tiba-tiba hidup seorang diri dalam sunyi dan gelap… Biasanya tinggal di rumah senyaman mungkin, tiba-tiba rumahnya hanya sebuah lubang ukuran badan. …Biasanya bertemu teman-teman, ramai dengan tetangga, tiba-tiba sendiri terus. … Biasanya sholat, tilawah,shoum (meski dengan kualitas gak jelas), tiba-tiba semua itu tidak lagi bisa dilakukan. …  Biasanya bisa menonton tayangan favorit, mendengar lagu kesukaan, tiba-tiba wajah ini dihadapkan pada tanah melulu. … Menunggu…menanti… belum lagi dipertemukan dengan kejadian atau makhluk Allah yang lain, yang belum pernah disaksikan dan didengar ketika hidup di dunia…. Tidak ada tempat curhat, tidak ada tempat minta tolong…. Dan yang sangat jelas, tidak mungkin kembali ke dunia! Masuk ke dalam  kehidupan yang sangat abadi. Kehidupan yang sesungguhnya. Membuat tidak nyaman untuk membahasnya.
Apa jangan-jangan waktu saya sudah dekat dengan tiba-tiba ingin membahas ini?  Tapi..bukankah orang-orang soleh dahulu, menjadikan kematian sebagai ‘alarm tone’ yang sering dipasang. Di penghujung hari mereka mengevaluasi aktivitas dan merencanakan masa depan (esok hari) dengan memasukkan aspek ‘kematian’. Jadi, seharusnya tidak aneh dan tidak usah tidak nyaman membahas kematian (akhirnya saya simpulkan sendiri). Karena juga, terlepas dari pelajaran sufistik, kematian terbukti sebagai satu obat manjur yang sangat efektif.
Dengan mengingat mati, terobatilah rasa marah, dendam, iri dan dengki. Mati juga mematikan rasa malas dan menghilangkan waktu bengong. Mati meredam ambisi yang buta. Mati menumbuhkan motivasi untuk beramal soleh sebanyak-banyaknya,bersemangat mewujudkan cita-cita yang baik, beribadah lebih baik. Mati membukakan mata atas segala kesalahan yang telah diperbuat, memotivasi untuk melakukan perbaikan sebaik mungkin,. Salah satunya dalam masalah mendidik anak.
Kalau dihitung sungguh banyak sekali kesalahan saya dalam mendidik anak. Hari ini saya masih ngomel-ngomel pada anak-anak, setelah sebelumnya bertekad untuk menanggalkan ‘taring dan tanduk’ apapun yang terjadi. Melakukan pendekatan yang lebih ‘persuasif’ sebagai gantinya. Tapi ketika pulang ke rumah demi melihat pengasuh anak-anak/asisten saya pucat dan nekat pulang menerobos hujan deras membuat saya bertanya-tanya dengan nada tinggi. Dan duo (Bilqis dan Musa, mereka beda 18 bulan, sekarang seperti kembar. That’s why;duo) pun mengakui kenakalan mereka.
Tidak lama setelah saya mengomel, Bilqis menulis ini di buku hariannya;
Umi teteh/sayang kepa/da umi teteh/mau yanh(nya)/sama umi/teteh ga mau/ditigalin (ditinggalin)/teteh juga/sayang umi/dan abi/sayang/teteh alham/dulilah/kepada alah (Allah)/umi bai(k) sekali/kepada teteh/teteh jadi senang  bahagiya .. (beberapa huruf gak jelas)
(Saya benar-benar memohon kepada Allah, petunjukNya yang Agung dan kesanggupan untuk memperbaiki diri. Dan hari ini, begitu banyak yang memberikan selamat dan bertabur do’a -terimakasih banyak yaa,jazakumullah khair katsir…(banyak yang mendo’akan begini jadi ingin ultah tiap hair)..
Di telinga saya, setiap ucapan selamat itu menjadi seperti;
Selamat memperbaiki akhlak
Selamat memperbaiki ibadah
selamat memperkuat keimanan
Selamat tambah serius menjaga amanah
Selamat bayar utang-utang ;p
Selamat membayar janji
Selamat memperbaiki kinerja
Selamat meninggalkan kebodohan,kemalasan
Selamat meningkatkan kasih-sayang,tanggungjawab
Selamat berwaspada selalu atas waktu
Karena setiap saat bisa menjadi;
Nafas terakhir

Sumber : Islampos
INI bantahan kepada mereka yang berdalih bahwa dunia dan akhirat harus seimbang. Tetapi pada kenyataannya hanya sibuk dengan keperluan perut, keperluan barang dan keperluan duniawi yang lainnya sehingga enggan bersedekah dan menyisihkan sedikit hartanya di jalan Allah. dan menggunakan kata-kata di awal tadi sebagai senjata untuk menolak mempersiapkan akhiratnya sebaik-baiknya.

Maha Benar Allah atas segala firman-Nya. Dalam Qur’an Allah telah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, Dan Sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Qs. Al-Aadiyat: 6-8)
Kebanyakan dari manusia lupa bahwa yang memberi rezeki adalah Allah. mereka lalai dan sombong karena menganggap bahwa harta yang mereka miliki adalah hasil kerja keras mereka seutuhnya sehingga sesuka hati mereka ingin dipakai untuk apa. dan mereka yang sedemikian pun sungguh bukanlah manusia yang pandai bersyukur.
Adapun syukur atas rezeki sebenarnya sangat tidak cukup jika hanya diucapkan dibibir. hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah tanpa dilanjutkan dengan perbuatan yang nyata. bukankah syukur itu lebih nyata jika kita melanjutkannya dengan menyisihkan sebagian kecil darinya untuk disedekahkan? Lantas jika kita mendapatkan rezeki kemudian enggan menyisihkan sebagian darinya dan beranggapan ucapan Alhamdulillah sebagai tanda syukur telah cukup untuk menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat kita?
Ya memang benar Allah tidak membutuhkan rezeki kita dibagi dengan Nya sebab Allah itu maha Kaya. tetapi bukankah ada saudara-saudara kita yang membutuhkannya? Dan jika kita menyisihkannya dengan bersedekah bukankah kita telah menambah harta kita untuk kebutuhan akhirat? Apakah kita melupakan akhirat sehingga kikir terhadap keperluan kita menggapai akhirat? bukankah harta yang disedekahkan akan menjadi pahala buat kita?. sungguh sangat pelit diri kita atas kebutuhan kita terhadap bekal akhirat.
Seberapa pelitnya kita selama ini untuk akhirat kita? mari sedikit berilustrasi mengenai pengeluaran kita mengenai harta kita untuk akhirat dan dunia. adapun ilustrasi ini hanyalah ilustrasi kasar apa adanya. tetapi bisa dijadikan sedikit bahan renungan . . .
UNTUK AKHIRAT:
Kapan kita menyisihkan sebagian harta kita kepada kebutuhan kita untuk akhirat? Saat pembayaran zakat fitrah? Berapa?
Sekitar 2,5 kg beras? 2,5 x harga beras kualitas medium +- 8.000 rupiah. 2,5×8.000 = 20.000
Dari zakat 20.000 rupiah pertahun
Masukin kotak infak saat jum’atan? Berapa? rp 500? atau rp 1000? Atau Rp 2000 mungkin?
2000×4 = 8000
8000×12 = 96.000

Dari infak jum’at = 96.000
Infak shalat ied misalkan = 5000
x2 shalat Ied setahun = 10.000

Jadi totalnya 20.000
96.000
10.000
————————+
126.000

Berapa usia kita saat ini?
Jika usia 21 tahun,… berati 21x 126.000 = 2.646.000
Berarti kita menyisihkan harta kita untuk dibelanjakan kebutuhan akhirat adalah Rp. 2.646.000 rupiah sejak lahir hingga usia 21 tahun (kurang lebih). Bahkan lebih murah daripada harga HP Samsung I8190 Galaxy S III mini bekas. yang saya baca di tabloid  masih 3 jutaan.
Bayangkan,…. kita hendak menukar HP Samsung I8190 Galaxy S III mini bekas dengan syurga firdaus dan mengharapkan uang kembalian pula.
UNTUK DUNIA
Makan sehari 5000 (misalkan)
Pulsa Hp seminggu 5000 (misalkan)
Pulsa modem sebulan 50.000 (misalkan)
beli baju setahun sekali 25.000 (misalkan)
lain-lain seminggu 10.000 (Umpamanya)

5000×30 = 150.000(sebulan) x 12 = 1.800.000 (setahun)
5000×4 = 20000(sebulan) x 12 = 240.000 setahun
50.000×12 = 600.000 setahun
10000×4 = 40.000 (sebulan) x12 = 480.000 (setahun)
25.000
————————————————————————+
Total biaya hidup setahun = 3.145.000 Setahun

Nambah dikit dah dapet HP Samsung I8190 Galaxy S III mini yang baru.
PERBANDINGAN:
AKHIRAT 21 TAHUN SETARA HP: Samsung I8190 Galaxy S III mini bekas (ada kembalian)
DUNIAWI 1 TAHUN SETARA HP: Samsung I8190 Galaxy S III mini Baru (nombok dikit)
Mari kita renungkan sejenak dan menilai-nilai dan menimbang-nimbang kembali sudah kemana saja rezeki yang Allah berikan kepada kita tersalurkan? apakah lebih banyak manfaatnya untuk kita atau lebih banyak sia-sianya bahkan menjadi dosa bagi kita (jika digunakan untuk maksiat).
Bukankah rezeki yang Allah berikan kepada kita itu layaknya modal? dan tujuan dari perniagaannya adalah akhirat?. jika modal kita habiskan untuk hal yang sia-sia maka bagaimana kita bisa berniaga untuk mendapatkan akhirat?.
Wahai saudaraku seiman se Islam, marilah kita berinvestasi di jalan Allah. sebagian dari rezeki yang Allah berikan kepada kita mari kita fungsikan benar-benar sebagai modal menuju akhirat. memang benar kita membutuhkan rezeki untuk memenuhi kehidupan kita di dunia. itu tidak salah. yang salah jika kita menjadidan rezeki itu semata-mata untuk memenuhi kehidupan duniawi kita sehingga kita menyepelekan dan menomorduakan fungsi sebenarnya yaitu menjadi modal menuju akhirat kelak. bukankan semua yang ada di muka bumi ini adalah cobaan?
Ilustrasi ini semoga bisa membantahkan sanggahan mereka yang enggan bersedekah dan berinfak dengan berdalih masih kekurangan ini dan itu padahal sesungguhnya mereka masih memiliki harta yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya dan tidaklah mereka dalam keadaan kekurangan. adapun sebagian diantara mereka enggan bersedekah sedangkan mereka selalu berlebih-lebihan dalam harta. sesungguhnya mereka seharusnya malu kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri.
dan yang terakhir pesan saya:
“JIKA IBADAHMU TERNOMOR DUAKAN URUSAN DUNIA, DAN AMALMU TIDAK SEBANDING DENGAN KECINTAANMU TERHADAP DUNIA, BAGAIMANA KAU BISA MENYEIMBANGKAN KEDUANYA SEDANGKAN SELISIH BERATNYA BEGITU JAUH?”
Sumber : Islampos
ADA ratusan uacapan selamat ulang tahun yang saya terima, baik melalui inbox, di wall, sms dan ada yang telepon langsung. Mereka adalah teman-teman, mulai dari yang saya sama sekali tak mengenalnya sampai sahabat yang memang ucapan selamatnya saya tunggu. Khusus BBM, untuk tahun ini saya tidak bisa menerima ucapan selamat melalui media itu. Sebab satu hari sebelumnya, karena satu dan lain hal blackberry saya telah saya non aktifkan.

Itu adalah ucapan yang saya terima dari teman-teman jarak jauh. Sedang, dari orang – orang yang secara fisik sehari-hari dekat dengan saya, di antaranya adalah murid-murid saya. Saat saya memasuki setiap kelas, lantunan “Eid milad saeed ya Ustaadzanaa. Sanah helwah, sanah helwah, sanah helwah ya Jamiil,” senang. Iya saya merasa senang. Walau jujur, seperti komentar seorang teman, 6 Nopember itu adalah tanggal lahir saya yang tidak valid. Gak masalah itu bagi saya, sebab saya sendiri tidak tahu persisnya tanggal berapa saya lahir. Tapi, yang pasti tanggal itulah yang tertera di KTP saya.
Saya tidak bisa membalas semua ucapan tersebut satu persatu. Untuk itu, melalui catatan ini, saya menyampaikan “Terima kasih banyak semua!” Semoga kita kan selalu bersama mengarungi hidup ini, saling menasehati, saling mengoreksi kesalahan masing – masing. Karena itu sebenarnya pilar kehidupan, “Saling menasehati tuk menetapi kebaikan/kebenaran dan saling menasehati tuk selalu sabar.”
Sebenarnya saya adalah satu di antara orang yang tidak terlalu perhatian dengan hal yang terkait ulang tahun. Dan seumur hidup belum pernah saya merayakan ulang tahun. Baik untuk saya sendiri, istri saya dan anak-anak saya. Perayaan semacam itu kebetulan tidak membudaya di keluarga kami. Walau saya bukan juga orang yang anti terhadap orang yang suka merayakannya.
Usia adalah hitungan angka keberadaan kita di dunia. Oleh karena itu, orang yang meninggal dunia juga bisanya disebut tutup usia. Nah, karena usia adalah kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah agar kita beribadah kepada-Nya, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribada kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Maka, tiada lain pilihan kita selain mentaati-Nya. “Hidup ini adalah waktu menunggu waktu shalat yang satu ke waktu shalat berikutnya, dalam rangka menunggu kematian,”  begitu satu di antara pesan seorang guru saya. Nah, di tengah – tengah waktu menunggu shalat itu, di antara waktu menunggu kematian itu. Allah mempersilahkan kita bertebaran di muka bumi sebagai apa saja. Sebagai guru, penulis, pedagang, petani, nelayan, pegawai, buruh dan bukan penjahat, perampok, maling atau penipu.
Terkait dengan itu, seorang penyair berkata, “Dulu, saat ibumu melahirkanmu, kau menjerit menangis, sedang orang-orang di sekitarmu, tertawa, tersenyum menyambut kelahiranmu. Maka, berbuat baiklah kau sepanjang hidup, agar kelak ketika kau tutup usia, orang-orang menangis melepas kepergianmu, sedang kau sendiri tersenyum bahagia.”
Kawan, kehidupan ini -nyata dan maya- sungguh dipenuhi berbagai hal yang bisa memalingkan kita dari peribadatan kepada Allah. Beragam kesenangan semu menghampar di banyak tempat untuk mengalihkan kita dari mengingat Allah.  Semua kita berpotensi untuk tergelincir, terperosok dan terjerembab ke dalamnya -illa man rahimahu Rabbuhu-kecuali dia yang dikasihi Allah. Itu karena setan tak mengenal strata kehidupan. Iblis tak mengenal status manusia. Dan bahkan semakin manusia itu mempunyai pengenalan yang baik kepada Allah, mempunyai pemahaman agama yang baik, semakin profesional juga setan yang bertugas mengajaknya kepada maksiat.
Maka pertambahan usia, tak ada hal yang lebih cerdas untuk dilakukan manusia, melainkan mengevaluasi kembali perjalanan hidupnya. Bukan malah terbuai pada pesta-pesta percuma. Tidak juga terlalu tersanjung dengan ucapan-ucapan selamat yang hanya ditujukan sebagai pemanis semata. Untuk itu kawan, mari kita saling bantu menjadikan kualitas hidup kita masing-masing semakin baik dari hari ke hari. Menjadikan keberadaan kita di dunia bermanfaat bagi orang lain. Sebab, sebaik-baik manusia itu adalah yang paling dirasakan manfaat keberadaannya oleh orang lain.

Sumber : Islampos
BADAI angin telah menerjang perahu di sebuah laut lepas dan akhirnya perahu itu tenggelam. Sebagian penumpangnya selamat. Diantaranya seorang pria yang dipermainkan ombak hingga dia terdampar di sebuah pulau antah berantah. Pria itu mulai sadar dari pingsannya, hembusan nafas mulai terdengar. Dia bersimpuh, memohon pertolongan pada Allah. Memohon agar Allah menyelamatkannya dari kondisi ini.
Hari-hari pun berlalu. Selama itu pula, pria tadi makan dari buah-buahan yang ada di pulau tersebut. Dia juga makan daging kelinci hasil buruannya. Untuk kebutuhan airnya, dia minum dari anak sungai yang ada di sana. Pria itu tidur dalam sebuah pondok kecil yang dibangunnya dari batang-batang pohon. Walau kecil, namun pondok itu cukup melindungi dirinya dari dinginnya malam dan teriknya siang.
Pada suatu hari, pria itu berkeliling di seputar pondoknya. Selama dalam waktu berkeliling itu, makanan yang diletakkannya di perapian kayu bakar, telah matang. Namun ketika dia kembali untuk melihat makanannya, semua yang ada di sekitar makanan itu telah terbakar, termasuk pondoknya.
Pria itu pun mulai berteriak, “Mengapa wahai Allah? Pondok saya telah terbakar. Tidak ada satu pun milik saya yang tersisa di dunia ini. Saya adalah orang terdampar di tempat ini. Sekarang, pondok tempat saya bernaung juga terbakar. Mengapa ya Allah, semua musibah ini datang kepada saya?”
(dikutip dari buku Hakadza Hadzamuu Al-Ya’sa karya Salwa Al-‘Adhidaan)
Bayangkan pria yang terdampar itu adalah diri Anda. Anda terdampar di pulau tanpa penghuni. Hidup Anda yang biasanya ramai dengan orang-orang sekitar, kini mendadak tanpa seorang teman pun.
Makan yang biasanya dengan berbagai macam, kini hanya ada buah-buahan dan sekali-kali daging kelinci. Anda biasanya tinggal di rumah permanen, walau mungkin ber-tipe RSS, tapi tentu lebih ‘normal’ dari rumah yang terbuat dari batang pohon saja.
Hidup seperti di atas saja mungkin akan memancing kita untuk mengucapkan, “Na’udzu billah min dzalik.”
Tapi ternyata pria itu tidak diuji sampai di situ. Pondok buatannya terbakar karena kekurang hati-hatiannya.
Bagaimana bila itu terjadi pada diri Anda? Sudah susah payah hidup dengan keterbatasan. Lalu rumah hasil karya Anda terbakar.
Mungkin Anda akan mengatakan, “Saya paling sengsara di dunia.”
Tapi kisah di atas tidak sampai di situ. Mari kita baca lanjutannya.
Pria itu tertidur karena terlalu sedih. Dia tidur dalam keadaan lapar. Namun pada pagi hari ada sesuatu yang mengejutkannya.

Ada sebuah kapal merapat pulau dan ingin menyelamatkan pria tadi.
Ketika sampai di atas kapal, pria itu bertanya kepada para penumpang kapal, “Bagaimana kalian dapat menemukan tempat ini?”
Mereka menjawab, “Kami melihat asap. Kami pun tahu bahwa di sana ada seseorang yang membutuhkan pertolongan.”
Maha Suci Allah Yang Maha Mengetahui kondisi pria itu dan mengetahui tempat itu. Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur segala urusan dan kita tidak mengetahui apa maksudnya.
Ketika pondokmu terbakar, ketahuilah bahwa Allah akan menyelamatkanmu. (dikutip dari buku Hakadza Hadzamuu Al-Ya’sa karya Salwa Al-‘Adhidaan)
Ketika kondisimu semakin terpuruk, semua jalan terasa buntu, merasa orang paling sengsara di dunia, yakinlah jalan keluar akan segera datang Insya Allah. Berprasangka baiklah pada Allah dan jangan sekali-kali putus asa dari rahmat Allah.
Di dalam Al-Quran Allah mengisyaratkan bahwa sesuatu yang dikira akhir, padahal itu awal dari sesuatu yang baru.
Allah berfirman, “Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya.” (QS Al-Hadid (57):17).

Sumber : Islampos

Senin, 23 Maret 2015

DIKATAKAN bahwa arang tersusun oleh sejumlah senyawa yang berasal dari banyak karbon dengan struktur tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, arang dihasilkan dari proses pembakaran benda-benda yang memiliki kandungan karbon [biasanya makhluk hidup dan tumbuhan].
Di daerah pelosok, arang digunakan untuk merapikan baju dengan setrika konvensional dari besi. Di pentas kesenian tradisional atau pada beberapa suku, arang dipakai sebagai pewarna hitam pada make up. Bagi tukang sate atau ayam bakar, arang berguna untuk membakar atau memberi cita rasa seolah-olah dibakar Bagi anak kecil yang agak nakal, arang akan menjadi barang yang sangat mengasyikkan ketika dia berkreasi mencorat-coret tembok tetangga.
Tetangga saya di desa biasa mengambil dahan-dahan pinus atau damar di hutan Dephut untuk dibakar dengan timbunan tanah kemudian dijual menjadi arang. Bapak penjual tempe penyet bisa mendapatkan arang hanya dengan mengeluarkan beberapa ribu saja.
Jauh didalam kota, sedang dilakukan pemotongan beton. Sebuah benda yang keras dan sangat berguna untuk mengokohkan gedung-gedung pencakar langit. Di sebuah gedung kebudayaan, orang-orang kaya berkerumun tengah memandangi sepotong benda dengan penuh ketakjuban. Benda itu tergeletak manis di etalase pameran jewellry.

Sayangnya, dari sekian banyak orang itu, tak satupun yang berani menawar benda itu karena harganya yang terlalu tinggi. Etalase itu terbuat dari kaca yang kuat dengan penjagaan berpuluh-puluh personil dari kepolisian dan pengamanan dengan sinar infra merah. Benda itu, satu-satunya benda yang mampu memotong beton dan dikagumi oleh banyak orang biasa kita sebut dengan istilah intan.
Intan terbentuk Pada tekanan dan suhu yang sangat tinggi (1000 K dan 3.5 Gpa) dengan luasan area 60 km2 dengan kedalaman 117 km. Ada 2 kemungkinan proses pembentukan (masih dalam perdebatan), yaitu: a) Langsung terkristalkan dari magma (phenocrysts), b) Terbentuk sebagai ”exotic fragments” yang berasal dari daerah yang stabil pada mantel yang lebih atas (xenocrysts).
Intan tumbuh dengan stabil di mantel atas pada eklogit (batuan yang tersusun dari garnet dan piroksen) dan batuan ultramafic. Kimberlite pipe terbentuk akibat adanya proses explosive material deep mantle yang berasal dari asthenosphere (mungkin lebih dari 200 km dibawah permukaan bumi) dan kemungkinan adanya degassing CO-CO2-H2-H2O, terjadi di bawah tekanan 50 – 70 kbar dan > 1500 °C. Proses pembentukan intan memakan waktu yang sangat lama, lebih dari 1000 Tahun.
Intan juga tersusun oleh senyawa-senyawa yang terbentuk dari karbon. Lantas apa bedanya intan dengan arang? Mengapa harga, kemampuan dan komunitas yang besertanya berbeda?
Karena intan memiliki struktur yang berbeda dengan arang? Karena arang mengalami proses yang berbeda dari intan? Atau karena? Sepakat! Keduanya berasal dari bahan dasar yang sama. Tetapi dikemudian hari mereka menjelma menjadi sesuatu yang jauh berbeda. Lantas, ingin menjadi apakah dirimu? Saya, kamu, dia, mereka adalah karbon yang sama. Kita sama-sama memiliki potensi, akal, hati, idealisme dan jasad.
Pernahkah terpikir dalam benak kita untuk tidak mengalami proses yang biasa-biasa saja? Kalau teman-teman kita mungkin lebih enjoy dengan menjadi arang saja, bukan berarti kita harus begitu kan?
Saya teringat sebuah kisah dari buku Atas Nama Cinta karya Irfan Toni Herlambang yang menceritakan tentang sebuah cangkir cantik yang menceritakan tentang masa lalunya. Dahulu dia adalah tanah liat yang kotor dan bau. Sampai suatu kali seorang perajin mengambilnya, memukul-mukul dan membentuknya sampai kesakitan, membakarnya sampai dia menjerit, mewarnainya dengan cat yang bau hingga akhirnya dia terpana. Saat menghadap sebuah cermin dan dia mendapati bahwa dirinya telah menjelma menjadi sebuah cangkir yang cantik.
Begitupun kita membutuhkan mental yang membaja dan tidak tergoyahkan di dalam menghadapi sebuah permasalahan kehidupan, kegagalan besar dan juga harus bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan – kegagalan lain berikutnya di masa yang akan datang, karena untuk mencapai sebuah keberhasilan setiap manusia membutuhkan banyak kegagalan sebagai pemicu untuk mencapai keberhasilannya didalam proses kehidupan ini.
Kegagalan bukan berarti kita adalah orang yang gagal, karena melalui kegagalan kita bisa mengambil hikmah positif yang dapat berguna untuk merajut keberhasilan di masa depan. Hanya butuh semangat dan menempa diri lebih keras untuk bisa menjadi sukses, karena hidup seseorang tidak berakhir saat ia gagal, tapi bisa berakhir ketika ia berhenti disatu titik.
Subhanallah, kita tidak pernah tahu bagaimana Allah akan membentuk kita. Mungkin proses kita akan penuh dengan tawa, ceria dan canda. Bisa saja Dia akan membuat kita menangis, tercabik-cabik, kesakitan. Kita juga tidak pernah tahu, bagaimana bentuk tercantik kita nanti saat proses itu selesai. Proses apapun yang Dia tetapkan, tentu kita tak ingin sekedar menjadi arang saja.

Sumber : Islampos
SAAT saya membuat tulisan ini saya sedang memasuki momen istimewa. Momen yang bagi sebagian orang merupakan saat bersejarah dan juga berbahagia. Momen ketika kita mengulang tanggal kelahiran kita walaupun berada dalam tahun yang berbeda. Momen tersebut adalah milad atau yang lebih kita kenal dengan nama hari ulang tahun. tapi saya tidak terlalu antusias dengan momen tersebut, karena saya merasa tidak terlalu istimewa. Saya hanya bersyukur saja kepada Allah karena telah memberikan saya nikmat untuk bisa hidup sampai dengan saat ini.
Ada beberapa alasan yang mengemuka sehingga untuk saat ini saya tidak terlalu antusias dengan tanggal kelahiran saya sendiri. Salah satunya adalah faktor persaudaraan. Mungkin akan muncul pertanyaan apa korelasinya antara tanggal kelahiran dengan persaudaraan sehingga momen hari kelahiran tidak ingin dirayakan. Saya hanya sedikit berprinsip semakin hari usia saya semakin bertambah, maka kepribadian saya pun harus bertambah. Semakin usia saya menjadi dewasa, maka pemikiran dan tingkah laku saya pun harus didewasakan.
Nah itu yang menjadi masalah bagi saya saat ini, saya merasa belum menjadi dewasa sepenuhnya. Terutama yang berkaitan dengan ukhuwah atau persaudaraan. Saya sempat berpikir sembari merenung, sebagai seoang muslim kiranya persaudaraan itu harus senantiasa dijaga agar merekat erat. Tapi kenyataan yang ada justru sebaliknya, seakan satu persatu diantara saudara dan teman-teman saya justru ikatan itu mulai merenggang. Teman-teman yang dahulu begitu akrabnya, tidak tau mengapa kini sudah seperti memiliki jarak yang makin hari makin menjauh. Di dunia nyata maupun di dunia maya.
Saya berpikir apa kira-kira sebab dan juga sumber masalah sehingga seakan-akan persaudaraaan yang telah lama dibangun seperti sudah mulai runtuh. Mungkin hal pertama yang harus saya perbaiki adalah masalah komunikasi. Sebab sebagin besar masalah yang dihadapi oleh kebanyakan orang adalah dimulai dari komunikasi yang memang bermasalah. Mungkin ada komunikasi yang saya sampaikan baik komunikasi lisan maupun komunikasi tubuh yang tidak berkenan di hati orang lain. Sehingga mereka tanpa saya sadari menjaga jarak bahkan menjauh dari diri saya.
Hal kedua yang saya anggap menjadi sumber masalah dalam persaudaraan adalah tentang kebesaran jiwa. Mungkin selama ini jiwa saya terlalu sempit dalam memahami orang lain, tanpa pernah memahami orang lain terhadap diri saya. Selain itu juga barangkali saya terlalu memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain.  merasa apa yang saya sampaikan sudah yang paling benar tanpa pernah mempertimbangkan kehendak orang lain. padahal segala sesuatu harus dipandang secara objektif agar kehendak antara saya dan orang lain bisa saling mengakomodir. Kan alangkah indah jikalau menjalani persaudaraan tanpa ada yang merasa dirugikan.

Sedangkan yang tak kalah krusial yang saya anggap menjadi sumber bermasalahnya hubungan ukhuwah saya adalah sifat egoisme. Ya, inilah sifat dasar manusia yang justru kadang menjadi tembok besar penghalang ikatan persaudaraan. Tidak bagi diri saya dan tidak juga bagi orang lain untuk mengelaknya. Egoisme baik oleh diri saya maupun oleh orang lain saya rasakan menjadi sandungan terbesar ketika ada niatan untuk memperbaiki diri. Kadang kita sudah legowo dan mengalah, tapi karena egoisme tidak jarang saudara kita tidak mau menerima kita. Begitu juga sebaliknya, sudara kita sudah bersusah payah menerima kekurangannya, tapi karena egoisme kita begitu mudahnya merasa diri hebat tidak mau menerima kesalahan saudara kita.
Untuk mengakhiri tulisan ini, secara umum saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Sebab saya tidak akan pernah merasakan hari istimewa manakala ada saudara saya yang belum memafkan kesalahan saya. Apa artinya saya berbahagia sementara saudara saya tidak merasa senang dengan kebahagiaan yang saya rasakan. Kepada saudara-saudara saya yang merasa hatinya tersakiti, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kepada saudara-saudara saya yang tidak bermasalah dengan saya, saya memohon mari bersama kita kuatkan persaudaraan ini. Agar kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu tidak terulang dimasa akan datang. Alangkah indahnya hidup manakala dibingkai dengan persaudaraan yang kuat. Persaudaraan dilandasi dengan keimanan, persaudaraan yang punya satu tujuan besar, meraih ridho Allah di dunia dan akhirat.
Maafkanlah atas ukhuwah yang tidak sempurna…

Sumber : Islampos

Sumber: Islampos
RASA sedih dan rasa bahagia tak perlah luput menyelimuti setiap momentum perjalanan hidup kita. Tidak ada di dunia ini orang yang selalu merasa sedih berkepanjangan, tidak pula ada di dunia ini orang yang selalu bahagia secara berkepanjangan. Laksana roda kehidupan adakalanya kita merasakan perasaan yang begitu sedih, dan adakalahnya kita merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Rasa sedih tentu tidak ingin kita tularkan kepada orang lain, agar orang lain menjadi sedih, tentu rasa bahagialah yang ingin kita beri kepada orang lain agar orang lain bahagia.

Bahagia, ya  satu kata yang sederhana namun di dambakan selalu kehadirannya dalam kehidupan setiap insan yang ada di muka bumi ini. Mendambakan kebahagiaan adalah sebuah fitrah dari setiap insan, siapapun orangnya semuanya pasti menginginkan kebahagiaan senantiasa melekat pada dirinya, baik itu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jika kita berbicara tentang perasaan bahagia, tentu semua tidak akan pernah luput dari skenario Allah SWT yang selalu memberikan karunia kebahagian kepada setiap insan yang ia pilih untuk bahagia. Kebahagian sejati bisa di rasakan oleh setiap insan, jika ia selalu menyertakan hati dan pikrian yang jernih untuk bisa menjemput kebahagiaan di dalam hidupnya sendiri.
Salah satu kendaraan yang bisa mengantarkan diri kita pada  Kebahagian   bathin adalah dedengan berbagi kebahagiaan kepada orang orang yang ada di sekitar kita. Karena sungguh bisa jadi kebahagiaan yang kita rasakan saat ini adalah karena ada lantunan doa kebaikan dan  Kebahagian   dari orang lain untuk kita. Bahagia yang kita rasakan tidak akan pernah lepas dari campur tangan Allah dalam menyelimuti hati kita untuk bisa meraskan bahagia itu sendiri. Dan keterlibatan orang lain yang ada di sekitar kita pun turut serta mewarnai corak kebahagiaan yang kita rasakan saat ini.
Sungguh indah dan damainya hidup ini jika kita bisa membahagiakan orang orang yang ada di sekitar kita. Kebahagiaan akan begitu terasa jika kita mampu menularkan rasa bahagia itu sendiri kepada orang lain. maka mari kita simak hadist yang begitu indah ini, tentang indahnya berbagi kebahagiaan kepada orang yang ada di sekitar kita :  “Sesungguhnya Allah hanya akan menyayangi hamba-hambaNya yang kasih sayang,” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
“Barangsiapa memberi kemudahan orang yang dalam kesulitan maka Allah akan memudahkan didunia dan di akhirat,” (HR. Muslim).
“Dan Allah selalu menolong hamba selama hamba menolong saudaranya,” (HR. Muslim.)
“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat,” (HR. Muslim).
“Barangsiapa merugikan seorang muslim maka Allah merugikannya,” (HR. Abu Daud & Tirmidzi).
“Barangsiapa mempersulit urusan seorang muslim maka Allah akan mempersulit urusannya,” (HR. Abu Daud & Tirmidzi).
“Tidaklah seseorang menelantarkan seorang muslim pada saat dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya maka Allah akan menelantarkan di saat dia suka seandainya ditolong. Tidaklah seseorang menolong seorang muslim pada saat dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya maka Allah akan menolongnya di saat dia suka seandainya ditolong,” (HR. Abu Daud).
“Barangsiapa yang bertoleransi maka Allah akan bertoleransi kepadanya,” (Al I’lam Ibnul Qoyyim.)
Maka mulai saat ini, selagi hayat masih di kandung badan, jantung masih berdetak, dan desah nafas masih berhembus, jangan pernah berhenti untuk berupaya membantu saudara kita agar bisa merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang kita rasakan, karena berbagi itu indah.

Sumber : Islampos
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts