.

Kamis, 05 Februari 2015



Sujud Bikin Cerdas

Shalat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan shalat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit!
Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya?
TAKBIRATUL IHRAM
Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.
Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
RUKUK
Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.
Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.
I’TIDAL
Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.
Manfaat: Ftidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.
SUJUD
Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.
Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir.
Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
DUDUK
Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
SALAM
Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.
BERIBADAH secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar-dalam.
PACU KECERDASAN
Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa? Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak.
Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.
Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.
PERINDAH POSTUR
Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan.
Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
MUDAHKAN PERSALINAN
Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
PERBAIKI KESUBURAN
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.
Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
AWET MUDA
Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.
Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada keÃ,kencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkan wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,
Wallahu a’lam


Situs ini hanyalah dakwah seorang hamba yang tidak lebih hanya mengharap Ridho-Nya :)

Semoga dapat memberikan 'Ilmu yang bermanfaat di dunia maupun di akhirat :)


https://www.facebook.com/pages/Cahaya-Islam/403782303083240

Rabu, 04 Februari 2015




Tolong Menolong Dalam Kebaikan Dan Takwa Bersama Orang Non Muslim
            Allah berfirman: Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Q.S al-Maidah: 2)
            Dan bunyi ayat tersebut menunjukan atas perintah untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan tidak saling tolong menolong dalam kejahatan baik kepada orang kafir sekalipun. Imam Qurtubi berpendapat: Firman Allah ta’ala: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”, akhfast berpendapat: firman ini terputus dari firman yang pertama, dan ini merupakan perintah kepada seluruh makhluk untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, yaitu: agar menolong sebagian diantara kalian, saling menganjurkan untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan, tatatilah perintahnya dan jauhilah apa yang Allah larang, dan hindarilah larangannya. (tafsir ahkam al-Qur’an: 6/36).
            Ibnu Asyur berpendapat: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” alasan untuk larangan yang pada Firman-Nya Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum”…yaitu: bahwa kewajibanmu adalah saling tolong menolong diantara kalian untuk berbuat kebaikan dan takwa, dan jika ini merupakan kewajiban mereka diantara kalangan mereka, maka seharusnya mereka membantu untuk berbuat baik dan ketakwaan, karena saling tolong menolong atas perbuatan tersebut meninimbulkan rasa kasih sayang yang dihasilkannnya, kemudian hasilnya menjadi rasa keinginan bagi mereka (untuk masuk islam), tidak ada salahnya untuk menolong perbuatan tersebut bagi siapapun yang menempuh kepada perbuatan tersebut walaupun itu musuh, perbuatan haji adalah sesuatu yang baik maka tolonglah dalam kebaikan dan takwa, dan mereka walaupun orang kafir, mereka saling tolong menolong atas prilaku kebaikan, karena kebaikan menunjukan kepada takwa, kemungkinan juga jika perbuatan tersebut terulang-ulang akan mendekatkan mereka kepada agama islam. (tafsir tahrir wa tanwir: 6/87).
            Nabi bersabda tentang kesepakatan fudhul yang orang-orang Quraisy sepakati ketika masa jahiliah untuk menolong orang-orang yang terdzolimi: “sungguh dulu aku menghadiri rumah ibnu Jad’an suatu kesepakatan yang lebih aku cintai dari pada kenikmatan yang melimpah, kalau seandainya aku diundang kepadanya pada masa keislaman, maka aku akan mendatanginya” (H.R Humaid dan Tohawi). Dan beliau berkata ketika perjanjian Hudaibiah: “jika orang Quraisy mengundangku dalam suatu garis yang mengagung-agungkan apa yang diharamkan Allah, maka aku akan mendatanginya (untuk melarang mereka melakukan perbuatan terlarang tersebut)”. (H.R Bukhori).




Lidah adalah
salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya,
padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang
menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari'at.
Dan padanya pula terdapat kejelekan yang banyak dan bahaya yang besar bagi
siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau
tempat yang tidak semestinya.


Padahal Allah Ta'ala menciptakan lisan (lidah) itu agar
digunakan untuk dzikrullah (menyebut Asma Allah), membaca Al Quran, menasehati
manusia dan mengajak mereka kepada jalan Allah dan ketaatan serta
memperkenalkan kepada mereka tentang kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah
SWT.


Maka jika si hamba mempergunakan lidahnya  untuk tujuan tersebut, maka dia tergolong
orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat lidah itu sendiri. Tapi jika
sebaliknya, digunakan bukan pada jalan kebenaran seperti disebutkan diatas,
maka dia adalah orang yang berbuat dholim lagi melampaui batas.


