.

Kamis, 05 Maret 2015



ISLAM dalam memberikan hukuman kepada pelaku kejahatan tidaklah asal. Itu berarti hukum yang dibuat tentulah memberikan manfaat yang baik bagi pelaku dan juga orang lain. Dalam Islam, pemberian hukuman sebenarnya tidak terlalu berat, melainkan sesuai dengan kemaslahatan umat manusia.
Salah satu hukuman bagi pelaku kejahatan adalah hukum qishash. Apa itu qishash? Istilah dalam hukum Islam yang berarti pembalasan (memberi hukuman yang setimpal), mirip dengan istilah “hutang nyawa dibayar nyawa”. Al-Fayumi mengatakan bahwa kata qishash lebih sering digunakan dengan makna:
قَتْل الْقَاتِل وَجُرْحِ الْجَارِحِ وَقَطْعِ الْقَاطِعِ
“Membunuh orang yang membunuh, melukai orang yang melukai dan memotong (bagian tubuh) orang yang memotong.”
Sedangkan Syaikh Prof.DR. Shâlih bin Fauzân mendefiniskannya al-Qishâsh adalah perbuatan (pembalasan) korban atau walinya terhadap pelaku kejahatan sama atau seperti perbuatan pelaku tadi.
Dasar hukum diadakannya qishash ini terdapat dalam kitab suci al-Quran, di antaranya:
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qishash atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat maaf dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik,” (QS. Al-Baqarah [2]: 178).
“…dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim,” (QS. Al-Maidah [5]: 45).
Jadi, hukum qishash itu berlaku bagi setiap kejahatan yang dilakukan individu atau pun kelompok pada seseorang. Kejahatan yang dilakukan tentunya memberikan dampak yang buruk bagi korbannya. Maka, hukuman qishash ini jatuh ke tangan pelaku kejatahan yang telah merugikan korban. Meski demikian dikatakan Al Qur’an bila hak Qisas dilepaskan oleh korban maka itu menjadi penebus dosa bagi mereka. Keluarga korban dapat memaafkan pembunuh dan meminta penebus dalam bentuk materi.
HIKMAH qishash menurut Qur’an adalah untuk kelangsungan hidup manusia. “…dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa,” (al-Baqarah [2]: 179).
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm, menjelaskan, “Di dalam pensyariatan qishash terdapat hikmah besar untuk kalian, yaitu kehidupan bisa bertahan dan terlindungi. Sebab, jika seseorang tahu pembunuh itu akan dibunuh, maka ia akan tercegah dari perbuatan itu. Artinya, dalam yang demikian ada kehidupan bagi jiwa-jiwa manusia.”
Asy-Syaukani dalam Fath al-Qadîr mengatakan, “Seruan ini diarahkan kepada orang yang berakal sebab merekalah orang-orang yang melihat akibat-akibat dan membentengi apa yang mengandung bahaya nantinya. Adapun orang bodoh dan ceroboh, dalam potret kemarahannya dan keberaniannya yang mendidih, tidak melihat akibat dan tidak memikirkan perkara yang akan datang.”
Sifat memberi efek jera—yang bisa mencegah orang untuk melakukan kejahatan—bukan hanya dimiliki oleh hukuman qishash saja, melainkan ada pada seluruh sanksi hukuman dalam Islam. Efek jera ini akan efektif, sebab pelaksanaan eksekusi atas sanksi itu dilakukan secara cepat, tidak tertunda lama sejak diputuskan dan tidak berlarut-larut. Dalam Islam, vonis yang dijatuhkan pun harus segera dieksekusi. Kasih sayang terhadap pelaku tidak boleh menghalangi pelaksanaan hukum Allah SWT.
Dengan dekatnya waktu pelaksanaan vonis dan eksekusi maka masyarakat jelas masih ingat pelaku itu dihukum atas kejahatan apa. Efek jera atas kejahatan serupa pun kuat terbentuk. Efek jera ini makin efektif karena Islam mensyariatkan pelaksanaan sanksi hukuman itu tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi harus dilakukan secara terbuka, bisa disaksikan oleh masyarakat, sebagaimana yang diharuskan dalam pelaksanaan hukuman bagi orang yang berzina (QS an-Nur [24]: 2). []

Sumber:
id.wikipedia.org
www.fiqihkehidupan.com
hizbut-tahrir.or.id

PEMUKIM Yahudi Israel kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsha untuk melakukan ritual Talmud, Pusat Informasi Palestina melaporkan seperti dikutip Press TV.


Di tengah langkah-langkah keamanan yang ketat oleh pasukan Israel, sekitar 25 pemukim Yahudi menyerbu masjid Al-Aqsha pada hari Rabu pagi kemarin (4/3/2015).
Jamaah Palestina mencoba untuk mendorong mereka keluar dari halaman masjid setelah pemukim mendekati gerbang al-Rahmah, tapi jamaah gagal karena ada sejumlah besar polisi Israel melindungi para pemukim.
Selain itu, polisi Israel mencegah warga Palestina memasuki masjid untuk melakukan shalat sehari-hari mereka.
Insiden tersebut terjadi dengan latar belakang dari putusan pengadilan Israel pada tanggal 1 Maret lalu bahwa polisi Israel harus melindungi para pemukim Yahudi ketika mereka memasuki kompleks masjid Al-Aqsha.

Sumber : Islampos



Dalam siroh nabawiyah (riwayat perjalanan hidup Nabi besar Muhammad) tercatat bahwa Muhammad kecil pernah diajak oleh kawan-kawannya menghadiri kenduri pernikahan salah seorang warga Arab dusun. Biasanya di dalam acara itu terdapat nyanyi-nyanyian yang dilantunkan oleh para penyanyi. Seketika Muhammad ingin mendengar nyanyian itu gelaplah dunia dan ia diselimuti rasa kantuk. Ia baru bangun setelah acara walimahan itu selesai dan orang-orang sudah pada pulang.
Di kemudian hari, kembali kawan-kawannya mengajak Muhammad menonton acara walimahan plus nyanyian seperti waktu lalu. Akan tetapi Alloh kembali menjaganya dengan mengirimkan pasukan ‘ngantuk’ yang mengalahkan matanya dan lagi-lagi ia tertidur tanpa pernah mendengarkan nyanyian walimahan itu.
Jelas sudah bahwa salah satu hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa di atas adalah keinginan Alloh menjaga pendengaran Nabi Muhammad dari hal-hal yang sia-sia dan diharamkan. Pendengaran merupakan pintu masuk utama ilmu pengetahuan. Orang bisa mengetahui suatu ilmu karena ia mendengarkan sebuah informasi yang bermanfaat. Bisikan tercipta dari mendengarkan suara-suara di luar sana. Bisikan positif yang menggerakkan hati mampu berbuat kebaikan asalnya adalah suara-suara positif yang didengarkan seseorang melalui telinganya. Anak kecil bisa bertutur kata halus dan sopan karena ia mendengar tutur kata halus nan lembut dari kedua orang tuanya di rumah. Jadi jangan pernah remehkan yang namanya mendengar.
Konon katanya, ada dua anak pelajar kelas 6 Sekolah Dasar yang selalu terlambat dalam mencapai garis finish dalam lomba lari pada pelajaran olahraga. Teman-temannya yang lain sering mencemooh dua anak ini. Yang pertama sehat pendengarannya yang kedua rada tuli. Yang kedua ini jika belajar memang menggunakan alat bantu dengar. Tetapi jika pelajaran olahraga ia selalu melepasnya. Menjelang garis finish kedua anak tadi kelihatan saling mengejar untuk mencapai garis akhir itu dan mereka melihat teman-temannya di ambang garis itu sedang mencemooh mereka. Anak yang pertama mendengarkan cemoohan itu sangat nyaring di telinganya: “Dasar lamban! Kura-kura berlari! Siput merayap!”. Sementara itu anak yang kedua mendengarkan teman-temannya sedang menyemangatinya: “Ayo, kamu bisa! Kamu cepat! Kamu gesit! Maklum ia tidak mendengar, jadi hanya menyangka saja. Apa yang terjadi selanjutnya? Anak yang kedua dengan gesitnya mencapai garis finish jauh meninggalkan anak yang pertama. Jadi jangan pernah anggap enteng yang namanya mendengar.
Alloh menjelaskan bagaimana seorang yang pintar itu mendengar:
فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ  (18)
sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (17) yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya . Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (18) (Surat Az-Zumar). Wahbah Az-Zuhaili menafsirkan ayat ini: “Yaitu, orang-orang yang mendengarkan perkataan yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah, lalu mereka melaksanakan perintah yang terbaik dan mengamalkan yang paling banyak pahalanya”[1]. Dengan kata lain, kita katakan: informasi-informasi sangat banyak beterbangan di dunia. Manusia mendengarnya dari televisi, dari radio atau dari ceramah-ceramah. Informasi yang terbaik di antara seluruh informasi itu tentunya adalah yang datangnya dari Alloh dan Rosul-Nya, itulah Al-Quran dan Sunnah. Di dalam Al-Quran dan Sunnah itu terdapat ayat-ayat yang paling banyak nilai pahalanya jika dikerjakan dibandingkan dengan ayat-ayat yang lain yang juga terdapat di dalam Al-Quran dan Sunnah itu. Contohnya adalah ayat yang menyuruh sedekah, tentu pahalanya lebih banyak jika dikerjakan ketimbang ayat yang menyuruh sholat sunnah. Sebabnya adalah sedekah itu manfaatnya lebih meluas dan merata dirasakan oleh berbagai makhluk dibandingkan sholat sunnah yang manfaatnya terbatas hanya untuk dirinya sendiri.
Ada sebuah bukti yang mungkin bisa mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa ibunya Imam Asy-Syafi’i adalah seorang wanita yang hafal Quran dan mengerti maknanya. Suatu hari, ibu Imam Syafi’i memberikan kesaksian beserta seorang wanita lain dan seorang laki-laki. Sang hakim lalu berkata kepada ibunda Syafi’i: “tunggulah di ruangan itu sebentar wahai nyonya, aku ingin bertanya kepada wanita ini dulu!”. Serta merta ibunda Syafi’i menyela: “jika tuan hakim lakukan itu, berarti tuan keliru, bukankah Alloh berfirman:
... أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى  ... (البقرة : 282)
… supaya jika seorang (wanita pemberi saksi itu) lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya … (Al-Baqoroh : 282). Maka hakim itu kembali mengumpulkan ibunda Syafi’i beserta wanita itu dalam satu ruangan. Yang ingin disampaikan di sini adalah kisah tentang Imam Syafi’i yang telah mampu mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 30 juz dengan hafalan. Prestasi seperti ini mustahil tercapai jikalau ibunya tidak memperdengarkan bacaan al-Quran sejak Syafi’i dalam kandungan. Itulah keajaiban mendengarkan bacaan al-Quran.
Sekarang ini, para ahli psikologi menganjurkan janin-janin yang berada di dalam kandungan untuk diperdengarkan lagu-lagu klasik Mozart agar perkembangan otaknya menjadi bagus. Benarkah demikian hasilnya? Sebagai seorang muslim tentu berkeyakinan diperdengarkan lantunan murattal al-Quran apakah lewat sang ibu atau bapaknya yang membaca al-Quran dengan suara keras di samping janin atau menyetel kaset tilawah jauh lebih baik dan bahkan berpahala di akhirat kelak. Bahkan bukan tidak mungkin anak yang dibiasakan seperti ini nantinya akan dengan sendirinya mencintai bacaan al-Quran dan sebagai orang tuanya kita tidak repot-repot lagi membentak-bentak si anak untuk mau sekedar membaca al-Quran.
Suara al-Quran ini, sesungguhnya memiliki energi positif yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Baru mendengar suaranya saja, orang kafir bisa tunduk dan insaf lalu dengan sepenuh hatinya menerima Islam sebagai agamanya. Di antara orang yang memeluk Islam karena mendengar bacaan al-Quran adalah sahabat besar bernama Mush’ab. Ia mendengarkan langsung bacaan al-Quran dari lisan Rosululloh –Shollallahu ‘alaihi wa Sallam- sewaktu masih berda’wah sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqom. Uniknya lagi, Mush’ab di kemudian hari menjadi da’i pertama yang Rosululloh tugaskan untuk membagi hidayah Islam kepada penduduk kota Madinah. Saat itu gelar yang Mush’ab sandang adalah ‘Muqri Al-Madinah’ yang artinya adalah pembaca al-Quran kota Madinah. Jadi hanya dengan dibacakan al-Quran, Madinah berubah menjadi kota ilmu, dimana para penduduknya menjadi penyandang akhlak yang mulia yang menjadi panutan bagi dunia. Walaupun tentu saja di zaman sekarang dimana orang tidak perhatian lagi dengan bahasa Arab, al-Quran tidak cukup dibacakan saja. Namun lebih dari itu ia harus diterjemahkan dengan bahasa yang difahami oleh zaman sekarang. Dan yang paling efektif adalah disuarakan dan divisualisasikan melalui televisi, internet dan radio, melihat minat masyarakat sekarang yang tidak begitu gandrung lagi membuka lembaran-lembaran kertas.
Sven Mann, seorang berkebangsaan Jerman, menceritakan pengalamannya masuk Islam. Dulunya ia adalah anggota gangster yang membikin resah masyarakat. Kisahnya bisa dini’mati di dalam situs youtube dengan judul: "Pseudo gangster" cries when listening to Quran - A German Convert to Islam. Seorang wartawan bertanya kepadanya: bagaimana kamu berpindah ke dalam Islam? Sebelum aku menjawabnya, aku ingin meluruskan pertanyaan saudara. Seseorang itu bukan berpindah ke dalam Islam sebab Alloh menciptakan semua manusia ini memang sudah Islam sejak mulanya. Jadi yang tepat adalah bagaimana kamu kembali menjadi muslim? Saya katakan: “Saya menjadi muslim karena mendengar bacaan al-Quran yang dilantunkan oleh seorang anak kecil di dalam sebuah masjid. Ketika itu saya sedang melewati masjid itu lalu kedengaranlah suara yang tidak saya fahami bahasanya dan tidak saya mengerti maknanya akan tetapi anehnya hati saya bergetar demi mendengarnya, seolah-olah hati saya telah mengenalnya sejak lama”. Sejak itulah ia mulai mendekati Islam dan akhirnya kembali kepada Islam. Pemuda berkulit putih berperawakan tinggi ini mengungkapkan bahwa esensi menjadi muslim adalah menjadikan seluruh perbuatan, perkataan, hati dan sikap di bawah keinginan Alloh –Subhanahu wa Ta’ala-.
Sementara dalam hal ilmu kesehatan, mendengarkan bacaan al-Quran ternyata dapat mengurangi rasa sakit wanita ketika bersalin (melahirkan anak). Inilah beritanya yang diambil dari Ika Permana dalam http://publikasi.umy.ac.id/index.php/psik/article/view/2404:               Nyeri persalinan merupakan sensasi yang tidak menyenangkan, bersifat subjektif, dan bagian normal dari proses persalinan akibat terstimulasinya saraf sensorik. Nyeri  persalinan pada kala I disebabkan oleh ditalasi dan penipisan serviks. Terapi Nonfarmakologi dapat digunakan untuk mengurangi nyeri persalinan. salah satunya dapat  menggunakan tehnik distraksi dengan mendengarkan Ayat Suci Al-Quran. Mendengarkan Ayat Suci Al-Quran dapat menstimulus gelombang  delta yang menyebabkan pendengar dalam keadaan tenang, tentram, dan nyaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mendengarkan Al-Quran terhadap tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif pada primipara. Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi-experiment dengan rancangan yang digunakan adalah  pretest-posttest with control group. Jumlah sampel adalah 30 responden yang diambil secara  purposive sampling. Sampel dibagi dalam 2 kelompok, yang terdiri dari kelompok eksperimen sebanyak 15 responden dan kelompok kontrol sebanyak 15 responden. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa mendengarkan Ayat Suci Al-Quran. Pengumpulan data didapatkan melalui data primer dengan menggunakan skala nyeri Verbal Decriptor Scale dan Wong Baker Faces Pain Rating Scale. Data  yang terkumpul kemudian diolah dengan   menganalisis data menggunkaan uji statistik Wilcoxon dan Mann-Withney.
Hasil penelitian menunjukan penurunan tingkat nyeri persalinan pada kelompok ekperimen adalah nyeri berat sebanyak 10 orang (66,70%) sebelum di perdengarkan Al-Quran (pre test) dan nyeri sedang sebanyak 7 orang (46,70%) setelah diperdengarkan Al-Quran (post test). Tingkat nyeri persalinan kelompok kontrol adalah nyeri berat sebanyak 8 orang (53.30%) pada penilaian awal (menit ke-I) dan setelah 20 menit responden mengalami nyeri berat sebanyak 10 orang (66,70%). Penurunan tingkat nyeri persalinan diuji menggunakan Wilcoxon dengan derajat kemaknaan P<0,05, didapatkan hasil kelompok ekperiment P=0,001 dan kelompok kontrol P=0,414. Kesimpulan penelitian ini menunjukan bahwa mendengarkan Al-Quran dapat menurunkan tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif pada primipara.
Suara al-Quran yang dilantunkan, ternyata mampu membuat lingkungan menjadi bersemangat dalam berlomba kebaikan. Contohnya di wilayah Jalan Bangka Jakarta Selatan. Pada tahun 1990 hanya ada satu masjid yang mengadakan sholat tarawih berjamaah membaca satu juz tiap malamnya, yaitu masjid al-Hikmah. Lalu di tahun 1999, jarak sekitar 500 meter dari masjid al-Hikmah, masjid at-Taqwa mengadakan sholat tarawih berjamaah dengan membaca satu juz juga setiap malamnya bulan Romadhon. Lalu di tahun 2010, jarak sekitar 500 meter dari masjid at-Taqwa, masjid Nurul Islam juga menyelenggarakan hal yang sama. Jarak waktunya berarti kurang lebih 10 tahun, sebaiknya labih dipercepat lagi. Dan mungkin inilah yang Alloh firmankan dalam surat an-Naml ayat 8 dan 9:
فَلَمَّا جَاءهَا نُودِيَ أَن بُورِكَ مَن فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (8) يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9)
Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". (8) (Allah berfirman): "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (9) (An-Naml). Perhatikanlah kata-kata Alloh ini: “telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang berada di sekitarnya”. Tempat apakah itu? Tempat apa lagi kalau bukannya tempat turunnya firman-firman Alloh kepada Musa ‘alaihi as-Salam? Begitu juga al-Quran, sebagai firman-firman Alloh yang Dia turunkan kepada nabi Muhammad dan masih bisa kita baca 100 persen sesuai dengan yang dahulu Dia turunkan di Arab. Jika kita baca di lingkungan kita, maka lingkungan itu akan menjadi penuh kebaikan dan akan menjalar ke tempat-tempat yang di sekitarnya.

[1] Wahbah Az-Zuhaili, Al-Mausu’ah Al-Qur’aniyyah Al-Muyassaroh (diterjemahkan: Buku Pintar Al-Quran Seven in One), hlm. 461, penerbit: Al-Mahira.
Tidur selama delapan jam setiap hari atau hampir setiap hari, sudah lama diangggap sebagai rentang waktu tidur yang ideal ….

Tidur selama delapan jam setiap hari atau hampir setiap hari, sudah lama diangggap sebagai rentang waktu tidur yang ideal sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh manusia. Tetapi penelitian baru mengatakan, bila tidur selama itu jika dilakukan setiap hari atau hampir setiap hari, justru lebih dapat mempersingkat masa hidup. Sebuah studi yang dilakukan atas lebih dari satu juta orang yang tidur delapan jam atau lebih dalam sehari menunjukkan mereka meninggal di usia yang lebih muda dari rekan-rekan mereka yang tidur jam lebih sedikit.
Sebagaimana tidur empat jam setiap hari atau hampir setiap hari, juga kemungkinannya untuk meninggal lebih cepat. Tapi mereka yang tidur enam jam sehari, menurut penelitian dapat hidup lebih lama. Para ilmuwan di University of California, studi ini menunjukkan hubungan antara jangka waktu tidur dan tingkat kematian yang tinggi. Namun, tim peneliti belum berhasil mendapat jawaban di balik hubungan ini.
Profesor Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughborough mengatakan bahwa mereka yang berpendapat tidur lama, itu tidak benar. Kami dapat mengkonfirmasi bahwa tidur enam atau tujuh jam satu hari sudah cukup lama. Jarak waktu atau jam tidur yang dibutuhkan oleh tubuh adalah jika Anda dalam kondisi terjaga lalu merasa ingin untuk tidur di siang hari.
Keterangan Gambar :
Para ilmuwan menerangkan peran sangat penting dalam memfungsikan pikiran secara aktif melalui penelitian pada kucing. Fungsi pikiran aktif karena tidur itu akan lebih memiliki implikasi besar bagi manusia yang ingin meningkatkan kemampuan belajar dan memori mengingat mereka. Percobaan pada kucing menunjukkan peningkatan kinerja otaknya jika dia tidur dengan baik, di mana mereka menjadi lebih kuat dan lebih aktif dan bergerak. Tes dilakukan pada perubahan yang terjadi dalam otak kucing. Seekor kucing matanya ditutup selama enam jam, dan kucing lainnya dalam kondisi melihat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pikiran kucing tidur (ditutup matanya) selama enam jam mengalami perubahan aktifitas otak secara drastis dan lebih mudah beradaptasi daripada kucing yang belum tidur.
Lagi-lagi, kita ucapkan Subhanallah. Al Quran telah diturunkan di tengah masa, dimana banyak sekali utopi yang menyebutkan bahwa tidur dalam waktu lama itulah yang paling baik. Sampai datang peelitian di abad 21 yang menegaskan bahwa waktu tidur yang pendek itulah yang lebih baik untuk manusia. Bukankah ini seperti yang telah ditegaskan dalam Al Quran di banyak ayat-ayatnya saat menerangkan tentang salah satu kebiasaan orang-orang yang bertakwa:

(كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ)
[الذاريات: 17-18]
Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat : 17-18)
Seperti itu juga Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk tidak banyak tidur, dan mengganti apa yang telah dikurangi dari waktu tidur di malam, pada waktu siang. Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ * قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا * نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا * إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا * إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا * إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا [المزمل: 1-7]
Hai orang yang berselimut (Muhammad), angunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS. Al Muzzammil : 1-7)
Dalam ayat ini dijelaskan perintah untuk tidak banyak tidur di waktu malam, dan menggantikannya di waktu siang. Ini juga menegaskan apa yang telah ditemukan para peneliti saat sekarang. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa serangan jantung umumnya datang setelah pagi hari sampai terbitnya matahari. Kita jadi mengerti kenapa Nabi yang mulia itu melewati waktu paginya hingga matahari terbit, dengan berdzikir, bertasbih dan tilawah Al Quran.
Ada lagi penelitian lain yang menjelaskan bahwa bangun di tengah malam itu bermanfaat bagi kesehatan, khususnya bagi jantung. Tidur yang panjang akan merusak dan membahayakan jantung. Jantung terkadang kekurangan oksigen akibat tidur yang terlalu lama, dan karenanya para ilmuwan mengatakan: ”Bangun di malam hari, meski hanya satu kali, itu bermanfaat bagi jantung untuk memasok pasokan oksigen yang memadai dan untuk menghindari kematian mendadak.
Subhanallah. Ini juga telah dikonfirmasikan oleh Al-Quran dan Rasulullah saw, ketika ia bangun di malam hari untuk tafakkur terhadap penciptaan Allah swt, dan melakukan shalat malam.
Tidur di Siang hari, Sama Pentingnya dengan Tidur di Malam Hari
Para peneliti mengatakan tidur siang hari sebentar --yang disebut dalam Islam dengan istilah qailulah--  itu sangat berguna, sama seperti tidur di malam hari. Mereka mengatakan, bahwa dari perspektif perbaikan sikap dan perilaku, tidur siang berguna, sama sebagaimana tidur malam, terkait dengan fungsi kognitif seseorang. Sebuah tim peneliti dari  Universitas Lübeck, Jerman, melakukan tes diagnostik pada 52 sukarelawan. Para sukarelawan diminta untuk tidur dalam rentang waktu tertentu, tanpa membedakan waktu siang ataupun malam. Dan hasilnya, kondisi mereka sama dan tidak berbeda.
Di sini kita diingatkan kembali ingat dengan apa yang disampaikan oleh Al Quranul Karim, untuk tidur di malam dan siang hari. hari Bahkan tidur siang sebentar itu tidak kalah pentingnya sebagaimana tidur malam.
 (وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ)
Dan di antara ayat-ayat-Nya tidur di malam hari dan siang hari.”
Ini adalah tanda keajaiban Al Qur'an sebagai kitab yang diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Karena informasi ini baru bagi para ilmuwan, bahkan mereka tidak tahu pentingnya tidur siang kecuali di abad ke dua puluh satu. Sedangkan Al Quran telah menekankan pentingnya tidur malam da siang, sebagai suatu keajaiban dan tanda kekuasaaan Allah, sejak empat belas abad lalu!
Subhanallah. Apakah setelah semua fakta ini masih ada yang mengatakan bahwa Al Quran adalah karangan manusia?

Memori Otak Lemah, Saat Seseorang Baru Saja Bangun Tidur
Para ilmuwan Universitas Harvard melakukan penelitian terkait hubungan antara memori ingatan dan tidur. Mereka menggunakan alat scan resonansi MRI fungsional magnet, hingga mereka mendapati adanya aktivitas otak di kawasan yang spesifik. Kemudian aktifitas itu bergerak ke wilayah kedua dan begitulah seterusnya bahwa otak melakukan penataan informasi, berkoordinasi, dan menyimpan informasi sehingga mudah diambil kembali setelah seseorang bangun dari tidur. Namun studi selanjutnya menunjukkan bahwa fokus otak seseorang ada pada tahap minimum ketika ia baru saja bangun tidur. Dibutuhkan waktu antara 15-30 menit untuk dapat mengembalikan kemampuan pikiran. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar seseorang segera setelah bangun tidur melakukan beberapa latihan ringan untuk memulihkan aktivitas otak.
Di sini, kita juga bisa memahami mengapa Nabi saw banyak mengingat Allah langsung setelah bangun dari tidur. Beliau kemudian berwudhu, berdo’a, lalu shalat. Jadi beliau menggunakan bagian waktunya setelah tidur untuk berdo’a dan berdzikir, sebelum melakukan aktifitas lain atau menentukan keputusan. Jika kita kaji pandangan para ilmuwan dewasa ini, mereka menegaskan bahwa memori manusia berada pada posisi terendah setelah baru saja bangun dari tidur. 
Para peneliti memperingatkan dokter yang berjaga malam, juga petugas pemadam kebakaran dan pekerja di malam hari yang pekerjaannya membutuhkan pengambilan keputusan penting setelah bangun. Disarankan mereka untuk tidak mengambil keputusan atau tidak mengambil tindakan apapun sampai setelah seperempat jam setelah bangun tidur.
Itu sebabnya Allah swt berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
  [الزمر: 42]
Ayat ini menjelaskan tentang pentingnya tidur dan kaitan antara tidur dengan mati. Karena itu, kita harus perhatikan kondisi tidur kita, dengan berdzikir kepada Allah swt sebelum tidur dan setelah bangun dari tidur. Bercermin pada apa yang dilakukan Rasulullah saw.
Apa Pelajaran yang Kita Petik dari Studi ini?
1. Jangan terlalu banyak tidur, dan bangunlah di saat shalat subuh. Ini akan menambah kekuatan jantung dan meningkatkan kesehatan serta menambah kegairahan untuk beraktifitas. Gantilah sebagian kekurangan tidur kita di waktu malam dengan tidur sejenak di waktu siang.
2. Manfaatkan waktu tidur kita dengan mendengarkan tilawah Al Qur'an murattal. otak akan bekerja menyimpan ayat-ayat yang dibacakan itu saat kita tidur. Ini adalah slah satu cara untuk membantu kita menghafal Kitabullah. Saya menerapkan cara ini dan saya telah mampu menghafal Al Quran tanpa kesulitan yang berarti. Alhamdulillah.
3. Hal pertama yang harus dilakukan setelah bangun langsung adalah berdo’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw,
الحمد لله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami dikumpulkan
Lalu berwudhulah, shalat dan bacalah Al Quranul karim selama sekitar 15 menit minimal. Aktifitas seperti ini akan menambah kemampuan kita untuk bisa tepat mengambil keputusan penting dalam hidup.
Akhirnya, saya memohon kepada Allah swt agar mengokohkan kita di atas kebenaran ini. Menjadikan seluruh kemukjizatan ini sebagai sarana yang bisa meyakinkan hati siapapun yang ragu terhadap hakikat Islam. Agar mereka mengetahui kemuliaan agama ini. Agar mereka tahu kasih sayang yang telah dibawa Rasulullah saw.
Saya tutup artikel ini, dengan firman Allah swt:
 (وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ) [الروم: 23]
--------------------
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel



MANUSIA diciptakan oleh Allah SWT tidak mungkin hanya cuma-cuma. Pasti ada suatu hal yang harus dilakukan oleh setiap insan di muka bumi. Ada peran penting yang harus dijalani. Apakah itu?

Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman, ‘Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’,” (QS. Al-Baqarah: 30).

Itulah tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini. Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Setiap insan tentu menjadi khalifah. Dan untuk menjadi khalifah itu tidaklah mudah.
Malaikat pun tidak yakin bahwasanya kita (manusia) dapat menjadi khalifah di muka bumi; Karena apa? Manusia memiliki hawa nafsu yang sangat tinggi. Dan ketika menusia mengikuti hawa nafsunya, maka pertumpahan darah pun akan terjadi. Walau itu sesama saudaranya sendiri.
Itu yang menjadi kelemahan manusia. Tapi, ada sesuatu yang tersembunyi yang menjadi kehebatan manusia dibandingkan makhluk lainnya, sehingga manusia dapat menjadi khalifah di muka bumi. Salah satu kehebatannya ialah mempunyai akal atau pikiran.

Ya, dengan menggunakan akal atau pikirannya, maka manusia dapat membedakan mana yang baik untuk dirinya dan mana yang buruk untuk dirinya. Berdasarkan pengalaman atau apa yang manusia ketahui maka itu menjadi tolak ukur manusia dalam mempertimbangkan sesuatu. Dengan begitu manusia dapat menciptakan suatu ilmu tertentu untuk kelangsungan hidupnya di muka bumi.
Itulah mengapa Allah mencipatakan manusia sebagai khalifah. Karena manusia mempunyai akal atau pikiran yang dapat menuntunnya ke jalan kebaikan. Jika manusia tidak mengikuti hawa nafsu, maka tujuan sebagai khalifah itu akan terwujud, jika tidak maka tidak ia telah gagal menjadi seorang khalifah. Wallahu ‘alam

Sumber : Islampos

Selasa, 03 Maret 2015

MENTERI Luar Negeri AS John Kerry membela Israel di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada hari Senin kemarin (2/3/2015). Dan dirinya mengecam 47 anggota DK PBB yang terlalu berlebihan menentang Israel, lapor Anadolu Agency.

“Ada bias yang berlebihan dalam penilaian kami pada satu negara,” kata Kerry kepada wartawan di Jenewa setelah berpidato di Dewan HAM PBB. “AS akan menentang setiap upaya dari kelompok atau peserta yang menyalahgunakan sistem PBB untuk mendelegitimasi atau mengisolasi Israel.”
Badan-badan PBB dilaporkan semakin kritis terhadap pendudukan Israel di wilayah Palestina dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan negara zionis tersebut.
Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergey Lavrov juga mengadakan pembicaraan di Jenewa pada saat korban tewas di Ukraina melebihi 6.000 orang, menurut laporan PBB yang dirilis Senin kemarin.
Kerry mengatakan ia menegaskan perlunya implementasi penuh perjanjian Minsk, yang ditandatangani antara pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia pada 12 Februari lalu.
“Jika itu tidak terjadi, maka akan ada konsekuensi pasti yang akan menempatkan tekanan lebih lanjut pada perekonomian Rusia yang sudah bermasalah,” tegas Kerry.

Sumber : Islmapos


MAUT akan hadir pada setiap manusia. Hanya saja, kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi. Pengetahuan tentang kapan hidup kita akan berakhir di dunia ini, tidak pernah kita ketahui. Terkadang ada yang sakit parah, namun belum juga mautnya tiba. Tapi, ada orang yang memiliki kesehatan yang cukup baik, tiba-tiba mautnya tiba begitu saja. Itulah maut, tak dapat diprediksi sebelumnya.
Manusia tidak memiliki pengetahuan mengenai kapan ajal menjemputnya, karena pengetahuan tentang hal itu hanya milik Allah semata. Pengetahuan ini merupakan salah satu kunci kegaiban yang khusus milik Allah.
Allah berfirman, “Dan pada sisi-Nya kunci-kunci kegaiban. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia,” (QS. Al-An’am: 59). Dan, “Sesungguhnya Allah memiliki ilmu tentang hari kiamat. Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidaklah seorang pun tahu apa yang akan diperbuatnya besok, dan tak seorang pun tahu di bumi mana ia akan meninggal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi,” (QS. Luqman: 34).
Imam Bukhari dalam shahihnya meriwayatkan hadis dari Ibn Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kunci-kuci kegaiban ada lima. Tak ada yang mengetahuinya selain Allah.” “Sesungguhnya Allah memiliki ilmu tentang hari kiamat. Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidaklah seorang pun tahu apa yang akan diperbuatnya besok, dan tak seorang pun tahu di bumi mana ia akan meninggal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi.”
Ahmad, Tirmidzi, dan lain-lain meriwayatkan hadis dari sejumlah sahabat bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah berkehendak untuk mengambi roh seorang hamba di suatu tempat, maka Allah menjadikannya memiliki hajat di tempat itu.
Sumber: Ensiklopedia Kiamat/Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi

BERIBADAH menjalankan perintah Allah, sungguh sangat mulia. Namun bagaimanakah jika shalat yang kita lakukan melebihi apa yang dicontohkan oleh Rasul? Apa akibatnya jika seorang yang melakukan ibadah secara berlebihan?
Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Bagi sebagian orang ibadah baginya adalah suatu hal yang terpenting. Sampai ada pula orang yang melakukan ibadah diawali dari hal yang terberat, padahal dengan kita melakukan ibadah dari hal yang kecil atau ringan maka kita akan mencapai tingkat yang terberat. Daripada kita melakukan dari hal yang terberat kemungkinan kita akan merasakan yang namanya kejenuhan beribadah.
Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Alhaula binti Tuwait berjalan bersamanya. Disampingnya juga ada Rasulullah Saw, lalu Aisyah ra berkata, “Ini adalah Alhaula binti Tuwait, orang-orang mengatakan bahwa dia tidak tidur pada malam hari.”, maka Rasulullah bersabda, “Dia tidak tidur pada malam hari ?, kerjakanlah amal seberapa yang kamu mampu. Demi Allah, Tuhan tidak akan bosan hingga kamulah yang bosan,” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thabarani).
Sesungguhnya Allah itu memudahkan bagi kita dalam menjalankan agama. Allah tidak mempersulit bagi orang-orang yang ingin menempuh jalan kebenaran. Kemudahan dalam beragama merupakan nikmat yang diberikan kepada kita.
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS. Al-Baqarah 185)
Oleh karena itu, janganlah memberatkan diri dalam menjalankan ibadah. Tidak baik berlebih-lebihan dalam beramal sampai-sampai memberatkan diri sendiri. Sesungguhnya orang yang memberatkan dirinya dalam beribadah berarti ia telah menyalahi hakikat Islam. Bukankah Rasulullah Saw, telah bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Janganlah seorangpun memberatkan agama kecuali menguasainya. Maka luruskanlah, berlakulah wajar dan bergembiralah. Mintalah pertolongan pada waktu yang lapang di pagi hari dan sedikit di malam hari,” (HR. Bukhari, An Nasai dan Ahmad)
Kita wajib menyederhanakan amal ibadah. Namun tidak boleh mengurangi dari kadar yang telah ditentukan. Kita juga dilarang untuk melebih-lebihkan. Artinya beribadahlah sesuai dengan kewajaran. Allah SWT tidak menjamin pahala bagi orang yang memaksakan diri menunaikan ibadah. Seperti seseorang yang memaksakan diri dalam menjalankan amalan-amalan sunnah secara berlebih-lebihan, sampai melupakan kewajiban utama. Ibadah yang berlebih-lebihan menyebabkan seseorang menjadi cepat bosan. Yang akhirnya timbul rasa malas dan ujung-ujungnya sama sekali enggan melaksanakannya.
Sesungguhnya agama Islam menghendaki agar umat ini bisa bahagia dunia dan akhirat. Islam tidak menghendaki seseorang hanya mengejar kebahagiaan akhirat saja, sementara kehidupan dunianya menyedihkan. Oleh karena itu di dalam beribadah, Islam mengatur waktu-waktu tertentu. Kita diberi waktu kapan untuk menunaikan kewajiban duniawi dan kapan menunaikan kewajiban ukhrawi.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qashash 77).
Diriwayatkan bahwa ada tiga orang yang mendatangi istri Nabi Saw, mereka saling menceritakan amal ibadah yang dilakukannya. “Sesungguhnya aku shalat malam selama-lamanya”. Ada yang berkata, “Aku berpuasa sepanjang masa dan tidak berbuka”. Yang lainmengatakan,”Aku menjauhi wanita dan tidak akan menikah untuk selama-lamanya”. Kemudian Rasulullah Saw datang dan mendengar ucapan mereka. Rasulullah Saw bersabda, “Benarkah yang mengatakan demikian. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih takut kepada Allah daripada kalian. Namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat, aku tidur, dan aku mengawini wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka bukanlah dari umatku,” (HR. Bukhari dan Muslim)
Haula, adalah wanita shalihah pada jaman Nabi Saw. Ia memaksakan diri beramal ibadah kepada allah. Ia merasa bahwa dengan ibadahnya yang berlebih-lebihan itu menjadikan dirinya mulia dihadapan Allah. Bayangkan dia tidak tidur di malam hari dan tegak menunaikan shalat. Ketika siang haripun sibuk berpuasa dan tegak berdiri untuk shalat, bahkan duduk tafakur tak kenal waktu. Ia menyangka dengan melakukan demikian itu dirinya menjadi lebih mulia. Namun sesungguhnya Islam tidak menghendaki seperti itu. Justru apa yang dilakukannya itu menyalahi petunjuk islam. Bukankah Islam menyuruh umat untuk hidup seimbang, dan tidak melampaui batas.
Seandainya Islam menyuruh manusia untuk mengejar kepentingan akhirat saja, barangkali rasulullah tidak menegur Haula. Padahal ketika Aisyah memperkenalkan, “Inilah Haula, orang bilang ia tidak pernah tidur malam”. Lalu Rasulullah menimpali dengan heran, “Dia tidak tidur malam?”. Selanjutnya Rasulullah Saw memperingatkan agar Haula beribadah secara wajar, tidak berlebih-lebihan. Karena kewajaran itu akan menghasilkan kebaikan.
Maka adapun akibat dari suatu amalan ibadah yang  berlebihan sesuai dalam sabda Nabi SAW, “Semoga binasa orang-orang yang berlebih-lebihan dalam menjalankan ibadah,” beliau mengutarakan demikian sampai tiga kali,”(HR. Muslim)
Sesungguhnya Islam tidak serumit agama-agama lainnya. Islam cukup sederhana dan tidak menyulitkan bagi pemeluknya dalam menjalankan ibadah. Kita tidak boleh melakukan ibadah secara berlebih-lebihan dan memaksakan diri. Tetapi juga tidak boleh mengurangi aturan yang sudah ditentukan

 Sumber: Koleksi Hadist dan Sikap Pribadi Muslim/Karya: Muslich Maruzi/Penerbit: Pustaka Amani-Jakarta]



KEDAMAIAN Muslim dunia ini seiring sudah memudar oleh perbuatan kejinya para kaum Yahudi. Sekarang ini bangsa Yahudi memiliki daulah di Baitul Maqdis. Mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka membunuhi kaum wanita, orang tua, anak-anak yang tidak mampu apa-apa dan tidak dapat melarikan diri. Mereka membakar tempat isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan merobek-robek kitabullah. Mereka melakukan kejahatan di mana-mana hingga mencapai puncaknya.
Mereka menyebarkan kenistaan, kemaksiatan, kehinaan, pertumpahan darah, pelecehan kehormatan kaum muslimin, penyiksaan dan pelanggaran perjanjian.
Jadi, aksi pengerusakan yang kedua sedang berlangsung sekarang dan telah mencapai titik klimaks dan telah mencapai puncaknya. Sebab tidak ada lagi aksi pengerusakan yang lebih keji daripada yang berlangsung sekarang.
Ibnu Umar r.a meriwayatkan berita gembira lainnya dalam sebuah hadits yang berbunyi, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Orang yahudi akan memerangi kalian, lalu kalian dapat mengalahkan mereka. Kemudian sebuah batu akan berkata: ‘Hai orang Muslim, ini orang yahudi di belakangku, bunuhlah dia.”
Dalam hal ini apakah batu dan kayu itu memberi tahu umat islam dengan menggunakan perkataan sebagai tanda kekuasaan Allah , dan bagi Allah mentakdirkan hal semacam itu tidaklah sukar ataukah dengan isyarat? Bagaimanapun juga, maksud hadits tersebut segala sesuatu akan menunjukkan dan memberi tahu di mana orang-orang Yahudi berada.
Maksud hadits tersebut tetap bahwa kemenangan akan berpihak kepada umat islam untuk melawan orang-orang Yahudi yang menjadi musuh kaum Muslim.
Dalam sebuah perkataan Hadits pun dijelaskan bahwa akan datang masa sebelum datangnya hari kiamat bahwa kaum muslimin dan bangsa Yahudi akan mengalami peperangan besar dan ini adalah suatu hal yang pasti akan terjadi.
Bangsa Yahudi akan dibantai oleh kaum muslimin, dan hal ini terjadinya di bumi Palestina, dan saat itu seluruh pepohonan dan bebatuan yang dijadikan tempat persembunyian bangsa Yahudi akan berseru memanggil kaum muslimin untuk membunuh mereka, kecuali pohon Ghorqod.
Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan berada di tangan Islam dan kehinaan akan meliputi bangsa Yahudi yang terlaknat dan terkutuk.
Namun negeri ini kini terampas dan terjajah, dirampas dan dijajah oleh bangsa terburuk di muka bumi ini. Namun penjajahan mereka atas bumi Palestina dan Syam adalah penggalian kuburan bagi mereka sendiri. Karena Nabi yang mulia telah memilih negeri ini sebagai bangkitnya ath-Tha`ifah al-Manshurah (golongan yang mendapat pertolongan) yang akan membinasakan bangsa Yahudi dan membebaskan negeri Syam dari kekuasaan mereka serta menegakkan Islam sebagai agama yang haq.
Ini menumbangkan mitos yang mengatakan bahwa yahudi adalah bangsa yang terkalahkan. Justru mereka kini telah kembali ke posisi asal mereka yang telah ditetapkan Allah dalam firman-Nya: “Mereka ditimpa kehinaan dimanapun mereka berada”, dan bahwa pengecualian yang diberikan kepada mereka, yaitu “Kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia” (Ali Imran: 112), telah dihapuskan, sebagai balasan bagi kerusakan dan kesombongan yang mereka lakukan di muka bumi ini.


Sumber: As-Sunnah sebagai Sumber IPTEK dan PERADABAN/Karya: Yusuf Al-Qardhawy/Penerbit: Pustaka Al-kautsar

Senin, 02 Maret 2015



CLEVEL, di dalam bukunya “Sejarah Freemason” berkata, “Jika saudara-saudara kita sesama anggota Freemason ingin memasukkan seseorang ke dalam kelompok kita, maka mereka harus dapat memberikan suatu gambaran yang baik dengan mengatakan kepadanya, bahwa perkumpulan ini merupakan suatu organisasi sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kemajuan.
“Para anggotanya hidup dalam persaudaraan yang dipenuhi dengan kecintaan dan persamaan. Tanah air seorang Freemason adalah seluruh dunia ini. Di tempat mana pun seorang anggota Freemason berada, pasti ia akan berjumpa dengan saudara- saudaranya yang saling berlomba untuk menghormatinya dan menolongnya selama mereka itu tahu bahwa yang bersangkutan adalah anggota organisasi mereka.
“Perlakukan semacam ini semata-mata untuk kepentingan syi’ar rahasia dan keakraban yang berlaku pada keluarga Freemason. Mereka harus berkata kepada setiap orang sesuai dengan kondisi yang bersangkutan, tingkat berpikirnya dan minatnya, agar mereka berhasil menarik seseorang sesuai dengan selera yang bersangkutan dan mereka dapat menarik orang tersebut ke dalam Freemason melalui kesenangannya.
“Jika mereka melihat seseorang yang menonjol dan berusaha untuk mengetahui hal-hal rahasia Freemason, maka mereka hendaklah
mengatakan kepadanya bahwa di dalam Freemason terdapat rahasia-rahasia yang tidak akan diketahui oleh pihak luar.

“Jika mereka menemukan seseorang yang menginginkan kemewahan, maka hendaklah mereka mengatakan kepadanya bahwa di dalam Freemason terdapat pesta-pesta yang glamour dengan layanan gadis-gadis cantik dan makan di restoran-restoran mewah.
“Semua ini disediakan demi memperkuat rasa cinta dan persahabatan, yang menjadi kepercayaan bersama. Jika mereka memasukkan orang-orang dari kalangan industri dan perdagangan ke dalam Freemason, maka hendaklah mereka meyakinkan, bahwa organisasi Freemason akan memberikan keuntungan, keleluasaan kerja dan memperbanyak cabang-cabang usaha mereka.
“Dan selanjutnya untuk orang-orang lain silahkan Anda mengadakan rekayasa sendiri. Setiap anggota Freemason di dalam menghadapi setiap orang harus dapat menyampaikan alasan dan keterangan-keterangan sesuai dengan kondisi lawan bicaranya, pekerjaannya, tingkat pemikirannya dan minatnya, sehingga yang bersangkutan mempunyai rasa tertarik kepada sesuatu hal yang lebih sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.”  []
Sumber: Al-ahdaf al-mu’linah wal-asrar a-khafiyah liandiyati ar-rotary wal-masoniyah/RAHASIA GERAKAN FREEMASONRY DAN ROTARY CLUB/Pustaka Al Kautsar, 1993/September 1993


WAJAR kali yah kalau setiap manusia punya rasa malas. Tapi, gak wajar deh kalau kita terus mengikuti rasa malas kita. Lha, lantas gimana caranya mengatasi rasa malas tersebut? Mmm sepertinya ini PR kita bersama ya untuk menyelesaikannya.
Berbagi semangat boleh dong ya, walau sejatinya semangat itu seperti kekuatan iman yang naik-turun.
Ini tips yang belum sepenuhnya aku jalani sih, masih ada dalam bayangan dan baru aja mau aku praktikan. Bareng-bareng yuk!
Kemarin (28/2/2015) aku mengikuti acara seminar di salah satu tempat yang aku suka, isi seminar itu mengajak aku secara tidak langsung untuk menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Mmm… bisa jadi, semangat untuk menjadi seorang Ibu yang baik di masa depan menjadi semangat kita nih untuk terus belajar dan beribadah. Bagi kamu kaum adam, bisa semangat juga biar jadi ayah yang baik yah.
Pagi ini aku juga mencari semangat dari orang-orang hebat, sebut saja Imam Syafi’I dan Ibnu Sina.
Luar biasa ya kisah semangat belajar mereka. Sebut saja Imam Syafi’I, ia sudah menjadi penghapal Al-Quran diusia 7 tahun saat berada dalam pengasuhan Ibunya dan tanpa seorang ayah karena sudah meninggal dunia. Dan Ibnu Sina yang menjadi penghapal Al-Quran diusia 10 tahun dibawah pengasuhan keduaorangtuanya yang terpandang. Wow  itu mengajarkan aku untuk kembali semangat menghapal QalamNya yang mudah dihapal dan dipelajari. Keren ya, Kawan, ternyata menjadi penghapal Quran itu bisa diusia berapa saja dan dalam kondisi apa saja. Bagi kamu yang sudah berusia sepuh 20 tahun seperti aku, jangan malu untuk mulai dan terus belajar. Hihi.
Dari Imam Syafi’I dan Ibnu Sina juga, aku belajar, untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya kita harus berani keluar dari zona nyaman dan aman kita. begitupun dengan menimpa diri dan kedewasaan ya. Banyak cara yang bisa kita lakukan.
Zona nyaman dan aman ini bukan berarti melulu suatu tempat saja secara arti sebenarnya. Tapi zona yang dimaksud bisa berarti cara belajar kita, cara mengatur waktu kita, dan cara memenej emosi kita.
Aku lansir dari salah satu web motivasi islam yang bilang kalau rasa malas adalah penghalang kesuksesan. Astagfirullah.
Kalau kita lihat orang-orang di sekitar kita, masih banyak yang belum Allah kehendaki untuk kuliah, untuk bisa berkumpul dengan keluarga yang baik, dan masih banyak hal lainnya yang lalai kita syukuri, sebenarnya tidak ada alasan untuk bermalas ria yah.
Hidup ini untuk beribadah dan menjadi sebaik-baiknya manusia yaitu yang bermanfaat bagi orang lain. Hmm… rugilah kita kalau hidup Cuma untuk bersantai-santai tiada guna.
Mm… sepertinya aku dapat kunci untuk mengatasi rasa malas itu, yap, ikhlas menjalani aktivitas dengan senang hati. Camkan dalam hati kita kalau Allah selalu bersama dengan kita, senantiasa mengajari banyak hal pada kita, dan setiap waktu kita amat berharga. Bismillah semangat kawan! Kalau menurut kamu, gimana Kawan?
Apa agenda terbaikmu hari ini? Semangat melakukan ikhtiar terbaikmu dengan menghargai sekecil apapun bentuk ikhtiarmu itu! []

Sumber : Islampos
SAAT ini pendidikan di Indonesia begitu melekat berbagai bentuk pendidikan yang berbasis kebebasan dengan orientasi materi/duniawi semata. Tidak heran dari sini, maka tumbuhlah pendidikan-pendidikan yang kering dari nilai-nilai agama, campur baur antara pelajar lelaki dan wanita, seragam yang menampakan aurat dan kurikulum-kurikulum yang tidak menyentuh ruhani begitu dominan dalam dunia pendidikan mereka.
Sekalipun ada sekolah berbasis Islam, tetapi konsep pemisahan antara agama dengan kehidupan duniawi (sekuler) masih sama dengan sekolah umum. Bahkan istilah guru adalah pendidik kini tidak berlaku, kebanyakan profesi guru hanya dijadikan salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan semata. Tidak lagi terasa bahwa “guru adalah pendidik”. Sehingga wajar sistem sekuler saat ini hanya melahirkan generasi minim kualitas.
Padahal dalam Islam, pendidikan merupakan salah satu jalan untuk membuat manusia mengerti tentang pentingnya penerapan syari’at Islam secara menyeluruh. Dimana pendidikan pertama bagi sang anak, yang dilakukan sejak masih dalam kandungan, ada di tangan Ibunya.


Rasulullah SAW bersabda:
“Dari Jubair bin Samurah RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: sungguh bahwa seseorang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah satu sha”. (H.R. Tirmidzi)
Dalam pendidikan Islam juga, segala sesuatu akan senantiasa menjadikan syari’at Islam sebagai satu-satunya tolak ukur keilmuan yang lain. Tanpa ada paksaan untuk menjadi “sesuatu” ataupun “menghasilkan sesuatu”. Segala kebaikan akhlaq, kecerdasan, tata krama, dan hal-hal baik lainnya akan menjadi buah dari sistem pendidikan Islam karena menyentuh pondasi dasarnya yakni aqidah. Hal ini bisa ditemukan di masa Imam Bukhori salah satunya. Pada usia 18 tahun, Bukhori sudah mampu menerbitkan kitab pertama Kazaya Shahabah Watabiin padahal sejak lahir ia telah kehilangan penglihatannya. Bisakah generasi emas itu terlahir kembali?
Semua itu hanya akan terwujud jika sistem negara yang diterapkan di dunia ini, termasuk di dalamnya Indonesia, adalah sistem Islam. Yang pasti menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang senantiasa tunduk & patuh terhadap aturan Sang Pencipta, Allah azza wa jalla. Sehingga tidak menjadi pribadi yang materialistis dan komersil. Maka penegakan khilafah adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Wallahu’alam bisshowab

Sumber : Islampos
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts