Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan
kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.
Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan
jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang." (Qs. An-Nahl: 18)
NIKMAT SEHAT
Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan.
Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai
yang besar. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa
di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya,
aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu,
maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya." (HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam
Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)
Kita
melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar
untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan
kenikmatan dari Allah Ta’ala.
Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.
Diriwayatkan
bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya
kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau
senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab:
“Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi
bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang
‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak
punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”,
dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau
senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia
menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu
mengadukan Tuanmu (Allah
subhanahu wa ta'ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat:
Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)
DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU
Oleh
karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat
kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya,
dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi
orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:
عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ
النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 593
"Dari Ibnu Abbas, dia
berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan,
kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari, no: 5933)
Al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah
berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan
kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan
kebaikan untuk orang lain." (
Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)
Kata “
maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.
Al-Jauhari
rahimahullah:
“Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini.
Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu
luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah
menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah
terpuji." (
Fathul Bari)
Ibnu Baththaal
rahimahullah
berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang
longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan
sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka
hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur
kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan
termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya
dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka
dia adalah orang yang tertipu." (
Fathul Bari)
Kemudian sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam
di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan
bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya
sedikit.
Ibnul Jauzi
rahimahullah berkata:
“Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena
kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup
(kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul,
lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah
orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan
ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya
akan nampak di akhirat.
Maka barangsiapa menggunakan waktu
luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia
adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya
di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu.
Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan
diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).
Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan
tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau
lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan
mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri
dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan
sehat.” (
Fathul Bari)
Ath-Thayyibi
rahimahullah berkata: “Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam
membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan
seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari
keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu
adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu
menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu
luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah
dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar
dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini
seperti firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Qs. As-Shaaf: 10) dan ayat-ayat berikutnya.
Berdasarkan
itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan
berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama
keuntungannya.
Sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Qs. Sabaa': 13)
“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut.” (
Fathul Bari)
Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi
rahimahullah
berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni
yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang
mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama
(yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak
(menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah
kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya
kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia
yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang.
Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan
keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan
batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah
merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk
kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka
alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya." (
Fathul Bari)
Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama
kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.
Penulis: Ustadz Muslim Atsari
Artikel:
www.UstadzMuslim.com
Nikmat Yang Terlupakan. Ibnu Abbas
radhiyallohu anhu berkata:
Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :
« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan maktu luang.”
Kata
al-ghibn berarti
rugi dalam berjual-beli, seperti seseorang membeli barang dengan harga
yang berlipat ganda, namun ia menjual barang itu dengan harga yang
kurang dari harga pembelian. Jadi, banyak manusia yang dianugerahi
Allah ta’ala nikmat kesehatan dan nikmat
waktu luang, namun mereka melalaikannya.
Terkadang, seseorang memiliki kesehatan,
namun ia tidak memiliki waktu luang, karena ia tersibukkan dengan
mencari penghidupan. Dan terkadang, seseorang itu berkecukupan, namun
ia tidak sehat. Apabila terkumpul pada diri seseorang itu
nikmat kesehatan dan
nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan
dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di
dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah
Ta’ala menyebut hari
kiamat dengan
Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) :
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)
Artinya, setiap orang akan
ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami
kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan
orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat
memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan
kepada Allah ta’ala
Nabishalallahu alaihi wasallam bersabda :
” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا “
“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”
Inilah bentuk penyesalan yang
dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan
waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang
yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan
bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala
dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu,
kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.
Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat
hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dari Nabi
shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ :
عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ
فِيمَا عَلِمَ
“Pada hari kiamat nanti telapak kaki
manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya
tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan,
dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya
darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang
telah ia perbuat dari ilmunya.”
Demikian pula, hendaklah ia selalu mengingat hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada seseorang :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ :
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ
قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ
“Jagalah lima perkara
sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum
sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Al- Baihaqi)
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya waktu luang itu dapat merusak
jiwa,
karena ia akan merusak potensi yang terpendam di dalam jiwa manusia.
Awal mula kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan waktu luang adalah
terbuangnya potensi yang dinamis secara sia-sia untuk mengisi waktu
luang. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan suatu
kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya untuk mengisi waktu luang tersebut.
Ketika
Islam
melenyapkan kebiasaan jahiliyah, hari rayanya, hari besarnya dan
pandangan hidupnya, maka Islam tidak memberikan kesempatan kepada kaum
muslimin untuk bingung dalam mengisinya. Justru, islam telah
menggantikan mereka dengan hari raya dan hari besar lain yang dapat
menggantikan kedudukanya. Sebelumnya mereka berkumpul mengitari
hidangan-hidangan
minuman keras, judi dan mendengarkan musik-musik cabul. Kemudian, islam mengumpulkan mereka dalam kegiatan ibadah kepada Allah
ta’ala,
shalat berjamaah, dan hari raya-hari raya Islam.
Ini termasuk sarana yang berhasil dalam
mendidik jiwa manusia, terutama ketika jiwa manusia itu enggan untuk
diluruskan dari sesuatu yang disukainya. Dengan demikian, sarana yang
tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan menciptakan kegiatan
baru untuk menggantikan kesukaanya yang lama itu.
Sesungguhnya, apabila seorang anak
memiliki waktu luang, maka akan masuklah kepadanya pikiran-pikiran
kotor, bisikan-bisikan yang menggoda dan khayalan-khayalan berpacaran
yang menggelora, sehingga ia tidak mendapati dalam dirinya selain adanya
gejolak syahwat dan naluri seksual di hadapan gelombang bisikan itu.
Dan saat itulah ia tidak mendapati jalan keluar, selain harus beranjak
kepada sesuatu yang
haram, untuk meringankan gejolak syahwatnya dan menekan pengaruhnya.
Dikutip dari : Shira’ ma’asy syahwat karya
Muhammad Shalih Al-Munajid
- See more at: http://dainusantara.com/nikmat-yang-terlupakan/#sthash.KcKjswiP.dpuf
Nikmat Yang Terlupakan. Ibnu Abbas
radhiyallohu anhu berkata:
Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :
« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan maktu luang.”
Kata
al-ghibn berarti
rugi dalam berjual-beli, seperti seseorang membeli barang dengan harga
yang berlipat ganda, namun ia menjual barang itu dengan harga yang
kurang dari harga pembelian. Jadi, banyak manusia yang dianugerahi
Allah ta’ala nikmat kesehatan dan nikmat
waktu luang, namun mereka melalaikannya.
Terkadang, seseorang memiliki kesehatan,
namun ia tidak memiliki waktu luang, karena ia tersibukkan dengan
mencari penghidupan. Dan terkadang, seseorang itu berkecukupan, namun
ia tidak sehat. Apabila terkumpul pada diri seseorang itu
nikmat kesehatan dan
nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan
dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di
dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah
Ta’ala menyebut hari
kiamat dengan
Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) :
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)
Artinya, setiap orang akan
ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami
kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan
orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat
memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan
kepada Allah ta’ala
Nabishalallahu alaihi wasallam bersabda :
” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا “
“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”
Inilah bentuk penyesalan yang
dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan
waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang
yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan
bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala
dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu,
kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.
Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat
hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dari Nabi
shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ :
عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ
فِيمَا عَلِمَ
“Pada hari kiamat nanti telapak kaki
manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya
tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan,
dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya
darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang
telah ia perbuat dari ilmunya.”
Demikian pula, hendaklah ia selalu mengingat hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada seseorang :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ :
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ
قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ
“Jagalah lima perkara
sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum
sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Al- Baihaqi)
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya waktu luang itu dapat merusak
jiwa,
karena ia akan merusak potensi yang terpendam di dalam jiwa manusia.
Awal mula kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan waktu luang adalah
terbuangnya potensi yang dinamis secara sia-sia untuk mengisi waktu
luang. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan suatu
kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya untuk mengisi waktu luang tersebut.
Ketika
Islam
melenyapkan kebiasaan jahiliyah, hari rayanya, hari besarnya dan
pandangan hidupnya, maka Islam tidak memberikan kesempatan kepada kaum
muslimin untuk bingung dalam mengisinya. Justru, islam telah
menggantikan mereka dengan hari raya dan hari besar lain yang dapat
menggantikan kedudukanya. Sebelumnya mereka berkumpul mengitari
hidangan-hidangan
minuman keras, judi dan mendengarkan musik-musik cabul. Kemudian, islam mengumpulkan mereka dalam kegiatan ibadah kepada Allah
ta’ala,
shalat berjamaah, dan hari raya-hari raya Islam.
Ini termasuk sarana yang berhasil dalam
mendidik jiwa manusia, terutama ketika jiwa manusia itu enggan untuk
diluruskan dari sesuatu yang disukainya. Dengan demikian, sarana yang
tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan menciptakan kegiatan
baru untuk menggantikan kesukaanya yang lama itu.
Sesungguhnya, apabila seorang anak
memiliki waktu luang, maka akan masuklah kepadanya pikiran-pikiran
kotor, bisikan-bisikan yang menggoda dan khayalan-khayalan berpacaran
yang menggelora, sehingga ia tidak mendapati dalam dirinya selain adanya
gejolak syahwat dan naluri seksual di hadapan gelombang bisikan itu.
Dan saat itulah ia tidak mendapati jalan keluar, selain harus beranjak
kepada sesuatu yang
haram, untuk meringankan gejolak syahwatnya dan menekan pengaruhnya.
Dikutip dari : Shira’ ma’asy syahwat karya
Muhammad Shalih Al-Munajid
- See more at: http://dainusantara.com/nikmat-yang-terlupakan/#sthash.KcKjswiP.dpuf
Nikmat Yang Terlupakan. Ibnu Abbas
radhiyallohu anhu berkata:
Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :
« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan maktu luang.”
Kata
al-ghibn berarti
rugi dalam berjual-beli, seperti seseorang membeli barang dengan harga
yang berlipat ganda, namun ia menjual barang itu dengan harga yang
kurang dari harga pembelian. Jadi, banyak manusia yang dianugerahi
Allah ta’ala nikmat kesehatan dan nikmat
waktu luang, namun mereka melalaikannya.
Terkadang, seseorang memiliki kesehatan,
namun ia tidak memiliki waktu luang, karena ia tersibukkan dengan
mencari penghidupan. Dan terkadang, seseorang itu berkecukupan, namun
ia tidak sehat. Apabila terkumpul pada diri seseorang itu
nikmat kesehatan dan
nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan
dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di
dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah
Ta’ala menyebut hari
kiamat dengan
Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) :
“(ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)
Artinya, setiap orang akan
ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami
kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan
orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat
memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan
kepada Allah ta’ala
Nabishalallahu alaihi wasallam bersabda :
” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا “
“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”
Inilah bentuk penyesalan yang
dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan
waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang
yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan
bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala
dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu,
kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.
Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat
hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan dari Nabi
shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ :
عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ
فِيمَا عَلِمَ
“Pada hari kiamat nanti telapak kaki
manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya
tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan,
dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya
darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang
telah ia perbuat dari ilmunya.”
Demikian pula, hendaklah ia selalu mengingat hadits Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada seseorang :
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ :
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ
قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ
“Jagalah lima perkara
sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum
sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Al- Baihaqi)
Tidak diragukan lagi, sesungguhnya waktu luang itu dapat merusak
jiwa,
karena ia akan merusak potensi yang terpendam di dalam jiwa manusia.
Awal mula kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan waktu luang adalah
terbuangnya potensi yang dinamis secara sia-sia untuk mengisi waktu
luang. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan suatu
kebiasaan-kebiasaan yang berbahaya untuk mengisi waktu luang tersebut.
Ketika
Islam
melenyapkan kebiasaan jahiliyah, hari rayanya, hari besarnya dan
pandangan hidupnya, maka Islam tidak memberikan kesempatan kepada kaum
muslimin untuk bingung dalam mengisinya. Justru, islam telah
menggantikan mereka dengan hari raya dan hari besar lain yang dapat
menggantikan kedudukanya. Sebelumnya mereka berkumpul mengitari
hidangan-hidangan
minuman keras, judi dan mendengarkan musik-musik cabul. Kemudian, islam mengumpulkan mereka dalam kegiatan ibadah kepada Allah
ta’ala,
shalat berjamaah, dan hari raya-hari raya Islam.
Ini termasuk sarana yang berhasil dalam
mendidik jiwa manusia, terutama ketika jiwa manusia itu enggan untuk
diluruskan dari sesuatu yang disukainya. Dengan demikian, sarana yang
tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah dengan menciptakan kegiatan
baru untuk menggantikan kesukaanya yang lama itu.
Sesungguhnya, apabila seorang anak
memiliki waktu luang, maka akan masuklah kepadanya pikiran-pikiran
kotor, bisikan-bisikan yang menggoda dan khayalan-khayalan berpacaran
yang menggelora, sehingga ia tidak mendapati dalam dirinya selain adanya
gejolak syahwat dan naluri seksual di hadapan gelombang bisikan itu.
Dan saat itulah ia tidak mendapati jalan keluar, selain harus beranjak
kepada sesuatu yang
haram, untuk meringankan gejolak syahwatnya dan menekan pengaruhnya.
Dikutip dari : Shira’ ma’asy syahwat karya
Muhammad Shalih Al-Munajid
- See more at: http://dainusantara.com/nikmat-yang-terlupakan/#sthash.KcKjswiP.dpuf