Kemudian ketahuilah, bahwa perkara lidah ini adalah
sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, sebab dia adalah anggota tubuh
yang dominan dalam dhohir manusia dan paling kuat dalam menyeret seorang hamba
dalam kebinasaan, ini semua jika tidak dijaga dan dipaksa dengan tuntunan
syari'at.


Maka Rasulullah SAW sudah menasehati kita agar menjaga
lidah dengan baik, minimal dengan jalan tidak banyak berbicara, selagi tidak
bermanfaat atau tidak mengandung kebaikan, beliau SAW bersabda (yang artinya):


" Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat
maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah ". (HR. Bukhori dan
Muslim)


Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):


" Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara
kebaikan maka dia beruntung, atau diam dari kejelekan maka dia selamat ".





Dan banyak riwayat yang sampai kepada kita tentang
bahaya lidah ini, diantaranya, hadits Rasulullah saw (yang artinya):


" Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka
dengan wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah
mereka " (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).


Dalam hadits yang lain disebutkan (yang artinya):


" Setiap pembicaraan anak adam adalah (saksi yang)
memberatkannya, bukan untuk kebaikannya, kecuali Dzikrullah, Amr Ma'ruf dan
Nahi Munkar ".


Rasulullah SAW bersabda pula (yang maknanya):


" Sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu
kalimat, dimana ketika mengucapkannya dia tidak perduli (dengan cuek), tapi
berkat satu kalimat itu justru dia terjun ke neraka lebih jauh daripada jarak
bintang Tsurayya ".


Maka lidah ibarat pedang yang tajam, jika tidak dijaga
dengan baik akan membinasakan orangnya, ibarat binatang buas, jika si hamba
lengah sedikit maka dia akan menyambar dan mencabiknya dan lidah ibarat juru
bicara hati, yang ada disana dilontarkan olehnya, yang terpendam disana
ditampakkan olehnya. Maka orang yang sholeh akan diketahui dari cara bicaranya
atau pembicaraan yang disampaikannya demikian pula orang jelek akhlaknya dan
kaku perangainya dapat diketahui dari apa yang keluar dari lidahnya.


Hal mana seperti dikatakan oleh imam Hasan Al Bashri :


" Sesungguhnya lidah orang mukmin berada dibelakang
hatinya, apabila ingin berbicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan
hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang
munafik berada di depan hatinya, apabila menginginkan sesuatu maka dia
mengutamakan lidahnya daripada memikirkan dulu dengan hatinya ".


Ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu
membelah besi dan daya penghancur(pengrusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka
dalam merusak madu yang manis, seperti diriwayatkan Ibnu Abi Dunya, Rasulullah
saw bersabda :


" Tidak ada satupun jasad manusia, kecuali pasti kelak
akan mengadukan lidah kepada Allah atas ketajamannya ".


Beliau saw bersabda pula :


" Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada
lidahnya " (HR. Ath Thabarani, Ibnu Abi Dunya dan Al Baihaqi)

Senin, 02 Februari 2015


Insya Allah , dengan menonotn video ini akan dapat membantu membuka mata batin teman teman tentang pacaran ;)


Lelahnya fikiran, hati dalam menjalani kehidupan ini semakin membuat kita sadar, bahwa pada hakikatnya kita adalah makhluk ALLAH yang sangat lemah! tetapi meskipun lemah, kita dilarang oleh ALLAH bersikap lemah!



Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali_imran:139)

Segala yang menimpa dibumi dan pada diri kita semuanya telah tertulis disisi ALLAH sebelum kita diciptakan! jadi tidak ada alasan bagi kita untuk bersedih dan terlalu bergembira dengan apa yang ALLAH berikan berupa keburukan ataupun kebaikan.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah
(Al-hadid:22)


(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
(Al_hadid:23)

yang harus kita kerjakan detik ini : fokus kepada apa yang harus kita kerjakan untuk kebaikan kita di hari esok yaitu Akhirat! tentunya amal sholeh/baik yang harus kita kerjakan. saudaraku.. mudah2han catatan ini menjadi lantaran pembuka hati saudara untuk membaca kehidupan ini< sesungguhnya hidup adalah ujian dan didalam dunia banyak kesenangan yang menipu dan membuat kita lalai dari mengingati ALLAH serta tujuan Mutlak manusia diciptakan! ingatlah wahai seluruh manuisa...... ALLAH-lah tuhan kita yang harus ditaati untuk selama-lamanya.



Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hasyr:18)



Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
(al_hadid:21)


Sesungguhnya umat islam telah terdampar di persimpangan jalan, mereka hidup dalam kesengsaraan yang tidak pernah disaksikan oleh sejarah islam, telah berlalu banyak krisis dan bencana yang silih berganti. Hal ini dikarenakan umat islam sekarang berada pada kondisi yang lemah dan jauh dari syariat Allah ta’ala yang kokoh. Akibatnya kita dapatkan kaum muslimin sekarang kehilangan sebagian negeri atau harta mereka. Mereka hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan rasa was-was.
Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing.” (HR Muslim).

Minggu, 01 Februari 2015




Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.

Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. An-Nahl: 18)

NIKMAT SEHAT
Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya." (HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)
Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala.

Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.
Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah subhanahu wa ta'ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)
DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU
Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 593
"Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari, no: 5933)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain." (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)

Kata “maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.

Al-Jauhari rahimahullah: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji." (Fathul Bari)
Ibnu Baththaal rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu." (Fathul Bari)
Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.

Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).

Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat.” (Fathul Bari)
Ath-Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Qs. As-Shaaf: 10) dan ayat-ayat berikutnya.
Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Qs. Sabaa': 13)

“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut.” (Fathul Bari)

Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi rahimahullah berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya." (Fathul Bari)

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.
Penulis: Ustadz Muslim Atsari
Artikel: www.UstadzMuslim.com
Nikmat Yang Terlupakan. Ibnu Abbas radhiyallohu anhu berkata: Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :
« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan maktu luang.”
                Kata al-ghibn berarti rugi dalam berjual-beli, seperti seseorang membeli barang dengan harga yang berlipat ganda, namun ia menjual barang itu dengan harga yang kurang dari harga pembelian. Jadi, banyak manusia yang dianugerahi Allah ta’ala nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, namun mereka melalaikannya.
Terkadang, seseorang memiliki kesehatan, namun ia tidak memiliki waktu luang, karena ia tersibukkan dengan  mencari penghidupan. Dan terkadang, seseorang itu berkecukupan, namun ia tidak sehat. Apabila terkumpul pada diri seseorang itu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah Ta’ala menyebut hari kiamat dengan Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) :
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)
          Artinya, setiap orang akan ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala
           Nabishalallahu alaihi wasallam bersabda :
” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا “
“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”
      Inilah bentuk penyesalan yang dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu, kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.
           Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Pada hari kiamat nanti telapak kaki manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang telah ia perbuat dari ilmunya.”
Demikian pula, hendaklah ia selalu mengingat hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada seseorang :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Al- Baihaqi)
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya waktu luang itu dapat merusak jiwa, karena ia akan merusak potensi yang terpendam di dalam jiwa manusia. Awal mula kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan waktu luang adalah terbuangnya potensi yang dinamis secara sia-sia untuk mengisi waktu luang. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya untuk mengisi waktu luang tersebut.
Ketika Islam melenyapkan kebiasaan jahiliyah, hari rayanya, hari besarnya dan pandangan hidupnya, maka Islam tidak memberikan kesempatan kepada kaum muslimin untuk bingung dalam mengisinya. Justru, islam telah menggantikan mereka dengan hari raya dan hari besar lain yang dapat menggantikan kedudukanya. Sebelumnya mereka berkumpul mengitari hidangan-hidangan minuman keras, judi dan mendengarkan musik-musik cabul. Kemudian, islam mengumpulkan mereka dalam kegiatan ibadah kepada Allahta’ala, shalat berjamaah, dan hari raya-hari raya Islam.
Ini termasuk sarana yang berhasil dalam mendidik jiwa manusia, terutama ketika jiwa manusia itu enggan untuk diluruskan dari sesuatu yang disukainya. Dengan demikian, sarana yang tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan menciptakan kegiatan baru untuk menggantikan kesukaanya yang lama itu.
Sesungguhnya, apabila seorang anak memiliki waktu luang, maka akan masuklah kepadanya pikiran-pikiran kotor, bisikan-bisikan yang menggoda dan khayalan-khayalan berpacaran yang menggelora, sehingga ia tidak mendapati dalam dirinya selain adanya gejolak syahwat dan naluri seksual di hadapan gelombang bisikan itu. Dan saat itulah ia tidak mendapati jalan keluar, selain harus beranjak kepada sesuatu yang haram, untuk meringankan gejolak syahwatnya dan menekan pengaruhnya.
 Dikutip dari : Shira’ ma’asy syahwat karya Muhammad Shalih Al-Munajid
- See more at: http://dainusantara.com/nikmat-yang-terlupakan/#sthash.KcKjswiP.dpuf
Nikmat Yang Terlupakan. Ibnu Abbas radhiyallohu anhu berkata: Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :
« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan maktu luang.”
                Kata al-ghibn berarti rugi dalam berjual-beli, seperti seseorang membeli barang dengan harga yang berlipat ganda, namun ia menjual barang itu dengan harga yang kurang dari harga pembelian. Jadi, banyak manusia yang dianugerahi Allah ta’ala nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, namun mereka melalaikannya.
Terkadang, seseorang memiliki kesehatan, namun ia tidak memiliki waktu luang, karena ia tersibukkan dengan  mencari penghidupan. Dan terkadang, seseorang itu berkecukupan, namun ia tidak sehat. Apabila terkumpul pada diri seseorang itu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah Ta’ala menyebut hari kiamat dengan Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) :
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)
          Artinya, setiap orang akan ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala
           Nabishalallahu alaihi wasallam bersabda :
” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا “
“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”
      Inilah bentuk penyesalan yang dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu, kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.
           Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Pada hari kiamat nanti telapak kaki manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang telah ia perbuat dari ilmunya.”
Demikian pula, hendaklah ia selalu mengingat hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada seseorang :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Al- Baihaqi)
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya waktu luang itu dapat merusak jiwa, karena ia akan merusak potensi yang terpendam di dalam jiwa manusia. Awal mula kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan waktu luang adalah terbuangnya potensi yang dinamis secara sia-sia untuk mengisi waktu luang. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya untuk mengisi waktu luang tersebut.
Ketika Islam melenyapkan kebiasaan jahiliyah, hari rayanya, hari besarnya dan pandangan hidupnya, maka Islam tidak memberikan kesempatan kepada kaum muslimin untuk bingung dalam mengisinya. Justru, islam telah menggantikan mereka dengan hari raya dan hari besar lain yang dapat menggantikan kedudukanya. Sebelumnya mereka berkumpul mengitari hidangan-hidangan minuman keras, judi dan mendengarkan musik-musik cabul. Kemudian, islam mengumpulkan mereka dalam kegiatan ibadah kepada Allahta’ala, shalat berjamaah, dan hari raya-hari raya Islam.
Ini termasuk sarana yang berhasil dalam mendidik jiwa manusia, terutama ketika jiwa manusia itu enggan untuk diluruskan dari sesuatu yang disukainya. Dengan demikian, sarana yang tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan menciptakan kegiatan baru untuk menggantikan kesukaanya yang lama itu.
Sesungguhnya, apabila seorang anak memiliki waktu luang, maka akan masuklah kepadanya pikiran-pikiran kotor, bisikan-bisikan yang menggoda dan khayalan-khayalan berpacaran yang menggelora, sehingga ia tidak mendapati dalam dirinya selain adanya gejolak syahwat dan naluri seksual di hadapan gelombang bisikan itu. Dan saat itulah ia tidak mendapati jalan keluar, selain harus beranjak kepada sesuatu yang haram, untuk meringankan gejolak syahwatnya dan menekan pengaruhnya.
 Dikutip dari : Shira’ ma’asy syahwat karya Muhammad Shalih Al-Munajid
- See more at: http://dainusantara.com/nikmat-yang-terlupakan/#sthash.KcKjswiP.dpuf
Nikmat Yang Terlupakan. Ibnu Abbas radhiyallohu anhu berkata: Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :
« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan maktu luang.”
                Kata al-ghibn berarti rugi dalam berjual-beli, seperti seseorang membeli barang dengan harga yang berlipat ganda, namun ia menjual barang itu dengan harga yang kurang dari harga pembelian. Jadi, banyak manusia yang dianugerahi Allah ta’ala nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, namun mereka melalaikannya.
Terkadang, seseorang memiliki kesehatan, namun ia tidak memiliki waktu luang, karena ia tersibukkan dengan  mencari penghidupan. Dan terkadang, seseorang itu berkecukupan, namun ia tidak sehat. Apabila terkumpul pada diri seseorang itu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah Ta’ala menyebut hari kiamat dengan Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) :
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)
          Artinya, setiap orang akan ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala
           Nabishalallahu alaihi wasallam bersabda :
” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا “
“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”
      Inilah bentuk penyesalan yang dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu, kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.
           Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Pada hari kiamat nanti telapak kaki manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang telah ia perbuat dari ilmunya.”
Demikian pula, hendaklah ia selalu mengingat hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada seseorang :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Al- Baihaqi)
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya waktu luang itu dapat merusak jiwa, karena ia akan merusak potensi yang terpendam di dalam jiwa manusia. Awal mula kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan waktu luang adalah terbuangnya potensi yang dinamis secara sia-sia untuk mengisi waktu luang. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya untuk mengisi waktu luang tersebut.
Ketika Islam melenyapkan kebiasaan jahiliyah, hari rayanya, hari besarnya dan pandangan hidupnya, maka Islam tidak memberikan kesempatan kepada kaum muslimin untuk bingung dalam mengisinya. Justru, islam telah menggantikan mereka dengan hari raya dan hari besar lain yang dapat menggantikan kedudukanya. Sebelumnya mereka berkumpul mengitari hidangan-hidangan minuman keras, judi dan mendengarkan musik-musik cabul. Kemudian, islam mengumpulkan mereka dalam kegiatan ibadah kepada Allahta’ala, shalat berjamaah, dan hari raya-hari raya Islam.
Ini termasuk sarana yang berhasil dalam mendidik jiwa manusia, terutama ketika jiwa manusia itu enggan untuk diluruskan dari sesuatu yang disukainya. Dengan demikian, sarana yang tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan menciptakan kegiatan baru untuk menggantikan kesukaanya yang lama itu.
Sesungguhnya, apabila seorang anak memiliki waktu luang, maka akan masuklah kepadanya pikiran-pikiran kotor, bisikan-bisikan yang menggoda dan khayalan-khayalan berpacaran yang menggelora, sehingga ia tidak mendapati dalam dirinya selain adanya gejolak syahwat dan naluri seksual di hadapan gelombang bisikan itu. Dan saat itulah ia tidak mendapati jalan keluar, selain harus beranjak kepada sesuatu yang haram, untuk meringankan gejolak syahwatnya dan menekan pengaruhnya.
 Dikutip dari : Shira’ ma’asy syahwat karya Muhammad Shalih Al-Munajid
- See more at: http://dainusantara.com/nikmat-yang-terlupakan/#sthash.KcKjswiP.dpuf




بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه, وبعد


:
Di dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala hanya merahmati hamba-hambaNya yang pengasih.” (HR. Bukhari)

Bukankah perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan? Barang siapa yang mengasihi makhluk, maka ia akan dikasihi al-Kholiq (pencipta), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang pengasih akan di kasihi Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu.” (HR. Tirmidzi)
Balasan suatu perbuatan sesuai dengan perbuatan tersebut. Allah ta’ala bermuamalah dengan hamba sesuai muamalah hamba terhadap sesamanya, maka bermuamalah-lah dengan hamba Allah ta’ala dengan muamalah yang mana engkau mengharapkan Allah ta’ala bermuamalah seperti itu terhadapmu.
Allah ta’ala berfirman: “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taghobun: 14). firman Allah ta’ala: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin jika Allah ta’ala mengampunimu.” (QS. an-Nuur: 22)
Hendaklah engkau senantiasa meringankan beban orang lain supaya Allah ta’ala meringankan bebanmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menolong kesusahan orang muslim, maka Allah ta’ala akan menolongnya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari). Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang menyelamatkan orang dari kesusahan, maka Allah ta’ala akan menyelamatkannya dari kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)
Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan, maka kamu akan ditolong Allah ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta’ala akan menolongnya.” (HR. Muslim)
Jadilah engkau orang yang mempermudah kesulitan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda: “Terdapat pada umat sebelum mu seorang pedagang yang sering memberi pinjaman kepada orang lain, jika dia melihat si peminjam dalam kesulitan dia berkata kepada anak-anaknya: ‘Maafkan dia (jangan ditagih hutangnya) mudah-mudahan Allah ta’ala mengampuni kita’, maka Allah ta’ala pun mengampuninya.” (HR. Bukhari)
Berlemah-lembutlah terhadap hamba Allah ta’ala maka kamu akan termasuk orang yang didoakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang berlemah-lembut terhadap umatku maka berlemah-lembutlah terhadapnya, dan barang siapa yang mempersulit umatku maka persulitlah ia.” (HR. Ahmad)
Beliau juga bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala adalah Dzat yang maha lemah lembut mencintai kelembutan dan memberi pada kelembutan suatu kebaikan yang tidak pernah diberikan pada kekerasan.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka ia kehilangan suatu kebaikan.” (HR. Muslim)
Tutupilah kejelekan (aib) orang lain maka Allah ta’ala akan menutupi kejelekan (aib) mu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menutupi kejelekan (aib) seorang muslim maka Allah ta’ala akan menutupi kejelekan (aib) nya.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang menutupi aurat (aib) saudaranya (muslim) maka Allah ta’ala akan menutupi aurat (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah)
Pandanglah sedikit kesalahan saudaramu, maka Allah ta’ala akan memandang sedikit pula kesalahan mu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang memandang sedikit kesalahan seorang muslim maka Allah ta’ala akan memandang sedikit kesalahannya.” (HR. Abu Dawud)
Berilah makan faqir miskin, maka Allah ta’ala akan memberimu makan pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi makan mukmin yang lapar, maka Allah ta’ala akan memberinya makan dari buah-buahan Surga.” (HR. Tirmidzi)
Berilah minum orang yang kehausan, maka Allah ta’ala akan memberimu minum pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi minum mukmin lainnya yang kehausan, maka Allah ta’ala akan memberinya minum pada hari kiamat dari khamar murni yang dilak (tempatnya).” (HR. Tirmidzi)
Berilah pakaian kepada kaum muslimin maka Allah ta’ala akan memberimu pakaian.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja di antara orang mukmin yang memberi pakaian orang yang telanjang maka Allah ta’ala akan memberinya pakaian hijau dari surga.” (HR. Tirmidzi)
Muamalah (hubungan) Allah ta’ala terhadapmu sebagaimana hubunganmu terhadap hamba-Nya, maka pilihlah muamalah yang kau sukai yang mana Allah ta’ala akan me-muamalahimu dengannya, dan pergaulilah hamba-hamba-Nya dengan (pilihanmu) itu maka kamu akan mendapat ganjarannya.
Jauhilah menyakiti sesama (Jika kamu melakukannya) maka Allah ta’ala akan menyiksamu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala akan menyiksa orang-orang yang menyakiti manusia.” (HR. Muslim)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya mereka menimpa kepadamu siksaan yang seberat-beratnya.” (QS. al-Baqarah: 49)
“Dan pada hari terjadinya kiamat dikatakan kepada malaikat, ‘masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat pedih.” (QS. Ghofir: 46)
Jauhilah menyusahkan hamba-hamba Allah ta’ala (Jika kamu melakukannya), maka engkau akan terkena doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang mengurus perkara umatku lalu mempersulit mereka maka persulitlah dia dan barang siapa yang mempermudah mereka maka permudahkanlah dia.” (HR. Muslim)
Janganlah engkau mencari-cari kesalahan kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senantiasa mencari kesalahan seorang muslim, maka Allah ta’ala akan senantiasa mencari kesalahannya pula, sehingga akan terbuka kesalahannya meskipun (tersembunyi) di dalam mulut unta (kendaraan) nya.” (HR. Tirmidzi)
Beliau juga bersabda: “Barang siapa yang membuka aib saudaranya maka Allah ta’ala akan membuka aibnya sampai diperlihatkan kepada keluarganya.” (HR. Ibnu Majah)
Janganlah engkau berhati batu (tidak punya belas kasihan).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tidak menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah ta’ala tidak akan mengasihinya.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda: “Tidaklah dicabut rasa belas kasihan itu kecuali dari hati orang-orang yang celaka.” (HR. Tirmidzi)
Apapun muamalah yang engkau suguhkan terhadap manusia, maka kamu akan mendapatkan balasan yang sama di sisi Allah ta’ala.
Ibnul Qoyyim berkata: “Sesungguhnya Allah ta’ala adalah Dzat yang Maha mulia, mencintai yang mulia dari hamba-hamba-Nya. Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui, mencintai orang-orang yang berilmu. Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa, mencintai yang gagah berani. Dia adalah Dzat yang Maha Indah, mencintai keindahan. Dia adalah Dzat yang Maha Pengasih, mencintai orang yang pengasih. Dia adalah Dzat yang Maha Menutupi, mencintai orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Maha Pemaaf, mencintai yang memaafkan hamba-hamba-Nya. Maha Pengampun, mencintai yang suka mengampuni hamba-Nya. Maha lemah lembut, mencintai yang lemah lembut dari hamba-hamba-Nya serta membenci yang keras perangainya. Dia adalah Dzat yang Maha Penyantun, mencintai sifat penyantun. Dzat yang Melimpahkan kebaikan, mencintai perbuatan baik serta pelakunya. Dzat yang Maha Adil, mencintai keadilan. Dzat yang Menerima uzur, mencintai orang yang menerima uzur hamba-hamba-Nya. membalas hamba sesuai dengan ada atau tidak adanya sifat-sifat tersebut pada diri seorang hamba… maka (sesungguhnya) muamalah Allah ta’ala terhadap hambanya sesuai dengan muamalah hamba terhadap sesamanya… berbuatlah semaumu maka Allah ta’ala akan membalasmu sesuai dengan perbuatanmu terhadap-Nya dan terhadap hamba-hamba-Nya.
Maka hendaklah engkau senantiasa memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah ta’ala sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang mampu memberikan kemanfaatan kepada saudaranya hendaklah ia lakukan.” (HR. Muslim)
berbuat baiklah terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah ta’ala mencintai hamba yang berbuat baik.
jadilah engkau orang yang senantiasa mempermudah urusan hamba Allah ta’ala serta berlemah-lembut terhadap mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Diharamkan masuk Neraka setiap orang yang pemudah, lemah lembut, dekat dengan manusia.” (HR. Ahmad)
Maafkanlah mereka, mudah-mudahan Allah ta’ala mengampuni dosa-dosamu, sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين, وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
***
Oleh: Syaikh Abdul Qoyyim As-Suhaibani
Alih Bahasa: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.

Sabtu, 31 Januari 2015





Saudaraku ..

Tulisan ini kutujukan kepadamu, ya .. kepadamu yang mengharapkan Ridho Allah dan kenikmatan yang kekal di sisiNya, serta takut kepada siksa dan azab yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan kafir.
Kepadamu saudaraku, yang pernah merasakan manisnya keimanan dan nikmatnya berjalan di atas jalan yang lurus serta indahnya mendekatkan diri kepada Allah.
Kepadamu saudaraku, yang dulu bersemangat dan berpacu menuntut ilmu serta mengajak kepada kebaikan.
Kepadamu saudaraku yang dulu sering kulihat berzikir, membaca dan menghapalkan Al Qur’an.
Apa yang terjadi pada dirimu? Kenapa engkau kini mulai menjauh dari teman-temanmu yang rajin sholat berjama’ah, cinta kepada ilmu agama, gemar mempelajari Al Qur’an dan Hadits serta membaca buku-buku yang bermanfaat?
Kenapa aku melihat semangatmu memudar, penampilanmu juga berobah ..tidak lagi seperti dulu yang berusaha mengikuti sunnah-sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama?
ingatkah engkau, ketika itu engkau berhenti dari tempatmu bekerja, kenapa?!
Ketika itu engkau mengatakan, karena tidak bisa sholat berjama’ah ke mesjid!
Karena engkau takut fitnah syahwat yang slalu menggoda!
Karena engkau ingin meninggalkan nyanyian dan menggantikannya dengan mendengarkan Al Qur’an!
Karena engkau ingin menjaga ‘iffah dirimu!
Karena engkau ingin menjaga Dinmu!!
Saudaraku .. kenapa aku lihat syahwat mulai mengalahkanmu, hasrat pun membelenggumu..wajahmu tidak pernah lagi kulihat di majelis-majelis ilmu!
Apakah engkau telah menyimpulkan bahwa iltizam dan keistiqomahanmu serta keta’atanmu kepada Robbmu selama ini sebuah kesalahan, lalu engkau memilih jalan lain; jalan yang menyimpang, maksiat dan kelalaian – agar engkau bisa sampai ke surga Firdaus?!
Ataukah engkau mengira jalan yang telah engkau tempuh selama ini terasa terlalu panjang dan berat, lalu engkau tidak sabar dan memilih jalan orang-orang lali dan lengah yang diperbudak hawa nafsu mereka, yang keinginan mereka hanyalah sebatas diri mereka sendiri, tidak peduli kepada Dinullah dan Dakwah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
Ataukah engkau telah melupakan kematian dan sakarat-nya …
Melupakan kuburan dan kegelapannya …
Hari kiamat dan kedahsyatanya …
Neraka dan keras azabnya …
Semoga Allah melindungimu dari itu semua
Dan semoga Allah tidak menjadikanmu termasuk orang-orang yang dikatakanNya,
واتل عليهم نبأ الذي آتيناه آيتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاويين
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.” (Al A’rof : 175)
Kuharap dadamu lapang dan maafkan aku karena kerasnya kata-kataku kepadamu. Akan tetapi kecintaanku kepadamu yang kusimpan di dalam dadaku, dan kekhawatiran su-ul khotimah atas dirimu .. hal itulah yang telah membakar hatiku. Setiap kali aku melihat kondisimu yang membuat gembira musuhmu (Syetan beserta pengikutnya) serta membuat sedih teman-teman dan orang-orang yang mencintaimu.
Saudaraku, akankah engkau kembali sebelum kematian mendatangi?. Kapankah engkau kembali kepada taman keta’atan dan telaga taubat serta istiqomah yang penuh rahmah dan berkah dari Allah??
والذين إذا فعلوا فاحشة أو ظلموا أنفسهم ذكروا الله فاستغفروا لذنوبهم ومن يغفر الذنوب إلا الله ولم يصروا على ما فعلوا وهم يعلمون
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.(Ali Imron : 135)
Tumbuhkanlah harapanmu, bangunlah asamu, sesungguhnya engkau memiliki Robb yang maha luas ampunanNya, membentangkan TanganNya siang dan malam untuk mengampuni orang-orang yang berdosa.
Mohonlah hidayah kepada Allah Ta’ala dengan tulus dari hatimu. Lihatlah Nabimu yang engkau cintai shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta hidayah kepada Robbnya, beliau berdo’a,
اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kekayaan”. (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Al Baihaqy dari Ibnu Mas’ud, dan sanadnya shohih, lihat, Shohih Al Jami’ no. 1275)
Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama mengajarkan itu sebagaimana beliau mengajarkan cucunya Al Hasan bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma agar di dalam qunut mengucapkan,  “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang engkau tunjuki”. (HR. Abu Dawud, An Nasa-I dan lain-lainnya, dari Abul Hawro’, dan sanadnya shohih, lihat : Misykatul Mashobiih no. 1273)
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama juga berlindung kepada Allah dari kesesatan setelah petunjuk,
اللهم إني أعوذ بعزتك أن تضلني لا إله إلا أنت
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaanMu dari Engkau sesatkan, tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Engkau”. (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Abbas)
Dalam do’a safar beliau mengucapkan,
وأعوذ بك من الحور بعد الكور
“Dan aku berlindung kepadaMu dari Al Haur setelah Al Kaur ”. (HR. Muslim)
Maksud Al Haur setelah Al Kaur yaitu; kerusakan setelah kebaikan, kesesatan setelah petunjuk.
Akuilah dosamu ..  tangisilah kesalahan dan kelalaianmu. Mintalah kepada Allah, agar Ia tidak menghinakanmu di hari pembalasan, serta agar Ia memutihkan wajahmu ketika dihitamkan wajah-wajah pelaku maksiat dan orang-orang kafir.
Mulailah lembaran baru yang putih bersama Allah Ta’ala dengan keta’atan dan taubat nashuhah.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al Kahfi : 28)
Palingkanlah wajahmu dari teman-teman yang tidak baik, dari orang-orang yang tidak peduli apakah engkau nanti di sorga atau di neraka. Bahkan lebih dari itu, kelak mereka di hari kiamat meminta kepada Allah Ta’ala supaya Allah menambahkan azab yang berlipat untuk  teman-teman mereka.
قالوا ربنا من قدم لنا هذا فزده عذابا ضعفا في النار
“mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan Kami ke dalam azab ini Maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka”. (Shod : 61)
Bersihkan dari dirimu debu-debu dosa dan kelengahan. Bergabunglah dengan kafilah yang berjalan menuju Allah Ta’ala.
Kembalilah saudaraku ..kepada Allah Ta’ala, agar engkau kembali menjadi telaga kebaikan yang selalu mengalirkan manfaat untuk umatmu.
Saudaraku, berikut ini sebagian kiat dan asbab yang akan membantumu untuk tetap teguh dan istiqomah dengan izin Allah Ta’ala :
  1. Do’a yang tulus, berdo’alah,
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Hai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas din-Mu”.
  1. Carilah teman yang baik dan sholeh, yang akan membantumu untuk ta’at kepada Allah.
  2. Jauhkan dirimu dari teman-teman yang tidak baik.
  3. Jagalah Kitabullah, dengan membaca, menghapal dan mempelajari makna-makna serta hokum-hukumnya, ketahuilah Al Qur’an adalah obat hati yang sakit.
  4. Jagalah ibadah-ibadah fardhu dan ibadah-ibadah nafilah yang mengiringinya.
  5. Menuntut ilmu sya’ri dan menghadiri majelis-majelis ilmu.
  6. Takut kepada dosa dan akibatnya, karena dosa adalah penyebab su-ul khotimah.
  7. Membaca buku-buku yang bermanfa’at, mengikuti daurah-daurah ilmiyah dan dakwiyah.
  8. Ghoddul Bashor, percayalah dengan ghoddul bashor hatimu akan lebih tenang dan terasa manisnya keimanan.
10.  Ingatlah permusuhan syetan terhadapmu dalam setiap detik. Dan bahwasanya ia senantiasa mengintai kelengahanmu serta menggunakannya untuk menyeretmu menjadi temannya di neraka kelak.
Terakhir saudaraku, kalimat-kalimat ini mungkin keras dan tajam, akan tetapi ia memancar dari cinta yang tulus, hatiku lebih dahulu mengatakannya sebelum penaku menorehkannya, karena kasihan kepadamu saudaraku tercinta. Tidak ada yang kuinginkan melainkan kebaikan untukmu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmatNya untuk kita …
Dan sampai bertemu di atas jalan kebaikan dengan izin Allah Ta’ala, semoga Allah menjagamu saudaraku.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Feature 3

Feature 2

Popular Posts