.

Senin, 23 Maret 2015

Kemarin siang saya dapat tugas liputan ke Kementerian Perdagangan di daerah Gambir. Di undangan tertulis acara dimulai jam 11.30, tapi diawali dengan makan siang. Saya perkirakan inti acara baru mulai sekitar jam 12.30.
Setelah menghitung estimasi waktu Bekasi-Jakarta naik commuter line itu sekitar 30 menit (kalo lancar), maka saya putuskan untuk berangkat dari rumah jam 11 tepat. Kebetulan pas sampai stasiun, keretanya sudah tersedia.
Biasanya kalau saya naik kereta di jam segitu, saya dapat tempat duduk. Mungkin karena tadi datangnya mepet pas kereta mau jalan, alhasil saya harus berdiri menyender. Untung nggak begitu penuh berjejal.
Perjalanan kereta super lancar. Berangkat jam 11.16, jam 11.45 sudah sampai di Stasiun Gondangdia. Saya memutuskan turun disini karena jarak ke tempat tujuan lebih dekat. Tinggal naik ojek, atau jalan kaki pun bisa.
Niatnya saya mau naik ojek. Itu lantaran Febrina, anak magang di kantor, sudah tiba di lokasi lebih dulu dan ‘memaksa’ saya sampai dengan segera. Ojek di sekitar Stasiun Gondangdia sangat banyak. Begitu turun tangga mereka dengan cepat menyerbu.
Risih dikerubuti tukang ojek, saya cuek aja jalan terus. Berlagak nggak butuh. Toh, di depan sana masih ada tukang ojek yang mangkal tanpa rebutan penumpang.
Benar kan kata saya. Di depan mata ada tukang ojek lagi ngadem. Langsung saja saya tawar, ‘Bang, ke Kemendag depan halte berapa?’. Belum juga sepakat, si abang ojek langsung menaiki motornya. Saya tegaskan lagi, ‘Berapa bang?’. Dengan pedenya dia jawab, ‘Rp 10 ribu aja’. Dalam hati, ‘gila tukang ojek jaman sekarang, deket banget gitu aja Rp 10 ribu?’.
Saya akhirnya menawar dengan tawaran yang menurut saya tinggi, ‘Rp 7 ribu deh, Bang!’. Bukannya ditanggapi dengan santai, si tukang ojek malah nyolot, ‘Duh, jauh saya muternya. Rp 7 ribu tapi situ nyebrang ya ?’. Emosi saya tersulut, saya balas, ‘Kalau nggak disebrangin ya harusnya Rp 5 ribu!’, dan seketika itu juga saya ngeloyor pergi. Saya putuskan jalan kaki saja.
Saya SMS Febrina untuk sedikit bersabar karena sebentar lagi saya sampai. Dia balas, ‘Ok Mbak, SMS yah kalau sudah sampai!’. Ahh..lega deh dia nggak marah.
Akhirnya, saya menikmati jalan kaki di trotoar seberang gedung MNC Tower. Terasa sedikit bernostalgia juga karena jalanan ini pernah saya akrabi saat lebih dari dua tahun menimba ilmu di koran rajawali biru.
Sampai di ujung jalan, saya bertemu lelaki tua renta yang wajahnya cukup familiar dalam ingatan. Ya, mungkin sekitar satu tahun lalu saya menjumpainya untuk pertama kali. Kala itu saya bertemu dengannya di depan warung makan bawah rel, tempat tongkrongan reporter koran rajawali biru.
Saya coba flashback sedikit momen tersebut. Saya baru turun dari kereta dan jalan kaki menuju kantor. Saya jalan berdua kawan, namanya Cindy. Saat itu masih jam 12 siang.
Kami memutuskan makan siang dulu di warung ayam bakar. Sambil menunggu pesanan, saya celingak-celinguk melihat sekitar. Entah kenapa, mata ini langsung tertuju pada lelaki yang berdiri di depan warung dengan dagangan yang ia pikul.
Dari luar sama sekali tak terlihat jenis dagangan apa yang ia jual. Peralatannya sederhana, hanya dua kaleng kerupuk berkarat. Saya menduga dia jualan es, atau rujak bebek.
Daripada penasaran, saya dekati dia. Saya tanya, ‘Kek, jualan apa ini?’. Dia tersenyum sambil mengeluarkan isi dagangan. Gulali. Saya biasa menyebutnya ‘rambut nenek’. ‘ Nona, ini makanan asli betawi. Udah jarang yang jual. Mari dicoba,‘ katanya sambil memberikan saya setangkup gulali gratis.
‘Nona’? Dia panggil saya nona? Hehe..Baru kali ini saya dipanggil begitu. Oleh pedagang gulali pula. Kemudian saya tanya berapa harganya. Dia jawab ‘Terserah nona maunya berapa?’. Akhirnya, saya dan Cindy beli masing-masing Rp. 5000. Lumayan buat cemilan bareng teman-teman.
Pada saat mau membayar, saya sengaja kasih Rp. 20.000 dengan maksud sisanya ambil saja buat ongkos pulang ke rumah. Saya iba dan ingin sedikit berbagi. Tapi, ternyata reaksi si kakek diluar dugaan. Dia menolak dengan keras, bahkan sampai ingin meminta kembali gulalinya.
Saya jadi tak enak hati. Sungguh tidak ada niat merendahkan, hanya ingin berbagi. Saya minta maaf dan coba menenangkan dia. Saya bilang, ‘Kalau gitu tambahin lagi deh gulalinya jadi Rp 20 ribu,‘. Kakek pun setuju.

Dia lantas bercerita panjang lebar tentang dagangannya. Tampak begitu bangga dengan apa yang ia hasilkan. Tak sungkan memberi tester gratis pada calon pembeli. Pokoknya puas aja kalau gulalinya dinikmati.
Saya ajak ngobrol seputar kesehariannya jualan gulali. Lagi, saya merasa iba. Setiap hari dia pulang pergi Jakarta-Bogor memikul dagangan naik KRL ekonomi. Berangkat jam lima pagi, pulang nggak tentu. Bisa jam 8 malam, jam 10 malam, ya asal kereta masih ada.
Sama sekali tak terdengar sepatah kata pun tentang keluhan yang biasa terlontar seperti saya berbincang dengan supir taksi, tukang ojek, atau pedagang siomay. Walau sudah tua, harus diakui semangatnya luar biasa. ‘Dibawa senang-senang saja nona, jangan lihat susahnya’, begitu katanya.
Waktu saya iseng tanya soal keluarga, dia mengaku tidak memiliki anak. Istrinya juga sudah meninggal. Praktis hidupnya kini tinggal seorang diri. Sekali lagi, itu bukan alasan untuk mengeluh. Apalagi, meratapi nasib. ‘Ntar juga saya meninggal, jadi ngapain dipikirin’, ujar dia enteng.
Itu obrolan pertama kali setahun lalu. Nah, sekarang Tuhan pertemukan saya kembali dengan si kakek. Tidak ada yang berubah kecuali tubuhnya yang kian renta.
Saya sapa, ‘Kek, baru keliatan lagi. Masih inget saya nggak?’. Dia hanya tertawa memperlihatkan deretan gigi yang sudah ompong. ‘Iya nona tapi lupa-lupa’. Oh ya, ada yang sedikit beda dari dagangan kakek. Sekarang gulalinya sudah disiapkan per plastik. Jadi, kalau ada yang mau beli tinggal ambil.
‘Ini se-plastiknya berapa?’ tanya saya. Dia jawab, ‘Rp 2000′. Hah?Rp 2000? Saya tahu harga gulali di pasaran memang tidak mahal. Tapi, dengan isi yang lumayan banyak begitu rasanya harga Rp 2000 terlalu murah.
Saya hitung, masih ada sekitar lima plastik yang dipajang. Sialnya, duit di kantong tinggal Rp 15 ribu. Hanya cukup buat ongkos pulang. Saya jadi nggak bisa beli semua. Cuma beli dua plastik. Duh, nyesel juga.
Saat mau bayar, kakek masih saja seperti dulu. Memberi saya setangkup gulali gratis untuk dicoba. ‘Ini nona coba dulu nanti menyesal lagi kalau rasanya nggak enak’. Saya bilang, nggak perlu dicoba kan udah tau rasanya. Enak kok. Dia tetap memaksa, katanya, takut rasanya berubah.
Dan, nggak cuma saya aja yang dikasih gratisan. Semua calon pembeli diperlakukan sama. Asal tahu, gulali buatan kakek memakai gula pasir asli tanpa pewarna. Jadi, flat cuma warna putih gelap khas gula pasir aja.
Saya nggak asal ngomong atau sedang berpromosi. Teman-teman juga keluarga saya mengakui itu. Beda banget deh sama yang dijual di tempat lain, yang pakai warna pink.
Untuk menyenangkan hati kakek, saya cicipi gulali itu. Dia tampak senang sekali gulalinya saya makan. ‘Masih enak kok, masih sama. Manisnya pas,’ kata saya jujur. Kakek tersenyum sumringah dan malah memberi saya setangkup lagi, gratis. ‘Ini ambil lagi buat dijalan’.
Seketika saya ingin menangis. Gulali yang ia jual harganya cuma Rp 2000 per plastik. Kalau laku semua, kira-kira cuma dapat Rp 30 ribuan. Tapi, dia masih bisa memberi gratis pada semua calon pembeli.  Hidup yang terlihat miris dari luar, ternyata dirasakan begitu manis. Sama seperti rasa gulali yang ia jual. Ya Tuhan.. sungguh saya terenyuh. ‘Berkah ya, Kek, rejekinya. Amin..’, doa saya dalam hati.
Saya lantas melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Masih dengan perasaan yang ‘tertampar’. Saya seperti berdialog dengan diri sendiri. Malu tepatnya.
Kalau dibandingkan, gaji saya jauh lebih besar dari penghasilan kakek. Saya juga masih muda dan sehat. Cuma kok kebanyakan ngeluhnya. Hidup yang nggak sempurna-lah, kerjaan yang banyak banget-lah, yah macem-macem deh. Minim banget rasa syukur.
Tuhan seperti mau mengajari saya bagaimana caranya bersyukur. Sederhana. Cukup dengan senyum, wajah yang ceria, dan hati yang ikhlas memberi, tanpa embel-embel kepentingan atau rasa takut kehilangan rejeki.
Dua hal bodoh yang saya lakukan adalah lupa menanyakan siapa nama kakek dan mengambil gambarnya. Semoga Tuhan pertemukan saya kembali dengannya. Masih banyak yang ingin saya pelajari.
Teman-teman bisa coba buktikan sendiri cerita saya bila bertemu dengannya. Kakek penjual gulali itu dua kali saya temui di sekitar MNC Tower, kata seorang teman yang juga pernah melihat, kadang suka mangkal di Jalan Sabang.
Perawakannya kecil, renta, memakai topi kompeni, tanpa alas kaki, dan memikul dagangan gulali. Kalau saya ketemu dia lagi, saya janji akan sebutkan nama, juga menunjukkan fotonya. Sebut saja itu janji reporter galau.

Sumber : Islampos
DI MASA kecil, saat pertama menyentuh benda bernama sepeda, kaki ini gemetar. Gemuruh di dada tak tertahankan sementara kedua tangan mencengkeram erat stang sepeda, padahal belum juga terkayuh pedal di kaki. Kedua mata menatap tajam menunggu lengang sepanjang jalan tertatap di depan, sebelum kayuhan pertama diayunkan. Satu kayuhan pun terayun, dan… lutut memar, lengan berdarah, ditambah kening sedikit benjol beradu kuat dengan tanah.

Menyerah? tentu tidak. Meski harus kembali terluka, menambah benjolan di sisi lain kening, atau menutup luka kemarin dengan luka yang baru, semangat tak pernah luntur demi bisa berdiri di atas sepeda roda dua. Esok hari, tambah lagi luka baru, atau luka yang sama bertambah parah, tetap saja terus berusaha mengayuh sepeda. Tiga kayuhan pertama, jatuh. Esok mendapat tujuh kayuhan, kemudian jatuh. Sebelas kayuhan, jatuh lagi dan seterusnya entah sudah keberapa ratus kali di jalan depan rumah itu bersahabat dengan lutut, lengan, kening ini. Hingga akhirnya setelah beberapa minggu, jalan lurus, jalan terjal, mendaki dan turunan, hingga berlubang pun mampu dilewati dengan lincah, cepat dan yang penting, tidak lagi jatuh.
Di masa lalu, kegagalan demi kegagalan pernah sangat erat dengan diri ini. Pernah juga beberapa kesuksesan menjadi bagian kehidupan, gerimis hati ini saat menjalaninya. Jutaan jalan berlubang pernah terlalui, beberapa kali terjerembab di dalamnya. Jalan gelap begitu sering harus ditapaki, tak jarang menemui jalan buntu. Tak terbilang peluh saat mendaki, sementara senang tak terkira ketika mendapati jalan menurun. Yang membuat diri tak percaya, sungguh semuanya pernah dilalui.
Di masa silam, ada banyak sahabat baru berdatangan dan mengiringi hari-hari penuh kehangatan. Tak berbeda masanya, beberapa sahabat pernah pula meninggalkan diri, menjauh dan tak lagi pernah tahu gerangan dirinya. Pilu ketika harus berpisah, haru saat berjumpa kembali. Begitu banyak cinta bersemi, meski di waktu yang sama ada pula yang menabur benci pada diri.
Ketika masih sama-sama di bangku sekolah dan kuliah, bersama sahabat mengukir mimpi. Melukis masa depan, membayangkan akan menjadi apa diri ini kelak, usia berapa menikah, seperti apa pasangan hidup nanti, berapa banyak anak yang dihasilkan, apa jenis kendaraan yang diinginkan, rumah sebesar apa yang didambakan, berapa banyak yang diinginkan saat kali pertama gajian, dan apa yang ingin dibeli dengan gaji pertama itu.
Waktu berlalu, mimpi terlewati, ada yang terwujud, tak sedikit yang menguap bersama awan di langit. Masa depan terus berjalan tidak pernah berhenti dan terhenti. Ada yang menyesali langkah tak tepat yang pernah ditempuh, ada yang mensyukuri karena tak selamanya apa yang dianggap benar, benar pula menurut Sang Maha Berkehendak.
Kita memang tak pernah bisa tahu yang akan terjadi besok, tetapi kita pernah punya masa lalu yang telah banyak memberi pengajaran. Kita pernah jatuh, terpuruk, sedih, bahagia, manis, pahit, terbang, menangis, tertawa, sendiri, bersama sahabat di masa lalu. Sedangkan masa depan, kita hanya bisa mengukirnya di dalam bingkai mimpi, hanya bisa mengira, merencana dan mereka-reka. Justru karena itulah, kita mesti belajar dari masa lalu. Karena masa lalu  mengajarkan dan mendidik kita tentang arti kehidupan.
Sumber : Islampos
SETIAP insan di dunia ini termasuk diri kita pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, sebagai insan yang tak pernah luput dari kesalahan dan kealfaan tentunya kita harus sering sering bercermin ke dalam diri kita sendiri mengoreksi segala kekurangan yang ada di dalam diri kita, begitu banyak aib aib yang ada pada diri kita yang bisa jadi tidak kita sadari. Sungguh jika Allah SWT menampakkan aib aib kita ke permukaan, tentu kita tak akan mampu untuk mengangkat wajah kita, karena wajah kita akan terus tersungkur bersujud memohon ampun kepada Allah. Namun selama ini Allah lah yang memiliki kuasa untuk menutupi setiap aib aib diri kita.

Sering kali kita lebih banyak menilai atau mengoreksi bahkan mengumbar aib saudara kita sendiri yang belum tentu aib tersebut melekat pada orang kita nilai. Orang yang lebih suka membuka aib saudaranya sendiri seperti tulang yang menusuk ke dalam daging. Semakin sering kita mengumbar atau membuka aib orang lain, maka semakin keruh dan buta hati kita. Naudzubillah. Padahal jika kita mau melihat dan menelusuri ke dalam diri kita sendiri bisa jadi aib aib kita jauh lebih banyak di bandingkan dengan orang yang kita nilai lebih buruk aibnya. Jangan sampai kita buta akan aib sendiri yang begitu banyak namun tidak kita sadari karena kita lebih sibuk untuk mengoreksi aib orang lain. Pribadi yang sibuk mengoreksi ataupun mengumbar aib orang lain itu sesungguhnya hatinya telah kering akan kebaikan, tandus dan panas oleh kebusukan.
Maka mulai saat ini lebih baik kita mengoreksi terlebih dahulu diri kita atas segala kekurangan dan kealfaan diri kita sebelum mengoreksi orang lain. Karena bisa jadi orang yang kita koreksi aib aibnya itu lebih mulia derajatnya di sisi Allah. Sungguh bahaya tentang mengumbar aib orang lain sama dengan ghibah, simaklah firman Allah SWT ini :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”Al-Hujaraat ayat 12 :
Perbuatan ghibah atau mengumbar aib orang lain termasuk dosa besar, tak akan ada manfaatnya sedikitpun untuk diri kita. Kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya menjaga aib saudara kita sendiri, bukan sebaliknya malah mengumbarnya. Bukanlah hak atau wewenang kita untuk membuka aib saudara kita, karena Allah lah yang lebih berkuasa untuk membuka ataupun menutupi aib aib kita ataupun saudara kita. Sungguh sekecil apapun perbuatan buruk yang kita lakukan kepada saudara kita maka malaikat akan tetap setia mencatatnya dan Allah yang menyaksikannya tanpa terlewat sedetikpun. Jaga hati dan diri kita dari segala perbuatan yang dapat membuka aib saudara kita, karena Sungguh Hati itu bagaikan cermin, jika cermin yang di gunakan sudah kotor ataupun kusam maka apapun yang di pantulkan tidaklah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, tetapi jika cermin itu bersih mengkilat maka akan terlihat jelas pantulan yang ada di cermin.
Cermin yang kotor dan kusam tak akan membantu kita untuk melihat jelas pantulan yang ada di cermin, baik itu wajah kita maupun tubuh kita ketika kita bercermin.Sebaliknya jika cermin itu bersih dari segala kotoran maka akan sangat membantu kita untuk melihat wajah ataupun bagian tubuh kita dengan jelas. Segela kekurangan yang ada pada diri kita ketika kita bercermin dengan cermin yang bersih maka akan sangat membantu kita untuk mengoreksi segala kekurangan tersebut dan merapihkannya dengan sebaik baiknya. Begitu juga dengan hati, Segala prasangka dalam hati itu begitu halus saking halusnya ketika hati tidak sehat maka hati akan begitu bimbang untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Kita simak Sabda Rasulullah SAW yang begitu indah ini :
Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar. Maka, itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik, maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Mulai detik ini mari kita bersihkan cermin yang ada di dalam hati kita, kita liat dan terus telusuri kesalah kesalahan yang ada di dalam diri kita untuk kita perbaiki, lembutkan hati kita dengan memperbanyak taubat dan dzikir mengingat Allah, karena sungguh hati yang terjaga akan lebih tenang dan damai ketika menilai orang lain. Tak akan ada terbelesit prasangka buruk yang menyelimuti hati,
Dalam sebuah statusnya Pak Mario Teguh, ada kalimat yang begitu berkesan tentang hati,
Ada satu taman, yang jika ia indah,
keseluruhan hidup kita akan indah.
Taman itu adalah hati.
Taman hati yang indah itu
berisikan bunga yang namanya syukur,
yang dipupuk dengan tanggung-jawab,
yang disirami dengan pengakuan
bahwa semua hasil adalah pemberian Tuhan,
yang disiangi dengan kejujuran,
dan yang dipagari dan digerbangi
dengan keikhlasan menerima apa pun
sebagai keadaan yang terbaik
yang masih bisa diperbaiki.
Maka,Janganlah menanami hati
dengan ilalang kemarahan.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
Alaa inna fil jasadi mudghah, idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu”.( ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya.ingatlah ia adalah hati ). diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
“Lebih baik kita meluruskan niat dan mengoreksi ibadah kita sendiri. Ambil cermin dan lihatlah kesalahan dan kelemahan kita. Sudah banyak Allah menutupi kesalahan-kesalahan kita, tidak terhitung betapa kasih dan rahmat Allah kepada kita sehingga keburukan-keburukan kita dilindungi-Nya,” tandasnya.

Sumber : Islampos
ADA seseorang yang mendatangi saudaranya sesama muslim untuk mengadukan masalahnya. Sebenarnya ia bingung dan malu menyampaikan maksud kedatangannya, namun karena permasalahannya sudah sangat mendesak ia pun terpaksa mengutarakannya. Itu pun dengan sangat hati-hati. “Kontrakan saya sudah mau habis, bagaimana menurut saudara?” ia kehabisan ide untuk menyampaikan maksudnya lebih jelas.

“Ohh, saya kira sebaiknya saudara mencari kontrakan yang baru. Tempat tinggal yang sekarang nampaknya kurang baik untuk kesehatan seluruh anggota keluarga”, saran saudaranya itu.
Padahal, maksudnya bukan minta saran seperti itu, melainkan ia secara tidak langsung ingin meminta bantuan pinjaman uang untuk memperpanjang kontrakannya satu tahun atau setidaknya enam bulan ke depan. Perasaan tidak enak dan malu membuatnya bingung menyampaikan maksud hati yang sebenarnya.
Ia pun mencobanya kembali, “Usaha dagang saya sedang tidak bagus, bulan kemarin saja saya harus nombok dan terus merugi. Saya sudah kehabisan uang,” kali ini mulai lebih jelas.
Tapi “Mungkin saudara belum benar-benar khusyuk dalam beribadah, belum serius dalam berdoa. Cobalah lebih banyak lagi menambah amalan-amalan sunnah, berdoalah lebih iba kepada Allah. Insya Allah, Dia akan lebih mendengar doa saudara. Tenang, saya saudaramu, saya juga akan mendoakan agar usahamu lancar dan berhasil,” rupanya masih belum nyambung.
Maksud ia mendatangi saudaranya itu sebenarnya sudah jelas untuk minta bantuan, bukan minta nasihat. Ia berharap saudaranya yang kelebihan harta dan memiliki beberapa bidang usaha itu mau memberinya modal usaha. Bukan doa yang dimintanya, padahal saudaranya itu memiliki sejumlah kontrakan, salah satu bidang usahanya.
Satu sisi, tidak ada yang salah dengan nasihat-nasihatnya. Mungkin betul saudaranya itu kurang dalam ibadahnya, jarang meminta kepada Allah. Tetapi bisa jadi sebaliknya, ada orang yang sudah benar-benar khusyuk dalam beribadah, dan tak melewatkan satu malam pun untuk berdoa dalam tahajjudnya, hanya saja Allah masih ingin menguji kesabarannya.
Faktanya, saat itu ia memerlukan bantuan saudaranya secara nyata. Bukan dalam bantuk doa dan nasihat. Entah itu sedekah atau pinjaman, karena memang itu yang benar-benar diharapkannya. Setelah memberi bantuan, terserah mau sebanyak apapun memberi nasihat, pasti akan didengarkan karena hatinya sudah sedikit tenang.
Orang yang tertimpa musibah dan mendapat kesulitan, sebaiknya tidak ditolong hanya dengan doa. Ringankan bebannya terlebih dulu, kemudian berilah ia nasihat kesabaran dan doakan agar ia bisa segera keluar dari kesulitannya.
Sama halnya dengan saudara kita yang sedang sakit, ucapan “semoga lekas sembuh” memang sudah cukup sebagai bentuk perhatian. Namun bagi sebagian lain, kesembuhannya bisa lebih cepat dengan cara dikunjungi dan membawa sedikit buah tangan untuk menghiburnya. Bahkan, ada pula yang harus dibantu biaya perawatannya.
Jika ada saudara kita yang kelaparan, apakah akan merasa kenyang setelah kita doakan?

Sumber : Islampos
TIBA-tiba saja terpikir suatu hal, yaitu umur manusia. Saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana jika saya tahu bahwa umur saya hanya sampai umur 25 tahun, atau 35 tahun, atau 5 hari lagi. Saya terpikir banyak hal yang akan saya lakukan. Saya tertarik untuk berbagi kisah ini pada saudara-saudara pembaca blog ini. semoga kita bisa berdiskusi dan mendapat banyak manfaat.

Jika anda tahu sisa umur anda tinggal 1 tahun, apa saja yang akan anda lakukan untuk mengisi sisa umur itu?
Mungkin sebagian akan menjawab:
1. Bersenang-senang.
2. Jalan-jalan ke tempat indah yang belum didatangi.
3. Makan sepuasnya setiap hari.
4. Segera menikah, dll.

Mungkin sebagian orang yang lain memilih:
1. Memperbanyak ibadah shalat dan dzikir.
2. Memperbanyak sedekah.
3. Memperbanyak silaturahim.
4. Bekerja lebih giat.
5. Memberikan hak keluarga dan orang-orang disekitarnya, dll.

Kenapa dua kelompok kegiatan tersebut begitu berbeda dan seolah bertolak belakang?
Saudaraku, salah satu hikmah besar dirahasiakannya bilangan umur kita adalah agar kita tidak tahu kapan kita mati. Ketika kita tidak tahu kapan kita akan mati, pada dasarnya kita akan merasa setiap saat bisa jadi ajal kita. Maka kita akan selalu berhati-hati dengan tindakan kita. Kita tidak akan tahu kapan kita akan mati. Apakah saat remaja? Ataukah saat kita sudah tua? Dan kita tidak tahu kapan pastinya kita akan mati. Apakah hari ini? Atau besok? Dan kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. Apakah saat tidur? Apakah saat berkendaraan? Ataukah ketika kita sedang membaca Al Quran?
Seandainya ALLAH menghendaki semua manusia mengetahui kapan ia mati, dimana ia mati, dan kapan ia mati, akankah kehidupan dunia ini dihiasi kebaikan demi kebaikan? Saya rasa tidak.
Kemungkinan yang bisa kita bayangkan:
1. Sedikit manusia selalu menghiasi umur dengan ibadah.
2. Lebih banyak manusia terus menerus berbuat dosa hingga akhir hayatnya.
3. Jauh lebih banyak lagi manusia terus berbuat dosa hingga sedikit sisa umurnya ia bertaubat.

Saya rasa jenis ketiga akan mendominasi isi dunia. Orang-orang seperti ini selalu berpikir bahwa masih ada waktu untuk bertaubat. Dalam kondisi seperti ini, bisa jadi dunia ini didominasi  kejahatan dan kriminalitas, maksiat, hedonis, dan sejenisnya.
Maka segala puji bagi ALLAH Yang Maha Sempurna perhitungannya. ALLAH sangat memahami betapa manusia senantiasa berada antara kecenderungan yang baik dan yang buruk (QS. Asy-Syams: 8).
Maka ia menyelamatkan manusia dari fitrahnya tersebut. Dengan jalan menjadikan umur sebagai hal ghaib yang tidak diketahui manusia. Untuk apa? Agar manusia selalu berhati-hati dalam hidupnya, dan agar manusia selalu berada dalam kebaikan.
Sumber : Islampos
SEBATANG bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya.

Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu, ”Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku.”
“Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur.”
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam, kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”
Petani menjawab pertanyaan batang bambu itu, ”Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu. Karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”
Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani. Kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur.
Ikhwahfillah, pernahkah kita berfikir bahwa dengan masalah yang datang silih-berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang mentarbiyah diri kita untuk menjadi lebih baik di hadapan-Nya?
Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya.
Tapi jangan khawatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas menjalankan skenarionya di dalam diri kita?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ”Ini aku yaa Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”
Intinya, kita Ikhlas menyerahkan diri kepada Allah. Biarlah Dia yang mengatur hidup kita ini karena yang dikehendaki oleh Allah adalah yang terbaik untuk kita jalani.

Sumber : Islampos
SEBAGAI pijakan sejarah mengenai dakwah berbasis cinta, pada tulisan kali ini akan ditulis sosok da`i yang tidak begitu masyhur di kalangan umat Islam Indonesia, namun peran dan kontribusinya begitu luar biasa. Ia berdakwah sama sekali tanpa menggunakan kekerasan. Ia menggunakan cara-cara persuasif dalam berdakwah.
Dakwahnya dipenuhi dengan semangat cinta. Tak ayal lagi, dakwah yang dibawanya kemudian begitu berkah hingga mengislamkan lebih dari dua puluh negara Afrika. Sosok karismatik dan berpengaruh itu dalam sejarah yang hidup pada abad keempat dikenal dengan nama: Abdullah bin Yasin.
Kisah ini penulis ambil dari silsilah muhadharah Dr. Ragib al-Sirjani yang mempunyai judul besar: Qorōrun Jarī`un (keputusan fenomenal). Sebelum diajak berdakwah di klan Sonhaji yang masih masuk dalam kategori wilaya Barbar, ia sebenarnya sudah memiliki majlis ta`lim sendiri.
Muridnya begitu banyak. Namun menariknya, ketika Yahya bin Ibrahim al-Judali memohon kepada Abu Imran al-Fāsyi, untuk didatangkan da`i di kabilahnya yang banyak terjadi kemakshiyatan dan pelanggaran keagamaan, akhirnya dimintalah Abdullah bin Yasin untuk berdakwah di tempat Yahya bin Ibrahim al-Judali, Kepala Suku dari klan Judali. Keputusan Abdullah bin Yasin untuk berdakwah di kabilah Judalah sudah sedemikian bulat, sehingga ia rela menginggalkan keluarga dan murid-muridnya.
Berdakwalah Abdullah bin Yasin di kabilah Judalah. Kabilah Judalah meskipun beragama Islam, namun kemungkaran acap kali terjadi. Setelah dulu daulah Fathimiyah pernah menguasai wilayah Afrika Utara, banyak sekali pemahaman-pemahaman menyimpang yang menyebar luas di kalangan penduduk Afrika, akibatnya Islam yang benar lambat laun semakin memudar.
Penduduk kabilah Judalah sudah terbiasa meminum khamr, nikah lebih dari empat, kemaksiatan dilakukan dengan secara terbuka tanpa ada satupun yang menegur mereka, Inilah yang membuat Yahya bin Ibrahim al-Judali meminta seorang da`i yang hanif untuk mengingatkan mereka.
Dakwah Abdullah bin Yasin tak berjalan mulus. Para pemuka kaum dan penduduk yang sudah terbiasa berbuat makshiat, merasa terancam dengan kehadiran Abdullah bin Yasin. Pada puncaknya, akhirnya Abdullah bin Yasin dan Yahya bin Ibrahim al-Judali diusir dari kampung itu. Keluarlah Abdullah bin Yasin dengan kesedihan yang luar biasa.
Dalam perjalanan, Abdullah bin Yasin berhenti sejenak, ia berfikir tidak boleh menyerah dengan kondisi yang ia hadapi. Kalau kembali lagi ke daerah asalnya, maka kabilah Judalah dan Lamtunah akan semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar. Ia tidak mau itu terjadi. Bagaimana iakan mempertanggungjawabkan dirinya di hadapan Allah, ketika membiarkan mereka berada dalam kondisi kemaksiatan.
Akhirnya ia membuat keputusan penting, yeng kemudian menempatkanya dalam posisi agung sebagai Da`i Teladan. Menghadapi penentangan keras dari kabilah Judalah tidak membuat hatinya ciut, semangatnya tak pernah surut. Menariknya sikap kasar yang diperolehnya dari kabilah Judalah tidak membuatnya bersikap reaksioner dengan cara mendatangkan para murid dan rekan-rekannya dari daerah asalnya untuk menaklukkan kabilah Judalah dengan kekerasan. Ia sama sekali tidak menggunakan kesempatan itu, meskipun sebenarnya ia memilikinya. Ia justru memilih dakwah berbasis cinta. Keputusan terakhirnya ia pergi ke daerah pedalaman di selatan Muritania, dan di situ ia membuat tenda.
Dari tenda itu, ia mengirim surat kepada orang-orang yang menerima dakwahnya di kabilah Judalah. Akhirnya merekapun bergabung dengan Abdullah bin Yasin. Dalam tenda itulah dimulai sepak tejang monumental dakwahnya. Selama tiga belas tahun ia berdakwah akhirnya sampai mendapat seribu orang pengikut.
Tak puas hanya sampai di situ, akhirnya kepala suku Lamtunah, yang masih termasuk cabang dari klan Shonhaji, ia ajak untuk bergabung dengannya. Kepala Suku Lamtunah yang bernama Yahya bin Umar al-Lamtuni sangat tertarik dengan dakwah Abdullah bin Yasin yang begitu santun dan berbasis cinta. Dalam waktu semalam akhirnya mengajak kabilahnya untuk mengikuti dakwah Abdullah bin Yasin.
Dalam waktu semalam sekitar enam ribu penduduk Lamtunah, akhirnya mengikuti dakwab Abdullah bin Yasin. Sekarang jumlahnya menjadi tujuh ribu. Mereka pun menyebarluaskan dakwah Islam hingga Islam tersebar luas bukan hanya di daerah Judalah dan Lamtunah, tapi meliputi wilaya Tunis, Maroko dan alJazair dan dua puluh lebih daerah Afrika.

Ketika akhirnya Abdullah bin Yasin meninggal lantaran dibunuh oleh kaum pagan, dakwahnya kemudian diteruskan oleh Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni(saudara dari Yahya bin Ibrahim al-Lamtuni). Bersama pamannya yang bernama Yusuf bin Tasyfin, akhirnya dakwah berbasis cinta disebarluaskan kembali. Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam waktu yang tidak sampai empat puluh tahun, wailayah Afrikan utara dan beberapa wilayah Afrika yang lain, kembali kepada jalan Islam yang hanif.
Pada puncaknya, nanti berdirilah daulah Murobithun (diambil dari kata ribhat yang berarti tali kemah. Kata ini diambil dari kegiatan awal Abdullah bin Yasin yang memulai dakwahnya di tenda). Daulah Murobithun adalah termasuk daulah Islam yang fenomenal, dan mampu menyatukan daulah Islam di Spanyol. Berangkat dari dakwah seorang Abdullah bin Yasin yang mengutmakan cinta dan teladan yang baik, akhirnya berkembang menjadi sebuah daulah yang kuat.
Kita bisa menemukan fenomena yang sama di Indonesia, ketika pada abad ke tiga belas, penduduk di seluruh pesisir Jawa bagian utara masuk Islam. Diantara penyebabnya ialah atas jasa Wali Songo yang berdakwah dengan berbasis keteladanan dan cinta. Pada zaman sekarang, kita berharap semoga bermunculan da`i-da`i seperti itu, sehingga Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seantero alam. Wallahu a`lam bi al-shawab.
SUMBER : Islampos
NABI Ibrahim AS sangat mengharapkan ke-islam-an atas ayahnya, tetapi Allah SWT tidak berkehendak demikian walaupun beliau dikenal sebagai ‘kekasih-Nya’.
Juga harapan Nabi Nuh As kepada putranya agar ikut besama orang-orang Islam.
Namun Allah SWT menakdirkan sebaliknya, meskipun Nuh AS telah berdoa…

Pemimpin dan penutup para Nabi, sebaik-baik manusia Nabi Muhammad SAW sangat bersedih dengan kematian pamannya, yang berjuang bersama beliau membela Islam di sisa-sisa usiannya. Kemudian Allah SWT menghendaki kematian paman beliau tanpa memeluk Islam.

Akan tetapi, Allah SWT menjadikan saya, dan Anda sekalian sebagai muslim tanpa harus meminta. Allah SWT telah memberikan kita nikmat terbesar, yang tidak diberikan kepada ayah Ibarahim AS, kedapa putra Nuh AS, dan kepada paman Rasulullah SAW.
Bukankan ini sebuah karunia yang berharga?
“…Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukurb” (QS. Al-Baqarah: 243)
Islam adalah nikmat terbesar walau ditimbang dengan seluruh nikmat-nikmat yang ada,
.الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا ان هدانا الله

Sumber : Islampos
SIAPA yang tidak mau berbagi? Berbagi sangatlah dianjurkan oleh islam. Berbagi tidak hanya diperuntukan oleh orang kaya saja, orang yang tak mampu pun dapat melakukan hal itu.


Banyak sekali keutamaan dalam berbagi, terutama ada banyak sekali hadist dan ayat yang menyarankan seorang muslim untuk berbagi.
Seseorang yang enggan berbagi dapat dikatakan Orang yang bakhil alias kikir memang sangat egois dengan kehidupan sekelilingnya. Sehingga manusia yang memiliki tabiat ini cenderung dan sering diisolasikan oleh masyarakat sekitarnya.
Bahkan Allah sendiri melalui Rasul-Nya telah mengancam mereka yang kikir akan selalu dijauhkan dari sisi-Nya, dari manusia dan surganya Allah. Dan sifat inilah yang pernah menjadi momok menakutkan yang menjadikan mereka orang-orang tempo dulu dimusnahkan dari muka bumi ini.
Pengorbanan diri adalah kebiasaan orang-orang yang memahami keindahan keadilan dan kebenaran iman kepada Allah.
Orang-orang yang mengorbankan jiwa mereka untuk melaksanakan keadilan, cinta dan keharmonisan telah mampu mengawinkan antara akal, cinta, serta kasih sayang.
Pada keadaan inilah manusia akan mencapai puncak mega keindahan, cahaya kebenaran, dan keadilan.”Islam menekankan dan menganjurkan pengorbanan dan kemurahhatian, dengan demikian akan menumbuhkan ikatan cinta dan kasih sayang antara kaya dan miskin bahkan dengan semua lapisan.
Di samping membenci kekikiran, Islam menanamkan akar cinta sebagai simpul dari masyarakat yang berkeadilan. Karenanya Islam melarang dan mengecam mereka yang kaya bersikap acuh tak acuh terhadap orang miskin dan tertindas. Imam Musa al-Kazim salah seorang cucu Rasulullah saww berkata,”Orang yang murah hati dan berakhlak baik selalu berada di bawah lindungan Allah. Allah selalu dekat dengan mereka dan akan membimbing mereka menuju kebahagiaan.
Sifat kikir bagaikan wabah virus yang dapat menggerogoti akhlak dan rohani, sedemikian jahatnya sehingga dapat menumpulkan kemampuan berfikir manusia.
Kekikiran gayung bersambut dengan sifat egois yang berpusat pada cara berpikir materialistik dan penumpukan harta kekayaan. Kunkungan pemikiran materialisme akan menimbulkan kejahatan sosial yang amat dahsyat.
Orang yang dihinggapi penyakit ini berpikiran sempit, terasing dari fakta-fakta sosial dan jauh dari nilai-nilai ahklak dan rohani. Bahayanya kemudian akan menjerumuskan dirinya ke dalam kehinaan, kebencian, dan tindakan amoral lainnya.
Para psikolog melihatnya sebagai akibat dari hantu kemiskinan yang membayangi hidupnya. Ia menderita depresi mental dan kekhawatiran yang mendalam. Harta menjadi penjara baginya, dirinya terasing dengan kesenangan dan ketentraman batin.
Rasulullah SAW bersabda, “Hindarilah kekikiran karena akan menyebabkan kamu binasa dan mengarahkan mereka kepada pertumpahan darah serta menodai kesucian mereka. Islam tidak membenci sesuatu lebih daripada kekikiran.”
Nah, sekarang tunggu apa lagi untuk urusan berbagi..!
Sumber : islampos

Minggu, 22 Maret 2015

SEORANG Raja menempatkan sebongkah batu besar di tengah jalan. Raja itu kemudian bersembunyi di suatu tempat. Ia ingin melihat apakah ada orang yang mau memindahkan batu tersebut.
Sudah beberapa orang lewat, belum satu pun yang mau menyingkirkan batu tersebut. Mereka justru memaki tanpa berinisiatif memindahkannya. Raja terus memerhatikan di balik tempat persembunyiannya dan ia masih menunggu apakah ada orang yang mau mendorong batu itu ke tepi.
Kemudian, datanglah seorang petani yang menggendong sayuran. Ketika semakin dekat, petani itu meletakkan sayur bawaannya untuk mencoba memindahkan batu itu ke pinggir jalan. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.


Ketika si petani mengangkat kembali sayurannya dan melanjutkan perjalanannya, ia baru melihat bahwa di tempat batu tadi ada sebuah kantung yang berisi koin emas dan selembar surat dari raja. Dalam surat itu, tertulis sebuah kalimat, “Emas itu hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu besar dari jalan.”
Kisah sederhana di atas memberi kita sebuah pelajaran, bahwa dalam setiap ujian, kesulitan dan rintangan terselip manfaat dan kebaikan. “Dan kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali kepada kebenaran.” (TQS. Al-A’raf: 168)
Ibnu Jarir menjelaskan ayat tersebut dalam salah satu karyanya, “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam menjalani hidup, bahagia di dunia, keluasan rezeki, dan itu semua merupakan kebaikan yang disebutkan Allah. Kami pun menguji dengan keburukan, yaitu dengan kesulitan, kerasnya hidup, musibah, dan kerugian dalam harta agar mereka kembali taat kepada Tuhan mereka dan kembali kepada-Nya, dan mereka bertobat atas segala maksiat kepada-Nya.”
Dalam penjelasan diatas, bahwa ujian bukan hanya kesusahan. Tetapi beberapa kemudahan dalam hidup juga termasuk di dalamnya. Apa pun bentuk ujian yang menimpa kita maka haruslah menjadikan diri kita lebih dekat kepada Allah SWT. Segala sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah baik itu hal yang membahagiakan atau menyusahkan adalah kebaikan bagi kita.
“Barangsiapa yang dikendaki Allah dengan kebaikan maka ditimpakan ujian kepadanya,” (HR. Bukhori)
Semua ujian yang datang pada kita adalah wujud cinta-Nya Allah kepada kita. Ujian adalah jalan Allah untuk memberikan kebaikan kepada kita. Jika ujian tersebut membuat diri kita menjadi ingat kepada-Nya maka kita patut bersyukur karena Allah telah memberi hidayah lewatnya. Wallohu’alam

Sumber : Islampos
MENULIS adalah bagian aktualisasi diri atau wujud gharizah baqa sebagai manusia. Menulis tidak hanya dilakukan oleh anak muda saja, tua pun tidak masalah. Malah akan lebih bagus jika didukung oleh berbagai kalangan ataupun usia.
Generasi Islam dulu begitu antusias menulis kitab hingga melupakan kesenangan dunia. Tokoh –tokoh yang kita kenal dikalangan penulis zaman dulu ada Imam Bukhari yang menyibukkan dirinya menulis hadits shahih dan menghimpunnya dalam satu kitab.
Dengan mengabaikan keinginannya sendiri untuk menikah hingga akhirnya tinta sejarah mencatat Imam Bukhari sampai akhir hayatnya tidak sempat menikah.

Baginya, menghimpun hadits-hadits shahih yang diperuntukkan bagi umat, jauh lebih penting daripada menikah yang hanya untuk kepentingan sendiri.
Lain lagi dengan penulis di level dunia saat ini seperti Dan Brown, JK. Rowling, Aidh Al-Qarni, Andrea Hirata, Habiburrahman, Asma Nadia dan tukang komik seperti Stan Lee. Mereka yang bergelut di tulisan memperjuangkan hak dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan hidupnya direlakan untuk menulis.
Pada tabi’atnya, muslim juga punya kewajiban jadi penyeru. Tentu yang diserukan itu adalah Islam.
Namun kondisi kini yang sudah jauh dari Islam sehingga perlu kita perbaiki dengan mengajak mereka memahami Islam dengan benar melalui tulisan yang kita buat. Kini seiring berjalannya waktu dakwah sudah punya media opini yang dikelola secara professional.
Ini menjadi parameter dakwah Islam menjadi lebih baik lagi. Dengan sudah mudahnya jalan dakwah mudah-mudahan menjadi semangat terbaik dalam memerangi kekufuran dan kemunkaran.

Sumer : Islampos

Sabtu, 21 Maret 2015

ADA apa dengan selingkuh? Karena ada cinta. Lalu ada apa dengan cinta? Itu sih judul film.., Ya, kata selingkuh memang seringkali diidentikan dan dilekatkan dengan cinta. Padahal tidak selamanya selingkuh itu identik dengan cinta. Kalau menurut KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian selingkuh adalah:
1. Suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong.
2. Suka menggelapkan uang, korup.
3. Suka menyeleweng (menyimpang dari jalan yang benar, tidak menurut perintah, menyalahi aturan, memberontak, membelot, menyempal).

Ya begitulah…, di tengah gombalisasi zaman seperti sekarang ini, di tengah labil ekonomi yang menghimpit, di tengah krisis sambung menyambung tidak pernah putus, seringkali muncul kontroversi hati yang menyeret kita pada kospirasi perselingkuhan mengkhianati Tuhan.
Bagaimana tidak disebut selingkuh, ketika Tuhan mencurahkan kita dengan cinta-Nya, kasih sayang-Nya, apa yang ternyata kita lakukan? Mengabaikannya, melalaikannya, mengkhianatinya, menduakannya. Berapa banyak manusia di dunia ini yang bertuhan bukan kepada Allah SWT, yang bertuhan pada harta, tahta, wanita.
Betapa sering dalam hidup kita menjadikan-Nya nomor dua, tiga dan seterusnya, kalah bersaing dengan harta yang harus kita kejar, karir yang harus kita raih, bos yang harus kita patuhi, bahkan Dia kita kalahkan dengan kesenangan pribadi kita untuk nonton televisi, nonton bioskop, nge Gym, shopping. Astagfirullah…

PADAHAL kalau kita sadar, betapa banyak kasih sayang yang diberikan-Nya secara cuma-cuma, gratis, tanpa pamrih, sekalipun kita melalaikan-Nya, mengabaikan-Nya. Silahkan hitung, berapa banyak oksigen yang kita hirup dalam satu hari, bayangkan seandainya untuk setiap tarikan nafas kita harus membayarnya, bayangkan saat Anda terbaring di rumah sakit dipasang selang oksigen untuk membantu pernafasan, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Andaikan Dia itu pemilik rumah sakit, mungkin saat ini kita sudah tidak bisa bernafas lagi, karena membayar oksigen yang dihirup, jika 1 tabung oksigen bisa dipakai untuk satu hari dengan harga 2 juta maka dalam sebulan saja mencapai 60 juta, satu tahun 1,8 M tidak pernah akan bisa.

Silahkan hitung berapa banyak energi yang Dia berikan melalui rotasi Matahari, memberikan cahayanya gratis tanpa henti, tanpa kenal lelah, tanpa pernah terlambat, memberikan energi untuk fotosintesis, membentuk protein sebagai dasar pembentukkan makhluk hidup. Bayangkan seandainya semua energi itu berasal dari PLN, berapa banyak kita harus membayarnya? Kalau Dia itu pemilik PLN lantas suplai listrik diputus karena telat membayar, telat bersyukur, telat beribadah kepada-Nya sudah siapkah?
Silahkan hitung seberapa banyak air yang telah Dia curahkan kepada kita, yang membuat kita bisa bertahan hidup. Ingatkah kalau lebih dari 70% tubuh manusia itu tersusun dari cairan? Berapa banyak air hujan tercurah yang membuat tanah menjadi subur, pohon bisa tumbuh, binatang bisa minum. Bayangkan seandainya Dia itu pemilik PAM sudah siapkah Anda jika bumi ini kering, meranggas. Lalu tubuh kita mengkerut, keriput, mongering karena kekurangan air lantaran Anda lupa membayar, lantaran Anda terlambat bersujud pada-Nya.
Silahkan hitung, berapa banyak waktu, kesempatan, kebebasan yang Dia berikan kepada kita untuk berkreasi, untuk menikmati indahnya alam semesta. Bayangkan seandainya tiba-tiba waktu itu berhenti, jatah waktu kita habis, berapa banyak yang akan kita berikan untuk menyuap malaikat maut aga memberikan perpanjangan waktu. (Apakah Anda berpikir mereka oknum birokrat, oknum hakim, oknum anggota DPR, oknum polisi di Indonesia..). Bayangkan berapa banyak yang harus Anda siapkan untuk bebas dari penjara. Berapa banyak yang harus kita keluarkan untuk membeli kesehatan agar memiliki kesempatan dan kebebasan dalam hidup. Subhanallah, Mahabesar dan Mahasuci Engkau. Astaghfirullah, ampuni kami yang belum mampu bersyukur atas semua nikmat-Mu.

Sumber : Islampos



JIKA ingin berhasil maka kita harus melakukan sebuah perubahan. Perubahan yang akan mengantarkan kita pada gerbang sebuah kesuksesan. Namun, perubaha itu tidak akan terwujud begitu saja, jika tidak ada gerakan dari diri sendiri. Hal yang pertama kali harus dilakukan agar kita dapat melakukan perubahan, ialah perbaikan pada akhlak. Ya, akhlak, merupakan kunci dari sebuah perubahan.
Akhlak adalah hal pertama yang biasanya dinilai oleh seseorang. Jika kita memiliki perilaku terpuji orang yang melihatnya pun akan tertarik pada kita. Dengan begitu cukup mudah untuk kita melangkah selanjutnya. Baik dalam bidang pekerjaan bahkan dalam hal mencari pasangan hidup.


Namun sebaliknya, jika kita memiliki akhlak yang tidak baik, maka ketika akan melangkah itu cukup sulit. Karena biasanya, seseorang yang memiliki akhlak kurang terpuji akan dijauhi oleh orang lain. Kalau pun ada yang mendekati, pasti yang memiliki akhlak serupa dengannya. Inilah yang menjadi penghambat kesuksesan.
Perbaikan pada akhlak tidak akan terwujud jika tidak ada niat dan tekad yang kuat pada diri kita untuk mewujudkannya. Karena, pendorong dalam hal perbaikan ialah berawal dari dalam diri sendiri. Faktor luar hanyalah pemberi semangat atau pun motivasi sebagai penguat diri kita untuk mencapai sebuah perubahan.
Jika kita lihat sekarang ini, kita sangat krisis akhlak. Banyak orang yang sudah tak perduli lagi dengan ketentuan yang harus dilakukan dalam bertingkah laku. Maka, bantulah mereka dengan mengubah akhlak kita terlebih dahulu. Barulah kita dapat mengajak mereka yang belum mengerti tentang akhlak yang baik itu seperti apa, hingga mereka paham dan mau melakukan perubahan.
Lakukan perubahan untuk masa depan yang lebih baik. Lakukan perubahan untuk menggapai impian. Lakukan perubahan untuk mencapai kesuksesan. Ubahlah akhlak dengan memantapkannya pada perilaku yang baik agar dapat melakukan perubahan itu. Karena akhlak yang baik, merupakan kunci dari sebuah perubahan ke arah yang baik pula. Wallahu ‘alam.
Sumber : Islampos

PASUKAN udara rezim Assad dikabarkan
menghancurkan sebuah masjid di Provinsi
utara Idlib pada Jum’at (20/3/2015) kemarin.
Setidaknya 15 orang gugur dalam peristiwa
tersebut. Menurut Komisi Revolusi Umum
Suriah, Insiden itu terjadi saat masyarakat
sunni tengah melaksanakan shalat Jum’at.
Masih menurut Komisi itu, puluhan orang juga
terluka di desa Muntif, demikian dilansir
Midleeastmonitor (MEMO).
Seperti diketahui, lembaga International baru-
baru ini mengkritik rezim Assad yang
menargetkan warga sipil. Mereka juga
mengatakan bahwa serangan harus diselidiki
sebagai kejahatan perang.
Perang Suriah ini telah memasuki tahun
kelima. Sejak 2011, setidaknya 220.000 jiwa
menjadi korban kekejaman rezim Assad,
demikian MEMO.

Sumber : islampos

MANUSIA memiliki kelebihan yang berbeda dibandingkan makhluk lainnya. Manusia diberi akal, sebagai pembeda derajatnya dengan makhluk lain. Akal tersebut dapat dipergunakan manusia untuk menjalani hidup ini sesuai dengan logikanya. Bahkan untuk memecahkan suatu masalah, yang paling berpengaruh adalah kekuatan akal.
Mari kali ini kita bersama-sama gunakan akal kita untuk merenungkan segala apa yang ada dalam diri kita dan apa yang terjadi dalam hidup kita selama ini. Satu hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia, yaitu mengingat nikmat yang telah Allah SWT berikan kepadanya.
Nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia itu tak terhingga. Mulai dari yang ada pada diri kita dari ujung rambut hingga ujung kaki, kesehatan badan, keamanan dan kecukupan sandang, pangan, air serta masih banyak lagi nikmat lainnya. Itulah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. “Sekiranya kalian menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan dapat menghitungnya.”
Demikian besar nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Dunia beserta isinya disediakan untuk kita. Segala apa yang dibutuhkan oleh kita untuk bertahan hidup, semuanya telah tersedia. Anda adalah pemiliki kehidupan, namun, Anda tidak menyadari akan hal itu. “Dia (Allah) telah memberikan nikmat-nikmat-Nya secara sempurna kepada kalian, baik yang lahir maupun yang batin.”
Anda telah diberi lidah dan bibir, kedua tangan dan kaki, “maka nikmat Tuhan yang manakah yang pantas kalian dustakan (wahai jin dan manusia)?” Apakah Anda berpikir bahwa berjalan dengan kedua kaki adalah hal biasa? Apakah terlalu mudah bertopang pada pangkal kaki sendiri, padahal masih banyak manusia lain yang kehilangan pangkal kakinya? Apakah Anda tidak merasakan nikmatnya tidur, sedangkan ada manusia lain yang mengidap penyakit insomnia? Anda masih bisa menyantap makanan dan minuman yang lezat, sedangkan banyak orang yang kini mengalami sakit, hingga ia tak bisa merasakan nikmatnya makan.
Renungkanlah! Pendengaran Anda bebas dari ketulian. Penglihatan Anda bebas dari kebutaan dan kulit Anda mulus, terhindar dari segala penyakit. Perhatika pula otak Anda. Allah SWT telah memberikan akal kepada Anda dengan kondisi yang baik. Tapi lihatlah sekeliling Anda, banyak orang yang kehilangan akal sehatnya sehingga ia berperilaku di luar kewajarannya.
Apakah Anda mau menggantikan penglihatan Anda dengan gunung Uhud yang terbuat dari emas? Apakah Anda mau menggantikan pendengaran Anda demi berkilo-kilo perak? Apakah Anda mau membeli istana penuh bunga dengan lidah, hingga menjadi bisu? Apakah Anda mau memberikan kedua tangan dan kaki Anda hanya demi butiran-butiran permata dan berlian?
Kini, Anda berada daam posisi yang penuh dengan kenikmatan. Sayangnya, Anda tidak menyadari itu. Bahkan, Anda terperangkap dalam kesedihan dan ketidak pastian, padahal Anda masih memiliki makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan, serta tidur nyenyak dan kesehatan yang stabil.
Anda memikirkan sesuatu yang telah hilang, tapi tidak mensyukuri apa yang ada di depan mata Anda. Anda merasa sedih karena kurangnya materi, padahal Anda masih memiliki setumpuk kebahagiaan, setumpuk kebaikan, kenikmatan dan masih banyak yang lainnya.
Oleh karena itu, renungkanlah apa yang ada pada diri dan sekeliling Anda. Dan jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT. Karena Allah SWT adalah pemberi nikmat yang sempurna. “Pada diri kalian juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Apakah kalian tidak memperhatikannya?” Wallahu ‘alam.
Sumber : islampos
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts